Jaring Capres? Kaderisasi? Partai Besar VS Partai Besar?

Jaring Capres? Kaderisasi? Partai Besar VS Partai Besar?

- detikNews
Jumat, 11 Mei 2012 14:01 WIB
Jaring Capres? Kaderisasi? Partai Besar VS Partai Besar?
Jakarta - Partai Politik seharusnya melakukan apa yang idealnya dikerjakan sebuah partai yang sehat, yaitu pendidikan politik bagi para kadernya untuk menyiapkan dan mencetak calon pemimpin, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Mungkin saja proses tersebut dilaksanakan, namun demikian yang riil terjadi adalah jangankan kaderisasi, untuk solid dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan bangsa saja,kadang masih terhambat.

Saat waktu terus bergulir dan kepentingan masyarakat yang menjadi tujuan, suatu keharusan, Partai Politik disibukan oleh berbagai kepentingan masyarakat. Apalagi kaitan dengan Pencalonan Presiden Republik ini. Indonesia, Nusantara. Guna Kepentingan Kepemimpinan 2014 kelak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang bisa dilakukan untuk pendidikan politik? kader partai, juga masyarakat dalam kondisi seperti ini? Ini salah satu contoh yang terjadi di tubuh beberapa Partai Besar Nasional.

Tidak menutup kemungkinan Partai Politik lainnya. Lalu bagaimana dengan Kaderisasi di tubuh Parpol? Apakah berkaitan dengan calon Presiden kedepan?

Jangan sampai apa yang akan dihasilkan parpol adalah mereka yang tidak memberikan empati kepada masyarakat, kita akui bahwa itulah buah dari proses kehidupan politik tanpa pendidikan politik dalam parpol. Apa iya demikian? Krisis Calon Pemimpin.

Apa yang akan dilahirkan Parpol? Mungkin saat ini beberapa Partai Politik besar dapat menjadi acuan. Mengapa? Beberapa ParPol besar akan menjaring Bakal Calon Presiden RI kedepan secara terbuka.

Mau, tak mau, kaderisasi merupakan hal yang harus terjadi. Karena terjadinya dinamika adalah proses, bahkan sebagian telah pernah melaksanakan apa yang disebut dengan Konvensi Calon Presiden, jaring seluas-luasnya.

Indonesia saat ini 33 Provinsi. Banyak anak nusantara Potensial. Terlepas dari apapun selain untuk Masyarakat Indonesia.

Kelak Inilah hasil yang harus kita petik. Apabila tidak tebuka dalam penjaringan Bakal Calon Presiden, maka kesalahan adalah pada orang-perorang yang mengelola parpol tersebut. Sejarah kehidupan politik kita yang harus kita hadapi dan kita benahi.

Masyarakat berharap parpol untuk terus membenahi diri. Kritik adalah baik sebagai bukti kecintaan dalam memperbaiki parpol sebagai salah satu pilar utama demokrasi. Kritik dari dalam partai sendiri memang baik.

Tetapi, yang lebih bijak adalah, bagaimana kita memberikan solusi pembelajaran publik dengan ikut menyumbang terhadap pendidikan politik kedepan,dan tidak sekadar terus-menerus mengkritisinya.

Masyarakat menantikan serta mendukung dalam melakukan pembenahan, antara lain melakukan kaderisasi para kadernya agar dapat berkembang menjadi partai yang modern dan proporsional sesuai mekanisme internal ataupun eksternal,dari , untuk masyarakat. Partai Politik apapun itu.

Melalui kaderisasi, mekanisme,diharapkan dapat tercipta calon pemimpin bangsa yang mumpuni ditengah-tengah masyarakat dan, tampil kepermukaan. Tentu dengan harapan terbaik.

Trust (kepercayaan) serta kedewasaan adalah salah satu kunci bangsa ini untuk maju. Trust tentu bukanlah sesuatu yang instant,seketika. Di atas trust, tingkat lanjutnya adalah believe (percaya). Inilah suatu konsep nurani yang seharusnya menjadi kebutuhan kita bersama.

Jalankan mekanisme sesuai dengan Alur. Dan mereka yang kredibilitasnya telah teruji melalui mekanisme tersebut, maka ia lah kader terbaik , internal ataupun eksternal. Sosialisasikan Ke Masyarakat.

Butuh waktu yang cepat. Hasil yang kita harapkan melalui proses mekanisme tersebut.untuk menghasilkan Pemimpin yang bermoral mengabdi kepentingan masyarakat, bangsa. Hasil kaderisasi mencakup pendidikan mental. Agar hubungan dengan masyarakat lebih Bijak dan Arif.

Banyak kader di berbagai partai politik dengan ancungan 'jempol',baik, termasuk yang memiliki komitmen kebangsaan tinggi. Saat ini dibutuhkan proses pendidikan politik untuk memungkinkan mereka benar-benar tampil sebagai pemimpin berkualitas. Sekali lagi. Internal ataupun eksternal.

Menyiapkan para pemimpin itu melalui proses pendidikan politik yang sehat, paling tidak melalui sekolah yang bernama "masyarakat".

Apa iya jalan masih panjang ?

Keberhasilan itu akan tercapai apabila konsisten dan komitmen Parpol terhadap mekanisme, secara teknis pendidikan character building,pendidikan politik.

Melalui pendidikan politik yang sehat diharapkan terbentuk loyalitas serta militansi calon figur pemimpin. Tentu saja diimbangi oleh loyalitas kepada visi, misi dan program sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.

Jika kelalaian dalam diagnosa gejala klinis politik di level tersebut untuk turun ke masyarakat gagal, maka yang akan tercipta pada Pemilu akan datang adalah GOLPUT? dimana-mana. Serta tak lebih hanya ritual demokrasi prosedural yang mahal,boros dan tak berarti.

Masyarakat tidak memiliki alternatif lain, jangan sampai pil pahit yang akan ditelan oleh masyarakat.

Kendati partai politik membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon eksternal, alangkah bijak apabila mekanisme dijalankan secara terbuka, melalui etika politik, dilaksanakan sehingga tercipta calon Pemimpin yang kredibel.

Semoga ditandai dengan penguatan partai politik untuk menjalankan fungsinya dalam memperjuangkan aspirasi Masyarakat.

*Penulis adalah alumni Magister Hukum UNPAD Bandung


Yusuf Senopati Riyanto
Ciganjur Jakarta Selatan
yusuf_riyanto@yahoo.com

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads