Penerapan Syariat Islam, Bukti Meneladani Rasulullah

Penerapan Syariat Islam, Bukti Meneladani Rasulullah

Rismayanti Nurjannah - detikNews
Kamis, 24 Jan 2013 08:26 WIB
Penerapan Syariat Islam, Bukti Meneladani Rasulullah
Bandung - Tahun demi tahun, hari maulid Nabi saw senantiasa menyapa kita. Namun, sayangnya hanya diperingati sebatas seremonial semata tanpa adanya keberpengaruhan dalam kehidupan kita, khususnya rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah muslim.

Banyak kalangan yang menyatakan dirinya mencintai bahkan mengagungkan Rasulullah. Akan tetapi ketika diminta bukti rilnya, rupanya itu hanya sebatas ucapan tak bermakna.

Ironis, kehidupan kaum muslim saat ini memang sangat berbanding terbalik dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Realitas di atas sangat mudah kita temukan di lapangan, mungkin realitas di atas menimpa sebagian orang. Lantas dengan sebagian orang lainnya? Sebagian kalangan yang menyatakan diri bahwa mereka mencintai dan mengagungkan Rasulullah saw tampak benar adanya.

Sayangnya, mereka membatasi peneladanan mereka kepada Rasulullah saw hanya terbatas pada tatanan akhlak semata, hanya pada aspek pribadi Rasulullahnya saja, tanpa meneladani apa yang kemudian Rasulullah contohkan sebagai kepala negara.

Artinya, mereka meneladani Rasulullah hanya setengah-setengah, tidak totalitas. Inilah potret kaum muslim saat ini ketika hidup di sistem sekulerisme-kapitalisme.

Cara pandang kaum muslim dalam meneladani Rasulullah pun sampai mengikuti cara pandang sekulerisme. Ya, peneladanan cukup pada aspek pribadi saja. Islam cukup diemban individu saja, tidak pada akhirnya diterapkan pada tatanan negara.

Bukankah cinta seseorang akan dipertanyakan ketika ia menafikkan apa yang diperintahkan oleh orang yang dikasihinya? Begitupun dengan kondisi saat ini. Keimanan seseorang akan dipertanyakan, ketika ia enggan untuk menerapkan sistem Islam dalam tatanan negara.

Realitasnya, Rasulullah saw. pun tidak hanya menerapkan Islam dalam tatanan individu saja, melainkan di tengah masyarakat hingga pada tatanan negara. Dengan demikian, ketika diri ini mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya kenapa kita masih enggan untuk mengikuti Rasulullah secara menyeluruh?

Sebagai bukti nyata bahwa kita mencintai Allah dan Rasul-Nya tentu kita harus mengambil apa yang Rasul perintahkan, yakni menerapkan Islam secara kaaffah (menyeluruh) dalam kehidupan.

Termasuk dalam tatanan negara dan ini saatnya kita membuang jauh-jauh sistem sekulerisme-kapitalisme yang telah menjauhkan kita dari kehidupan yang seharusnya kita jalankan, yaitu kehidupan di bawah naungan sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah.

*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia dan Aktivis Famous (Forum Aktivis Mahasiswi Regional Kampus) Bandung


Rismayanti Nurjannah
Jl. Geger Kalong, Bandung
rismayantinurjannah@yahoo.co.id
082115632175

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads