Belum lagi kasus narkoba, freesex, bahkan aborsi. Mirisnya, pelaku kasus-kasus tersebut adalah remaja-remaja berseragam. Remaja ini sudah dipastikan menerima berbagai pendidikan setiap harinya. Namun, mengapa output yang dihasilkan jauh dari bayangan?
Kita tidak bisa menyalahkan individu remaja. Bagaimanapun, remaja-remaja tersebut adalah output dari sebuah sistem bernama pendidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlu adanya sinkronisasi antara pendidikan sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Rumah sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) adalah pemberi imun pertama bagi anak. Disinilah peran termulia ibu sebagai pendidik pertama dan utama generasi penerus.
Sekolah adalah wadah penanaman kepribadian dan penambahan pemahaman mengenai petunjuk memilih yang benar dan salah.
Peran sekolah yang sangat vital akan bergantung pada konsep Negara-sebagai stake holder negri- mengenai pendidikan. Konsep mengenai pendidikan tidak boleh berasaskan materialisme, sekolah tinggi untuk gaji tinggi.
Masyarakat pun harus memberikan teladan. Tidak sinkron jika sudah dididik saleh di rumah dan sekolah tiba-tiba anak harus mendapatkan perilaku tercela dari masyarakat. Misalnya, pakaian-pakaian minim yang mempertontonkan aurat.
Maka untuk menyeimbangkan ketiga aspek ini harus ada yang mengatur yaitu Negara. Tentu Negara akan mengatur dengan baik dengan sistem yang baik pula. Sistem Islamlah sistem sempurna yang akan mewujudkan generasi saleh sekaligus cerdas.
*Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan Indonesia
Sabila Islamina Asy-syahidah
Jl. Gegerkalong Girang, Bandung
i_luv_reris@yahoo.co.id
085624591278
(wwn/wwn)











































