Malioboro, Nuansa Tradisional tak Perlu Kotor

Malioboro, Nuansa Tradisional tak Perlu Kotor

- detikNews
Senin, 23 Apr 2012 13:29 WIB
Malioboro, Nuansa Tradisional tak Perlu Kotor
Yogyakarta - Malioboro merupakan tempat wisata yang digemari oleh wisatawan lokal maupun manca negara. Tempat wisata ini merupakan salah satu tempat wisata belanja yang ada di Yogyakarta.

Tidak jarang para wisatawan menghabiskan waktunya untuk memburu barang-barang dengan sentuhan khas Yogyakarta seperti batik dan beberapa pernak-pernik lainya.

Harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat bagi kantong para pelajar dan mahasiswa sehingga tempat ini menjadi tujuan wisata utama saat bertandang ke Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat favorit para wisatawan, Malioboro pun menjadi tempat favorit bagi penduduk asli Yogyakarta untuk berbelanja ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Malioboro seperti menjadi magnet bagi kota Yogyakarta. Sentuhan lokal dapat tergambar sari beberapa aspek yang ada di malioboro. Selain batik dan pernak-pernik lainnya yang berbau tradisional, alat transportasi tradisional pun dapat mudah ditemukan disekitar kawasan ini.

Andong, menjadi alat transportasi tradisional yang sampai sekarang masih memikat hati para wisatawan lokal atau pun wisatawan asing. Disamping terdapat andong, becak pun masih menjadi alat transportasi tradisional yang digemari masyarakat Yogyakarta.

Daya tarik Malioboro tidak berhenti diseputar batik dan andong. Letak Malioboro pun dapat menggambarkan secuil dari Yogyakarta. Dari kawasan bersejarah hingga aktivitas pemerintahan, semua terdapat di kawasan Jl. Malioboro ini.

Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Gedung Badan Perencanaan Daerah, Gedung Agung yang merupakan salah satu dari tujuh istana kepresidenan di Indonesia, merupakan deretan gedung pemerintahan yang terdapat di kawasan ini.

Sepenggal dari kisah sejarah Yogyakarta pun dapat terekam selama perjalanan kita menyusuri sepanjang Malioboro. Museum Benteng Vedeburg yang menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menjadi saksi sejarah yang dapat bercerita saat kita menyusuri Malioboro.

Begitu besar ketertarikan masyarakat terhadap Malioboro menjadikan tempat ini selalu ramai dikunjungi siang dan malam. Atensi yang demikian menyebabkan Malioboro menjadi rentan terhadap limbah sampah.

Besarnya pengunjung Malioboro yang berasal dari berbagai kalangan, asal, dan karakteristik menjadikan Malioboro berpontensi menggasilkan limbah sampah yang cukup besar. Kebersihan perlu diperhatikan mengingat Malioboro merupakan tempat wisata yang diminati oleh para wisatawan.

Ada yang sangat disayangkan pada kebersihan Malioboro saat ini. Pada beberapa titik dekat penjual makanan berat seperti bakso, mie ayam, nasi rames, dll terdapat genangan air limbah sisa makanan.

Keadaan ini mengganggu pemandangan dan memberikan kesan bahwa tempat ini kotor. Perlu ada solusi untuk mengatasi hal ini baik dari para pedagang maupun pemerintah, contohnya dengan menyediakan tempat pembuangan limbah sisa makanan.

Selain masalah limbah, dapat tercium bau yang tidak sedap seperti "pesing" ketika kita berjalan menelusuri Malioboro dan berjalan dekat parkir andong atau beberapa titik lainnya. Bau tak sedap ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi para wisatawan.

Keberadaan toilet umum memang perlu diperhatikan kembali mengingat jumlah toilet umum sepanjang Malioboro masih sedikit.

Kesadaran para pedagang, tukang becak, dan tukang andong dalam menggunakan toilet umum juga perlu ditingkatkan demi membangun suasana yang bersih dan nyaman. Sarana dan prasarana yang ada saat ini pun perlu diperhatikan lagi perawatanny termasuk toilet umum.

Indahnya taman-taman kecil, tanaman-tanaman yang menghiasai pinggiran jalan sepanjang Malioboro kini telah kabur. Tanaman-tanaman yang berfungsi selain sebagai pemercantik kota, berfungsi pula menjadi sarana penghijauan kini menjadi bak sampah kedua.

Sampah-sampah plastik seperti botol minuman, kemasan makanan kecil, maupun kertas menjadi penghias tambahan pada taman itu.

Tidak sedikit pengunjung melepas lelah dengan bersantai, duduk sejenak di penggiran tanaman yang ada dengan meneguk minuman atau menyantap makanan, namun kemasan-kemasan makanan maupun minuman tadi sayangnya tidak dibuang pada tempat yang seharusnya. Tinggalkan tergeletak pada taman mungil itu begitu saja.

Malioboro, merupakan kawasan yang sarat dengan kekhasan Yogyakarta, begitu tingi antusiasme wisatawan terhadap tempat wisata ini. Malioboro menjadi salah satu pilihan wisata yang utama, mengapa kita tidak menjaga Malioboro agar indah dan bersih?

Tidak membuang sampah sembarangan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat atau pengunjung untuk menjaga kebersihan.

Atmosfer khas tradisional Yogyakarta masih terasa di tempat wisata Malioboro ini namun akan lebih terasa apabila dibubuhi kebersihan yang terjaga.

Bisakah kita berbangga dengan Malioboro kita yang indah, bersih, dan nyaman ?


Emanuela Agra Sarika K D
Perum Melati Permai A 17 Gondangwaras, Sleman
emanuel.agra@yahoo.co.id
085729122987

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads