Wacana tersebut kembali menjadi sorotan publik setelah lebih kurang dua tahun yang lalu telah 'ramai' diperbincangkan dan hasilnya memang tidak banyak 'sambutan positif' dari masyarakat.
Kebanggaan Yang Mana?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah dalam menyampaikan pemaparan, sosialisasi, wacana publik sangat bijak apabila dengan gamblang. Apa adanya. Serta kepentinganya untuk masyarakat luas. Kaitannya dengan nilai Rupiah itu sendiri. Bukan hanya, misalnya: 'Bargening Power' semata.
Misal: nilai Rp 1.000.000, wacana Redominasi mengatakan potong tiga angka nol dibelakang, berarti menjadi Rp 1.000.
Artinya, nilai menjadi Rp 1.000 . Apa sama dengan nilai Rp 1.000.000? Baik untuk nilai jual-beli komoditas? termasuk komositas tertentu.
Nilai tukar Rupiah bagaimana? Terpisah? Tentu tidak. Nilai tukar rupiah tetap berkaitan, berhubungan dengan nilai jual-beli Komoditas. Apabila wacana Redominasi bicara menyeluruh akan pertumbuhan serta kebutuhan masyarakat, sebijaknya secara realistis.
Indikator Ekonomi Yang Berhasil
Periode Pemerintahan saat ini. Di 'nilai' berhasil dalam memenuhi berbagai indikator ekonomi secara macro. Apakah demikian? Bagaimana bicara micro? secara menyeluruh NKRI.
Wacana Redominasi tersebut apakah, misalnya : memikirkan dampak terhadap dunia IT (Information Technology), transaksi perbankan itu sendiri,dan pertumbuhan kelas menengah kebawah? dimana transaksinya mungkin terbatas.
Terhadap nilai Komoditas itu sendiri, seperti contoh diatas tadi. Apabila terjadi Redominasi, apakah nilai Rp1.000 sama dengan nilai Rp 1.000.000?
Apabila teknis, mekanisme (sederhana) seperti 'perumpamaan' diatas maka tidak ada kerugian serta kebutuhan teramat sangat bagi masyarakat Indonesia. Karena nilai tetap. Hanya berubah angka 0(nol) dibelakang koma.
Hanya penyederhanaan 3(tiga) titik 0(nol) dibelakang koma, tanpa 'Menghilangkan' nilai apapun dari Rupiah itu sendiri. Untuk masyarakat. Bagaimana perubahan nilai tersebut di luar Indonesia?.
Kita pernah mengalami "Pemotongan" nilai Rupiah di era 1950-1960 an dan apa dampaknya bagi masyarakat? 'Hancur-hancuran'. 'Hancur-lebur'. Tidak ada nilai positif apapun bagi Bangsa ini pada masa tersebut.
Akan Bijak apabila yang menjadi tujuan adalah kebutuhan Masyarakat Indonesia. Bukan kepentingan golongan atau kepentingan sesaat. Sejarah mencatat.
Dampaknya bagaimana?
Apabila masyarakat NKRI secara positif telah merasakan dampak serta manfaatnya, maka itulah keberhasilan ekonomi, tidak hanya sebatas indikator. Jangan rugikan Masyarakat Indonesia.
Semoga Kita semua dalam berkah, lindungan Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa.
*Penulis adalah alumni Magister Hukum UNPAD Bandung
Yusuf Senopati Riyanto
yusuf_riyanto@yahoo.com
02170609225
(wwn/wwn)











































