Setiap bangsa tentunya mengharapkan generasi yang dimilikinya adalah generasi yang mempunyai keunggulan. Begitupun dengan negeri ini.
Namun sayangnya kondisi generasi yang ada sangat jauh dari yang diharapkan. Degradasi moral, semakin lunturnya keimanan, prestasi miring seperti tawuran, seks bebas dan HIV-AIDS seakan menjadi masalah 3 serangkai yang tidak bisa dipisahkan dari kaum muda saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budaya korupsi sudah menjadi budaya yang biasa. Kecurangan sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan intelektual. Setiap tahun sering tercetak nilai-nilai yang bukan dari hasil keringat para intelektual tapi merupakan rekayasa belaka. Mengapa kerusakan ini bisa terjadi?
Generasi bangsa terlahir dari sebuah pendidikan. Saat ini pendidikan yang ada hanya berorientasi pada materi. Ilmu untuk uang sudah menjadi prasyarat dalam menjalani kehidupan.
Apapun dilakukan untuk mengejar materi, yang halal diharamkan, yang haram dihalalkan. Kaum intelektual pun terjebak kedalam kubangan lumpur yang penuh dengan kotoran. Pendidikan hanya dijadikan alat untuk mencetak kaum buruh yang berdasi dan bermental pembebek.
Pendidikan yang ada tidak terlepas dari sistem yang mengatur pengelolaan dan pengaturan pendidikan. Aturan yang diterapkan saat ini adalah aturan manusia yang serba lemah, terbatas, dan cacat yang berlandaskan sekulerisme (pemisahan antara agama dan kehidupan) sehingga wajar jika kerusakan yang terjadi seperti saat ini.
Jika manusia membuat aturan maka aturannya pun akan memiliki sifat yang sama yakni serba lemah dan terbatas, karena manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan.
Sistem kapitalisme-sekulerisme yang diterapkan saat ini tidak bisa memberikan harapan untuk melahirkan generasi cemerlang. Dalam sistem kapitalisme-sekulerisme yang berlandaskan materi, pendidikan dijadikan komoditi perdangangan antara pemerintah dan rakyat.
Sehingga rakyatlah yang harus membayar biaya pendidikan bukan Negara yang harus memberikan pendidikan secara cuma-cuma kepada rakyat. Sistem kapitalisme-sekulerisme buatan manusia hanya bisa menjamin kerusakan yang bisa kita rasakan saat ini.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam merupakan aturan kehidupan yang sempurna yang diturunkan oleh Sang Pencipta manusia, Allah. Islam mengatur sistem pendidikan.
Tujuan pendidikan dalam islam yaitu membentuk syaksiyah islam (kepribadian islam), menguasai tsaqofah islam dan ilmu pengetahuan-teknologi. Sehingga lahirlah generasi yang berkualitas seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Jabir ibnu hayan, Imam syafe'i, Imam hambali, Imam hanafi, Imam maliki dan lain sebagainya.
Mereka generasi unggulan yang tidak hanya memiliki ilmu keduniawian namun mereka pun menguasai tsaqofah islam dan mampu mengaplikasikan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Generasi cetakan islam sangat jauh berbeda dengan generasi cetakan kapitalisme-sekulerisme.
Dalam Islam, tujuan pendidikan sangat jelas. Selain itu pula seluruh warga Negara mendapatkan pendidikan secara gratis. Sehingga semuanya bisa merasakan pendidikan. Negara yang mengambil peran keseluruhan untuk mengurusi seluruh rakyatnya termasuk pendidikan.
Saat ini kondisi ummat sedang mengalami kerusakan total di seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Masalah pendidikan bukanlah masalah individu atau sekelompok orang. Namun masalah pendidikan merupakan permasalahan sistemik yang harus diselesaikan.
Solusi yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada adalah Islam. karena Islam adalah pedoman hidup yang diberikan Allah kepada umatnya.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk Kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhoi Islam itu menjadi agamamu." (QS. Al-Maidah:3)
Bukti keimanan kita kepada Allah adalah dengan bertakwa, menjalani seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika kita lebih memilih aturan yang bukan berasal dari Allah yakni aturan kapitalisme-sekulerisme apakah hal tersebut dikatakan beriman kepada Allah?
Sedangkan beriman kepada Allah adalah dengan menerima semua apa yang diturunkan oleh Allah. Bukan menerima sebagian ayat dan mengingkari ayat yang lain. Jika tidak mau memakai aturan Allah dalam kehidupan, patut dipertanyakan dimana letak keimanan kita?
Solusi satu-satunya adalah dengan menerapkan syariat Allah dalam bingkai khilafah, kepemimpinan umum kaum Muslim seluruh dunia dimana diterapkan syariat Islam secara sempurna dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan da'wah dan jihad, sebagaimana tertera dalam hadits Rasulullah SAW:
"Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat kelak tanpa memiliki hujjah, dan siapa saja yang mati, sedangkan dipundaknya tidak terdapat (kepada Khalifah), maka ia mati seperti kematian jahiliyah." (HR. Muslim).
Mewujudkan peradaban yang besar yang dibangun diatas pondasi yang kokoh yakni keimanan kepada Allah tentu membutuhkan perjuangan yang optimal, mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk mewujudkannya.
Kaum intelektual termasuk bagian dari ummat yang saat ini sedang terjebak dalam kondisi yang terpuruk. Saatnya seluruh kaum muslim bangkit dan terus berusaha untuk mewujudkan cita-cita yang agung yakni tegaknya agama Allah di muka bumi ini.
Dulu kaum intelektual mampu menggoreskan perubahan di negeri ini. Kini saatnya pula kaum intelektual mengambil bagian untuk menuliskan sejarah peradaban yang gemilang dengan tinta emas perjuangan yang gigih dan tangguh untuk mewujudkan cita-cita nan luhur yaitu mewujudkan kehidupan islam dalam naungan khilafah.
Saatnya kaum intelektual keluar dari kungkungan peradaban kuno yang saat ini hanya bisa mencetak kerusakan dan kehancuran. Saatnya kaum intelektual berkarya mempersembahkan yang terbaik untuk islam.
Saatnya kaum intelektual bangkit dan mengambil bagian untuk mencerdaskan ummat dengan islam. Jadikanlah perubahan revolusioner itu berada ditangan-tangan para intelektual.
Genggam perubahan, satukan pemikiran, ambil bagian menuju peradaban Islam yang luhur dan gemilang dalam bingkai Khilafah.
*Penulis adalah Anggota Kajian Islam Mahasiswa (KALAM) Universitas Pendidikan Indonesia
Ayu Susanti
Geger suni 2 no 55A Bandung
ketulusanhati.2116@gmail.com
085794467088











































