Pembangunan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi

Pembangunan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi

- detikNews
Jumat, 12 Okt 2012 11:22 WIB
Pembangunan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi
Jakarta - Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan pariwisata dan produk-produk kreatif, potensi besar ini sangat beralasan karena bangsa ini memiliki kekayaan alam dan budaya yang menurut data World Economic Forum berada pada peringkat 39 dari 139 negara.

Indonesia tercatat memiliki 300 suku dan etnis, 27 persen dari 237 juta penduduknya berusia produktif serta memiliki 17.100 pulau. Potensi yang cukup besar ini harusnya mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan pada Product Domestic Bruto (PDB).

Sebagai bahan kajian sementara, data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional pada tahun 2008 adalah 3,09 Persen meningkat menjadi 3,25 persen pada tahun 2009.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berubahnya Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjanjikan harapan baru bagi tumbuhnya pariwisata di satu sisi dengan produk-produk kreatif di sisi lain.

Belum adanya pedoman-pedoman baku terhadap sektor-sektor ekonomi kreatif menjadikan kementrian ini belum bisa memaksimalkan potensinya.

Sejak digabungnya pariwisata dan ekonomi kreatif memang secara nyata di lapangan belum ada upaya yang terpadu untuk membuat keduanya saling mendukung sehingga mampu menciptakan multipler effect bagi tumbuhnya sektor pariwisata dan produk kreatif.

Keterpaduan Program
Saat ini objek wisata yang ada di Indonesia masih sangat jarang yang didesign agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bisa maju bersama-sama dan tumbuh saling mendukung.

Dari sudut pandang manajemen pengelolaan, objek wisata berdiri sendiri dengan orang-orang yang menjual produk kreatif seperti cinderamata dan produk khas daerah setempat. Mengambil contoh objek wisata Pegunungan dan Pemandian Air Panas di Baturaden, Banyumas.

Dari sisi pengelolaan manajemen pariwisata dikelola oleh pemerintah daerah namun dari sisi pengelolaan produk ekonomi kreatif seperti penjualan cinderamata dilakukan oleh masyarakat setempat. Kelemahan utamanya adalah bahwa mereka yang jualan di objek wisata tersebut tidak diberikan tempat khusus oleh pengelola objek wisata tersebut.

Fenomena semacam ini juga terjadi di objek wisata lain, seperti Grand Canyon di Ciamis, Goa Lawa di Purbalingga, Pantai Petanahan di Kebumen dan hampir semua objek wisata berjalan seperti ini. Untuk memajukan pariwisata dan produk kreatif secara bersamaan perlu upaya untuk memadukan program pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi satu paket.

Artinya objek wisata harus bekerjasama dengan orang-orang yang terlibat dalam penjualan cinderamata di objek wisata tersebut. Bahkan bukan hanya itu, harus diupayakan bahwa cindaramata yang diperjual belikan di objek wisata tersebut harus ikut mendongkrak meningkatnya kunjungan wisatawan pada objek tersebut.

Bicara tentang pariwisata tidak terlepas dari budaya secara umum termasuk adat istiadat dan juga produk khas daerah. Oleh karenanya penjual cinderamata dan produk khas daerah pada salah satu objek wisata harusnya ikut menjual identitas objek wisata atau budaya daerah setempat.

Sangat penting pengaruhnya untuk memperhatikan para penjual produk-produk kreatif pada objek wisata tertentu mendapatkan pelatihan bagaimana cara menjual yang baik bahkan jika penjual pun hendaknya menonjolkan budaya setempat dengan penguasaan logat daerah yang mumpuni jika perlu menggunakan seragam objek wisata setempat atau pakaian khas daerah setempat.

Perhatian pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan untuk menaikkan kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif harus ditunjukkan dengan keterpaduan program semacam ini.

Keterpaduan program selanjutnya adalah persoalan menyatunya sektor-sektor ekonomi kreatif dengan objek wisata.

Saat ini pemerintah menggolongkan sektor ekonomi kreatif ke dalam 14 sektor antara lain: periklanan (advertising); arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain (design); pakaian (fashion); permaianan interaktif (game); music; seni pertunjukan; video, film dan fotografi; penerbitan dan percetakan; layanan computer dan piranti lunak (software); televisi dan radio serta riset dan pengembangan. Objek wisata yang memiliki wahana wisata yang terpadu dengan 14 sektor tersebut akan sangat membantu pengambangan industri kreatif.

Banyak objek wisata di tanah air belum memadukan antara wahana wisata dengan 14 sektor ekonomi kreatif yang mungkin bisa dilakukan di objek tersebut.

Pada satu objek wisata tentunya bisa dipakai untuk media periklanan, menampilkan produk arsitekur rumah daerah, membangun pasar seni dan kerajinan, menampilkan fashion khas daerah, membuat video-video dokumenter, menampilkan seni music dan pertunjukan khas daerah dan menunjang sektor yang mungkin ada di objek wisata tersebut.

Koperasi sebagai alternatif solusi

Koperasi sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki satu tujuan untuk meningkatkan skala ekonomi menjadi pilihan menarik untuk dijadikan media pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan pembantukan koperasi orang-orang yang ada dalam ruang lingkup objek wisata tersebut akan berusaha bersama-sama untuk saling menolong dirinya.

Pengelola objek wisata akan bersatu bersama-sama pedagang dan semua komponen yang terlibat di objek wisata tersebut membuat diri mereka sejehtera bersama-sama. Di sinilah peran pemerintah harus turun tangan untuk memberikan fasilitas yang memadai pada sarana jualan atau etalase produk bagi mereka.

Penulis selalu membayangkan pada saat datang ke satu objek wisata tertentu menjumpai wahana-wahana yang tertata apik didukung oleh adanya tempat nyaman untuk membeli cinderamata dan produk khas daerah dalam ruangan yang baik dengan penataan yang bersih.

Sosialisasi pengelola objek wisata kepada orang-orang yang mencari nafkah pada objek wisata itu akan lebih mudah jika dilakukan melalui koperasi yang dibentuk.

Pembentukan koperasi yang melibatkan semua stakeholder yang ada di objek wisata itu menjadi sangat penting peranannya bagi kemajuan industri pariwisata dan ekomomi kreatif.

Satu kata kuncinya dengan pembentukan koperasi diharapkan mereka yang ada di objek tersebut mampu meningkatkan harkat ekonominya, menciptakan citra daerah, menciptakan kesan marketing di benak pengunjung dan tentunya menjadi bola salju bagi pengembangan pariwisata dan produk kreatif secara bersama-sama.

*Penulis adalah Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) dan Manajer Koperasi Mahkamah Konstitusi RI


Larto
Koperasi Pemuda Indonesia Jl Lapangan Roos, Jakarta Selatan
larto1275@yahoo.co.id
085 724 690 690


(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads