Pendidikan Bukan Penjajah

Pendidikan Bukan Penjajah

- detikNews
Jumat, 27 Jul 2012 11:21 WIB
Pendidikan Bukan Penjajah
Jakarta - Indonesia bebas buta huruf mungkin akan menjadi sebuah selogan yang akan tinggal sejarah tanpa tahu kapan akan terwujudnya.

Saat ini, mendengar sekolah saja masyarakat sudah merinding, bagaimana tidak, untuk melangkah masuk ke gerbang sekolah itu saja sudah berderet pengumuman yang membuat masyarakat menengah kebawah menjerit.

Berbagai macam pungutan yang katanya untuk meningkatkan pelayanan dalam proses belajar-mengajar yang diharapkan pemerintah untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa" bisa terwujud.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, fakta yang ada banyak sekolah yang belum mampu memberikan pendidikan yang "berkualiatas" terhadap anak didiknya, yang ada memberikan pelajaran dengan "sedikit" yang apabila siswa-siswi nya ingin mendapat cara penyelesaian yang lebih baik dan cepat, siswa-siswi diharuskan mengikuti bimbingan belajar di tempat lain. Kalau seperti itu dimana letak peningkatan pelayanan dalam proses belajar-mengajarnya tadi.

Itulah Negaraku Indonesia tercinta, banyak angannya tapi untuk menciptakan semua angan-angan semu itu harus memberatkan rakyat jelata. Pemerintah selalu mengklaim telah mengeluarkan banyak kebijakan-kebijakan dan beasiswa yang dapat meringankan biaya sekolah warga tidak mampu.

Tetapi, beasiswa yang dicanangkan itupun banyak yang tidak tepat sasaran, dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan itu belum bahkan tidak terasa oleh masyarakat menengah ke bawah.

Tak jauh beda dengan Kota- Kota lain di Indonesia. Kota Bengkulu sebagai Ibu kota Provinsi Bengkulu pun dengan giat mencanangkan "Wajib Belajar Sembilan Tahun", dan juga mengeluarkan selogan "Bengkulu Kota Pelajar".

Kota Bengkulu sudah menetapkan beberapa sekolah menjadi Sekolah Bertaraf Internasional. Dan di tahun ajaran baru kemarin penerimaan siswa baru sudah melalui system online, tentu saja ini sebuah kemajuan yang baik.

Dibalik semua itu banyak anak-anak yang usia sekolah harus menguburkan harapan dan impian mereka untuk melanjutkan pendidikan mereka kejenjang yang lebih tinggi. Masalahnya nilai ujian negara mereka tidak mencukupi untuk masuk ke Sekolah Negeri yang biayanya lebih murah jika dibandingkan dengan Sekolah Swasta katanya.

Seperti Budi, anak ini hampir saja tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke SMP. Untuk uang masuk orangtuanya harus meminjam uang ke tetangga kiri dan kanan. Budi berhasil masuk disebuah sekolah Negeri di Kota Bengkulu, uang masuknya satu juta lebih.

Uang sebanyak itu untuk membayar uang daftar ulang, uang bangku, uang seragam tiga macam, uang untuk membuat taman, dan banyak lagi macam ragamnya. Tentu saja uang sebanyak itu bukanlah uang yang mudah didapat oleh kedua orang tuanya.

Ayahnya bekerja sebagai buruh Toko Bangunan, dan Ibunya membantu menjadi tukang cuci dirumah tetangganya, sedangkan Budi sendiri membantu kedua orangtuanya menjadi tukang semir sepatu yang setiap habis sekolah atau dihari libur 'mangkal' di Masjid Raya Baitul Izzah Kota Bengkulu.

Dari apa yang budi alami saja slogan Wajib Belajar Sembilan Tahun itu tidak pernah mengena. Karena kata "wajib" itu seharusnya dibarengi dengan beberapa kemudahan, bahkan harusnya benar-benar gratis. Tidak ada pungutan-pungutan liar yang tidak banyak manfaatnya.

Lagipula apakah mau menyekolahkan seorang anak, orangtua harus membeli bangku sekolah dulu? Apakah setiap tahun sekolah membuat taman? Banyak lagi hal yang tidak masuk akal. Kenapa juga untuk sekolah harus membuat berbagai macam seragam? Apakah seragam mencerminkan sekolah itu sukses mendidik putra-purti terbaik bangsa ini?

Lalu kenapa banyak anak-anak yang tidak bisa masuk sekolah favorit karena nilai ujian nasional mereka rendah, dimana letak kenyamanan dan kesuksesan sekolah tersebut? Setelah membuat tarif masuk yang sangat mahal, bahkan lebih mahal jika dibandingkan Sekolah Swasta.

Berbeda dengan Budi, Yuda yang tahun ini masuk SMU harus benar-benar mengurungkan niatnya. Walaupun namanya sudah masuk dalam daftar siswa yang diterima di SMU ter-favorit Negeri kota Bengkulu ini, orangtuanya tidak mampu membayar uang pendaftarannya yang mencapai lima juta-an.

Malahan sekarang masuk sekolah sama dengan masuk sebuah restoran, jika ingin mendapat porsi lebih kita harus membayar lebih. Begitu juga sekolah jika ingin yang favorit kita pun harus bayar lebih. Yuda akhirnya memilih membantu orangtuanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Itulah sebagian potret batapa mahalnya untuk mengenyam bangku pendidikan di Indonesia. Jika kita bercermin pada jaman penjajahan mungkin masa itu sekarang telah didaur ulang, yang bisa bersekolah hanya orang-orang yang punya uang lebih saja, sedangkan untuk orang-orang yang serba berkecukupan dan kekurangan sekolah bukanlah sebuah harapan dan cita-cita lagi.

Yang berbeda antara jaman penjajahan dengan jaman sekarang adalah kalau dulu yang menjajah kita adalah bangsa asing yang tidak ingin melihat putra-putri terbaik Indonesia menjadi pintar dan akhirnya memberontak dan melawan bangsa penjajah.

Sekarang yang menjadi penjajah pendidikan untuk putra-putri terbaik Indonesia adalah bangsa kita sendiri. Miris memang tapi itulah yang terjadi saat ini.

*Penulis adalah Fasilitator PNPM MP Kota Bengkulu


Jun Mahdi
Jl. WR. Supratman, Bengkulu
mahdijun96@gmail.com
087894674866



(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads