Ibu Kota Pemerintahan Indonesia Harus Segera Dipindah

Ibu Kota Pemerintahan Indonesia Harus Segera Dipindah

Mas Miko - detikNews
Jumat, 18 Jan 2013 21:38 WIB
Ibu Kota Pemerintahan Indonesia Harus Segera Dipindah
Jakarta - Bencana Banjir Jakarta, tradisi lima tahunan telah menjadi agenda resmi masyarakat IbuKota Negara Republik Indonesia tercinta ini, sejak tahun 1996, 2002, 2007, 2013 sekarang.

Siklus 5 tahunan ini yang terjadwal teratur layaknya Pemilihan Umum (Pemilu) baik Capres, maupun Caleg, memang bencana alam pun juga mengikuti jadwal demokrasi.

Jaman kepemimpinan Persiden pertama Ir Soekarno, pernah merencanakan memindah Ibu Kota Pemerintahan ke Palangkaraya Kalimantan Tengah, dengan memisahkan antara urusan Pengendalian Pemerintahan dan kenegaraan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sistem ini banyak diterapkan pada Negara lain seperti Jepang, ibu kota negara adalah Tokyo, ibukota Pemerintahan berada di Kyoto, Malyasia Ibukota Negara berada di Kuala Lumpur, sementara Ibukota pemerintahan berada di Penang.

Amerika Serikat, Ibukota Negara berada di New York, sementara Ibukota Pemerintahan berada di Wosington DC. Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia.

Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa.

Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia/Batauia, atau Jaccatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km2 (lautan: 6.977,5 km2), dengan penduduk berjumlah 9.607.787 jiwa (2010). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.

Dari proyeksi di atas menggambarkan penggunaan lahan parker dan garasi memakan tempat, dengan demikian luas wilayah Jakarta menjadi sempit ruang fasilitas umum (fasum) banyak digunakan untuk bangunan atau tempat tinggal, bantaran sungai dan tanah-tanah Negara banyak didirikan bangunan liar.

Maka yang terjadi gesekan atau perseteruan aparat penegak hokum dan masyarakat, hal ini sangat memnggangu lancarnya pembangunan, serta image Jakarta sebagai Ibu Kota Negara sangat kumuh di mata orang-orang asing yang berkunjung di Jakarta.

Menurut data stastistik Propinsi DKI Jakarta bahwa Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di DKI Jakarta pada bulan September 2012 sebesar 366,77 ribu (3,70 persen).

Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2012 yang berjumlah 363,20 ribu (3,69 persen), berarti jumlah penduduk miskin naik sebesar 3,57 ribu atau meningkat 0,01 poin.

Garis Kemiskinan (GK) bulan September tahun 2012 sebesar Rp 392.571 per kapita per bulan, lebih tinggi dibanding GK bulan Maret tahun 2012 yang sebesar Rp 379.052 per kapita per bulan atau meningkat 3,57 persen.

Banyaknya Penduduk Berdasarkan Hasil Registrasi Menurut Wilayah di Provinsi DKI Jakarta 30 Juni 2011 untuk data tahun 2010 adalah 8.524.152 jiwa.

Dengan perincian Jakarta pusat 921.563, Jakarta selatan, 1.894.236 jiwa Jakarta Timur 2.629.369 jiwa, Jakarta Utara 1.422.311 Jakarat Barat, 1.634.733, Kepulauan Seribu 21.940 jiwa, (sumber Dinas Kependudukan Provinsi DKI Jakarta 2011)

Banyaknya Penduduk 15 Tahun keatas yang Bekerja Menurut Wilayah di Provinsi DKI Jakarta 27 Mei 2011, Penduduk, Migrasi dan Tenaga Kerja, jumlah populasi Propinsi DKI Jakarta adalah pada tahun 2008 4.191.966 jiwa.

Pada tahun 2009 adalah 4.118.390 jiwa menginjak tahun 2010 berjumlah 4.689.761,jiwa untuk tahun 2011 sebesar 4.588.418,jiwa dari tahun 2008 sampai tahun 2010, yang populasinya padat adalah Jakarta timur, tingginya angka tersebut, diperngaruhi adanya lapangan kerja berada di wilayah Jakarta Timur, mayoritas adalah pabrik-pabrik di wilayah Pulogadung, Cakung.

Banyaknya Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Mencari Pekerjaan Menurut Wilayah di Provinsi DKI Jakarta.

Jumlah pencari kerja penduduk umur 15 tahun ke atas di propindi DKI Jakarta tercatat tahun 2008 berjumlah 580.511 jiwa untuk tahun 2009 adalah,569.337 jiwa dan tahun 2010 sebesar,582.843 jiwa serta tahun 2011 adalah 359.855 jiwa.

Peta Sebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Propinsi DKI Jakarta Hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010.

Kepadatan jumlah Penduduk menurut sensus 2000, sebaran jenis kelamin adanya keseimbangan antara jenis kelamin laki-laki dan wanita, kepadatan penduduk adalah 1933.3 jiwa per kilo meter.

Perincian kepadatan penduduk berkelamin laki-laki adalah 6509 jiwa per kilo meter dan wanita adalah 6241 jiwa per kilo meter, ini menunjukan bahwa jumlah laki2 dan wanita di DKI Jakarta.

Apabila besaran angka tersebut didominasi oleh laki-laki dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu rata-rata penduduk Jakarta adalah pendatang yang bertujuan bekerja dan itubanyak dilakukan oleh kaum laki-laki, sementara keluarganya ada di luar Jakarta.

Menurut data dari Sumber: Hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010), BPS , Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rumahtangga Provinsi DKI Jakarta Sampai Level Kelurahan (Hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010) (catatan: dapat menampilkan penduduk per kelompok umur, piramida penduduk dan dapat diurutkan - lihat petunjuk penggunaan).

Total pembagian penduduk DKI Jakarta untuk laki-laki adalah 4,869,203 jiwa , sementara wanita adalah 4,735,126 jiwa jumalh keseluruhan adalah 9,604,329 jiwa, perbandingan sex rasio adalah 102.83, jumlah rumah tangga sebesar 2,508,869 Jiwa.

Sarana Transportasi

Mencermati perkembangan populasi Jakarta, saat ini sudah tidak proporsional, antara luas wilayah, dan jumlah penduduk, dampak ini berakibat pada perkembangan pembangunan, seperti transportasi tidak seimbang antara luas ruas jalan dengan jumlah kendaraan.

Menurut data Pemda DKI Jakarta, tahun 2012, pertambahan seperda motor 900 unit perhari, mobil pertambahan 250 unit perhari.

Bila dihitungan adalah populasi kendaraan bermotor di Jakarta Mobil 250 unit x 30 hari = 7.500 unit, sementara sepeda motor 900 x 30 hari = 27.000 unit total populasi keseluruhan adalah 7,500 + 27.000 = 34.500 unit (tiga puluh empat ribu lima ratus) unit perbulan, angka yang sangat fantastis bagi pertumbuhan produk.

Peta jalur Transjakarta

Ibu Kota DKI Jakarta, banyak tersedia jaringan jalan raya dan jalan tol yang melayani seluruh kota, namun perkembangan jumlah mobil dengan jumlah jalan sangatlah timpang (5-10% dengan 4-5%).

Sumber data dari Dinas Perhubungan DKI, tercatat 46 kawasan dengan 100 titik simpang rawan macet di Jakarta. Definisi rawan macet adalah arus tidak stabil, kecepatan rendah serta antrean panjang.

Selain oleh warga Jakarta, kemacetan juga diperparah oleh para pelaju dari kota-kota di sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor yang bekerja di Jakarta. Untuk di dalam kota, kemacetan dapat dilihat di Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan Rasuna Said, Jalan Satrio, dan Jalan Gatot Subroto.

Kemacetan sering terjadi pada pagi dan sore hari, yakni di saat jam pergi dan pulang kantor. Untuk melayani mobilitas penduduk Jakarta, pemerintah menyediakan sarana bus PPD. Selain itu terdapat pula bus kota yang dikelola oleh pihak swasta, seperti Mayasari Bhakti, Metro Mini, Kopaja, dan Bianglala.

Bus-bus ini melayani rute yang menghubungkan terminal-terminal dalam kota, antara lain Pulogadung, Kampung Rambutan, Blok M, Kalideres, Grogol, Tanjung Priok, Lebak Bulus, Rawamangun, dan Kampung Melayu.

Untuk angkutan lingkungan, terdapat angkutan kota seperti Mikrolet dan KWK, dengan rute dari terminal ke lingkungan sekitar terminal.

Selain itu ada pula ojek, bajaj, dan bemo untuk angkutan jarak pendek. Tidak seperti wilayah lainnya di Jakarta yang menggunakan sepeda motor, di kawasan Tanjung Priok dan Jakarta Kota, pengendara ojek menggunakan sepeda ontel.

Angkutan becak masih banyak dijumpai di wilayah pinggiran Jakarta seperti di Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Transjakarta Bus (Busway)

Pada tahun 2004, Pemerintah Daerah DKI Jakarta telah memwujudkan layanan transportasi umum yang dikenal dengan TransJakarta. Pelayanan ini menggunakan saran bus AC dan shelter yang berada di jalur khusus. Saat ini ada sebelas koridor Transjakarta yang telah beroperasi, yaitu:

Jalur busway disebut koridor terbagi Koridor 1 Blok M-Stasiun Kota, Koridor 2 Pulogadung-Harmoni, Koridor 3 Kalideres-Harmoni,Koridor 4 Pulogadung-Dukuh Atas, Koridor 5 Kampung Melayu-Ancol, Koridor 6 Ragunan-Dukuh Atas, Koridor 7 Kampung Rambutan-Kampung Melayu, Koridor 8 Lebak Bulus-Harmoni,Koridor 9 Pinang Ranti-Pluit,Koridor 10 Cililitan-Tanjung Priok, Koridor 11 Kampung Melayu-Pulo Gebang.

Pembagian Wilayah Jakarta

Jakarta pusat ditempati kantor Pemerintahan dari kepresidenan, kementerian, kantor kedutaan, bank, saran ibadah, Jakarta selatan, banyak berdiri hotel, mal, perkantoran swasta, apartemen, real estate, kampus.

Sementara Jakarta Timur banyak berdiri, pabrik, perumahan kelas, menengah ke bawah, Jakarta Utara, pelabuhan, pabrik, real estate, perumahan umum milik rakyat, Jakarta, banyak berdiri mal, apartemen, pabrik dan stasiun televised kepulauan seribu banyak bermukim masyarakat agraris, nelayan dan jasa wisata.

Banjir

Melihat kondisi saat ini, keseimbangan antara populasi penduduk dan luas wilayah yang tidak seimbang, cenderung menimbulkan dampak sosial dan alam, Pembangunan tanpa kendali di wilayah hilir, penyimpangan peruntukan lahan kota, dan penurunan tanah akibat eksploitasi air oleh industri, menyebabkan turunnya kapasitas penyaluran air sistem sungai, yang menyebabkan terjadinya banjir besar di Jakarta.

Tata ruang kota yang sering berubah-ubah, menyebabkan polusi udara dan banjir sulit dikendalikan. Walaupun pemerintah telah menetapkan wilayah selatan Jakarta sebagai daerah resapan air, namun ketentuan tersebut sering dilanggar dengan terus dibangunnya perumahan serta pusat bisnis baru.

Beberapa wilayah yang diperuntukkan untuk pemukiman, banyak yang beralih fungsi menjadi tempat komersial.

Untuk memperbaiki keadaan, Jakarta membangun dua banjir kanal, yaitu Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Banjir Kanal Timur mengalihkan air dari kali Cipinang ke arah timur, melalui daerah Pondok Bambu, Pondok Kopi, Cakung, sampai Cilincing.

Sedangkan Banjir Kanal Barat yang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda, mengaliri air melalui Karet, Tanahabang, sampai Angke. Selain itu Jakarta juga memiliki dua drainase, yaitu Cakung Drain dan Cengkareng Drain.

Ibukota Pemerintahan Harus dipindahkan

Menganalisa dan mencermati uraian di atas tentang Jakarta maka sesuai kondisi saat ini maka Ibukota Jakarta selazimnya harus di pindahkan ke lokasi yang masih jarang kepadatan penduduknya.

Jaman presiden Soeharto Ibukota Pemerintahan akan dipindah ke Jonggol kabupaten Bogor, sebenarnya tanah telah disiapkan, namun Indonesia keburu terlanda krisis ekonomi yang berujung penjatuhan Pemerintahan Orde baru.

Untuk saat ini pemindahan Ibukota memang bukan sebagai wacana, karena prediksi para ahli tahun 2015 Jakarta macet total, alasan obyek adalah,

  1. Laju pertambahan penduduk tidak dicegah dan
  2. Urbanisasi tidak terkontrol,
  3. Sementara penataan kota yang semerawut akan memperparah Jakarta sebagai kota teramburadul di dunia,
  4. Alasan pemindahan adalah seringnya jakarat terlanda banjir kiriman dari Bogor yang menjadi agenda
  5. tetap lima tahunan,
  6. Jumlah penduduk yang semakin padat
  7. kesenjangan sosial yang semakin tinggi
  8. Pemerataan tidak seombang antara Jakarta denga wilayah lain.
  9. Menurunya kualitas Sumber Daya Alam, khususnya air, dan tanaman keras, dan bergersernya lapisan tanah menjdi ambles ke bawah. di jakarta

Maka Pemerintah Pusat harus segra memutus hal tersebut agar pemerataan dan peforment Ibu Kota Negara, dan tidak menimbulkan efek fatal dalam kehidupan di masyarakat.

Maka dari itu peristiwa banjir tahun 2013 ini dapat menjadi renungan Pemerintah segera memutuskan.

*Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Masyarakat (LKPM)


Mas Miko
Jl Anggrek Garuda, Jakarta Barat
miko.corporation@gmail.com
082112060787

(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads