Perempuan Oh.... Perempuan

Perempuan Oh.... Perempuan

- detikNews
Minggu, 23 Des 2012 21:36 WIB
Perempuan Oh.... Perempuan
Surabaya - Maksud hati ingin mencari penghidupan yang bisa membawa kesejahteraan keluarga, namun sungguh malang bukan kesejahteraan yang diperoleh tetapi kesengsaraan.

Kita masih ingat kisah sedih Anni Hamidah yang berjuang hanya untuk sesuap nasi. Anni Hamidah, seorang pekerja rumah tangga dari Surabaya yang tiba di Hong Kong pada tahun 2010.

Semula dia mengira akan bekerja untuk satu keluarga, tetapi ternyata ia harus bekerja untuk tiga keluarga. Kepada Voaindonesia, Anni meyakini apa yang terjadi dengan para perempuan Indonesia di Hong Kong adalah perdagangan manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka bekerja tanpa dibayar dan paspor mereka ditahan. Lagi-lagi alasan rendahnya kualitas pendidikan, keterampilan dan kemampuan komunikasi, menjadi penyebab utama penistaan terhadap pekerja migran perempuan.

Keadaan di dalam negri pun tak kalah parahnya, Di Majalaya, Ciparay, Kabupaten Bandung, beberapa pabrik menerapkan aturan perusahaan di bawah standar kemanusiaan.

Karyawan baru harus melalui masa percobaan selama 3 bulan sampai 1 tahun dengan sistem non-sift. Mereka bekerja sekitar 8-9 jam/hari dengan bayaran sekitar Rp. 600 ribuan, padahal UMR daerah Bandung pada tahun 2012 berada pada kisaran Rp 1.2 juta/bulan.

Janji untuk direkrut menjadi karyawan tetap tidak selalu dipenuhi. Faktanya ada pekerja yang melewati masa percobaan hingga 7 tahun. Bahkan mereka mendapat potongan gaji sampai Rp 100.000/hari jika tidak masuk kerja dengan alasan apapun!

Inilah sepenggal kisah cerita nasib para pekerja wanita baik bekerja di luar negri maupun dalam negri, mereka masih jauh dari kata kesejahteraan.

Bahkan mereka harus menderita dua kali lipat. Dan inilah bukti kegagalan pemerintah mengurusi rakyat. Berlindung kepada Komisi perlindungan perempuan? Ternyata tidaklah mensejahterahkan bahkan malah semakin mencengkramnya eksploitasi perempuan itu sendiri.

Kegagalan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan finansial rakyatnya memang berbuah mahal. Tak hanya diperbudak, martabat kaum perempuan yang terpaksa meninggalkan anak-suami-orang tua di kampung halaman, ikut terenggut melalui aksi kekerasan dan pelecehan.

Sungguh, demi memenuhi kebutuhan hidup, nyawa pun kadang-kadang menjadi tumbalnya. Apalagi problem kemiskinan yang terjadi di dunia saat ini adalah buah dari penerapan sistem Kapitalis yang membebaskan pihak kuat "penguasa dan pengusaha" untuk menghisap habis SDA.

Siapapun yang peduli terhadap keberlangsungan suatu bangsa, jelas akan menjaga kaum perempuan, tidak menindas, membebani, apalagi mengeksploitasinya sekali pun dengan alasan pemberdayaan perempuan.

slam melalui negara Khilafah akan melindungi kaum perempuan, termasuk memastikan kebutuhan finansialnya tanpa harus mengalami dilema antara kerja dan mengurus anak.

Karena, pasti Khilafah memberantas kemiskinan dan menjamin kesejahteraan semua rakyat.

*Penulis adalah Mahasiswi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Aktivis Unit Kegiatan Kerohaniaan Islam UNIPA, Aktivis FORKADA Surabaya Forum Aktivis Kampus Untuk Peradaban


Rizky Rachmawati
Jl Jemur Ngawinan, Surabaya
semangatrizky@gmail.com
085852652523

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads