Bung Jokowi dan Bung Ahok

Bung Jokowi dan Bung Ahok

Ichdinas Shirotol Mustaqim - detikNews
Senin, 15 Okt 2012 11:26 WIB
Bung Jokowi dan Bung Ahok
Jakarta - Yang Terhormat,
Bung Jokowi dan Bung Ahok,

Sebelumnya saya ceritakan sedikit sebagai prolog, mengapa saya panggil Anda berdua dengan sebutan demikian. Dulu bangsa ini memiliki sederet nama seperti: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahril, dan Bung-Bung lainnya, yang tidak mungkin saya sebut satu-persatu di sini.

Mereka para pejuang yang memiliki beragam karakter, ide dan gagasannya sendiri-sendiri. Namun demikian cita-cita mereka tetap satu; berjuang memerdekakan rakyat dari imperialisme; berdirinya Negara Republik Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengingat bahwa kata (Bung) itu pernah mengiringi penjalanan panjang pergerakan kemerdekaan kita. Karenanya saya menyebut Anda berdua dengan, Bung.

Yang Terhormat,
Bung Jokowi dan Bung Ahok,

Dalam kesempatan ini, saya tidak hendak berpanjang lebar membicarakan sederet nama-nama di atas, hanya sekedar mengenang seberapa panjang derita mereka berjuang demi sebuah cita-cita merdeka. Lebih dari itu. Sebab saya berharap Bung berdua dapat hidup menjelma menjadi pemimpin rakyat seperti mereka: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahril, dan Bung-Bung lainnya.

Yang berani hidup menderita bersama rakyatnya. Menjadi teladan bagi petani, nelayan, buruh, pedagang asongan, atau lain sebagainya. Mereka yang berjuang tidak untuk perut dan kemewahan keluarganya. Mereka yang berani lapar, rela miskin, berkesusahan dan menderita untuk sebuah mimpi: kemerdekaan.

Mereka orang-orang terdidik yang dengan sepenuh hati, pikiran, dan tenaganya berjuang mendidik rakyatnya. Tidak dengan slogan atau kata-kata belaka seperti kebanyakan para pemimpin di negeri ini.

Karenanya sudah sepantasnyalah Bung berdua meneladani mereka, agar kelak Bung berdua dapat menjelma menjadi teladan yang baru. Dan rakyat bisa merasakan bagaimana tulusnya perjuangan Bung-Bung masa lalu itu.

Yang Terhormat,
Bung Jokowi dan Bung Ahok,

Pada 20 September 2012 lalu, rakyat Jakarta telah menitipkan sebagian mandatnya untuk Bung berdua. Dan hari ini (15/10/2012), Bung berdua dilantik sebagai kepala daerah di Ibu Kota Negara Republik Indonesia di mana Kebhinekaan sudah hidup sejak lama (Jaman Kolonialisme Belanda). Tempat di mana para pejuang kemerdekaan berkumpul, menjadikannya pusat "publikasi" pergerakan.

Fakta hari ini kita sudah merdeka dan terbebas dari imperialisme. Namun mewujudkan cita-cita kemerdekaan itu tidak pernah berhenti sampai akhir jaman. Sebagaimana, Bung Hatta katakan, "Merdeka dan Hidup Merdeka". Karena itu hendaklah Bung berdua sebagai pemimpin, dengan berjuang dan berani hidup menderita bersama rakyat.

Kemiskinan, kesehatan, banjir dan kemacetan, adalah secuil, dari segunung masalah pelik yang tak kunjung selesai di Jakarta. Dan mungkin tak akan selesai sampai masa kepemimpinan Bung berdua berakhir kelak. Sebab masalah itu, sejatinya adalah penyeimbang kehidupan yang akan selalu ada.

Guru dari kehidupan. Dan saya juga menyadarinya, bahwa semua perlu waktu dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Karenanya saya tidak berhayal dengan terpilihnya Bung berdua, Bung dapat dengan mudah menyelesaikan segala persoalan.

Dengan tidak menghambur-hamburkan uang rakyat se-enaknya saja, saya juga cukup senang. Apalagi kalau ditambah, Bung berdua mampu mendidik birokrasi yang memiliki kebiasaan pungli APBD, bertele-tele melayani masyarakat, masuk kerja setoran jari, lalu kabur lagi dan baru kembali hingga menjelang sore hari, saya akan tambah senang, pastinya.

Apalagi Bung berdua mampu menyelesaikan persoalan yang lainnya, sebagaimana janji Bung berdua pada saat kampanye. Jika tidak, tentunya rakyat akan menghukum Bung berdua dengan caranya.

Tapi saya optimis, dengan dilatarbelakangi kinerja Bung berdua sebelumnya, Bung berdua akan berupaya keras mengwujudkan harapan rakyat. Karenanya rakyat menunggu eksen Bung berdua.

Yang Terhormat,
Bung Jokowi dan Bung Ahok,

Belakangan setelah kemenangan Bung berdua, partai yang mengusung Bung berdua sibuk saling sindir, saling sikut, berebut populer. Itu sah-sah saja. Tapi Bung berdua tak perlu risaukan itu. Tak perlu terkecoh. Biarkan saja mereka berkutat dengan dialog masing-masing.

Sebab rakyat sudah cerdas. Saya pun memilih bukan karena korban kampanye partai politik. Dan saya yakin, bahwa sebagian besar pemilih Bung berdua, tidak kurang seperti saya: rakyat yang mencari teladannya. Rakyat yang menginginkan pemimpinnya ada di tengah-tengah kesusahan dan penderitaannya.

Sebab itu berjuanglah dengan hati tulus dan merdeka, seperti: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahril, atau Bung-Bung lainnya dulu. Jadilah teladan, yang menginpirasi rakyat, untuk membangun Jakarta. Mulailah dengan membangunkan kesadaran jiwa rakyat.

Percayalah, selanjutnya kita, rakyat Jakarta akan berjuang bersama-sama Bung berdua: Menwujudkan Jakarta yang lebih baik. Jadilah Bung berdua; Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahril, atau Bung-Bung masa lalu lainnya yang baru; ANAK IDIOLOGIS MEREKA!

*Penulis adalah Sekjen Komunitas Anak Muda Cinta Indonesia


Ichdinas Shirotol Mustaqim
Jl. Percetakan Negara V No. 2 DKI Jakarta
dinaz_zone@yahoo.co.id
085221051381, 08567190810

(wwn/wwn)


Berita Terkait