Mereka menyiapkan segala sesuatu, dengan berbagai macam pesta untuk menyambut tahun baru. Apabila waktunya telah tiba, mereka bergembira dan dengan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api.
Pawai sepeda motor pun dimulai dengan menarik gas sepenuhnya disertai yel-yel yang memekakkan telinga. Mereka pun menghadiri panggung-panggung hiburan konser musik yang digelar di berbagai tempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai seorang muslim, kita harus tahu terlebih dahulu makna dibalik perayaan tahun baru masehi ini dan hukum ketika ikut merayakannya. Perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam.
Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Dan hukum ikut merayakan perayaan tahun baru masehi bagi orang muslim adalah haram, hal ini berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50).
Selain itu hura-hura di malam tahun baru menjadi cerminan bahwa kapitalisme semakin berhasil dihembuskan kepada kaum muslim.
Kapitalisme mengutamakan kepentingan kapital, di mana ada dorongan kuat untuk digelar acara-acara hedonis dan hura-hura. Di balik acara tahun baru ada kepentingan bisnis, mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya.
Perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum untuk mengevaluasi diri, karena seharusnya kita sebagai kaum muslim lebih baik memikirkan nasib umat Islam yang kian terpuruk.
Perlu diketahui bahwa kaum muslim saat ini sedang berada dalam jajahan kapitalisme yang senantiasa menyibukkan kaum muslim dengan gemerlapnya dunia.
Seharusnya sebagai kaum muslim kita ikut memperjuangkan kembalinya penegakan Islam, serta tidak perlu untuk ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi yang digelimangi dengan aktivitas penuh dosa.
Saatnyalah kita sadar dan kembali kepada jalan yang benar yaitu berpegang teguh kepada Islam. Karena Islamlah yang bisa menjaga aqidah (kepercayaan).
*Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia
Mei Indah Sari
Jl GegerSuni, Bandung
moy_physic@yahoo.com
085720857762
(wwn/wwn)











































