Kapan BLT Untuk Air?

Kapan BLT Untuk Air?

- detikNews
Senin, 26 Mar 2012 14:29 WIB
Kapan BLT Untuk Air?
Jakarta - Belum sempat bahan bakar minyak dinaikkan oleh pemerintah, masyarakat sudah banyak yang berteriak bahwa hal tersebut makin mempersulit ekonomi, harga-harga bahan produksi akan naik, biaya anak sekolah akan naik (Lho memang BOS kemana?) dan lain sebagainya.

Mulailah puluhan organisasi masyarakat, pemuda, para mahasiswa melakukan protes, demonstrasi, orasi, gelar atraksi demi menyurutkan niatan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM.

Alasan pemerintah amat klasik yakni demi mengurangi defisit Anggaran Pemasukan dan Belanja Pemerintah (APBN) yang semakin tinggi. Maka jalan yang akan mereka tempuh adalah memotong subsidi terhadap bahan bakar yang sebelumnya telah tersubsidi yakni Premium dan Solar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut para pakar, kenaikan yang relatif tepat yaitu pada kisaran Rp 1000 namun hal ini nampaknya masih kurang banyak untuk membantu APBN. Jadi, pemerintah berencana menaikkan ke titik Rp 1,500 per liter bagi tiap jenis bahan bakar tersebut. MANTAB!

ManTab atau Makan Tabungan itulah yang akan terjadi kemudian bagi para penikmat bahan bakar minyak subsidi kalangan menengah ke bawah.

Mereka mau tidak mau akan mengurangi jatah menabung mereka demi mempertahankan tingkat konsumsi mereka. Jalan lain adalah mempertahankan jumlah belanja BBM mereka di angka yang sama namun mereka harus rela berkorban mengurangi kilometer yang dapat mereka tempuh.

Sebab isi tangki bahan bakar mereka akan lebih sedikit dari dahulu dengan biaya yang sama. Belum menyebut bahwa akan ada contagion effect dari kenaikan ini terhadap barang-barang lain baik yang sifatnya produktif maupun barang konsumsi akhir.

Di tengah maraknya kehebohan tersebut, masyarakat diinterupsi sejenak dengan hari air sedunia pada tanggal 22 Maret. Aksinya barang tentu tak akan seheboh aksi penolakan kenaikkan BBM. Relatif sepi, santai dan tanpa adanya kontak fisik.

Coba bandingkan dengan aksi protes terhadap BBM, tak sedikit di pelbagai daerah harus diisi dan diiringi kontak fisik antara para demonstran dengan para aparat yang mengamankan aksi tersebut.

Padahal seyogyanya peranan air sama penting atau malah lebih penting dari peranan bahan bakar minyak bagi manusia. Tak salah jika ada yang menyebut bahwa industri tidak akan bergerak dan ekonomi tidak akan maju tanpa adanya bahan bakar yang cukup dan harga yang baik.

Tapi, jika di negara tersebut tidak mempunyai sumber daya manusia yang sehat akibat sanitasi dalam lingkungan mereka yang buruk maka hasilnya sama saja nol besar.

Menurut Statistik mencatat, bahwa setiap orang minum sekitar 2 sampai 4 liter air setiap hari. Namun hal itu nampaknya menjadi hal yang cukup sulit terjadi bagi semua orang.

Mengapa? Karena menurut WHO 1.500 kilometer kubik lebih air limbah diproduksi dunia dan sekitar 80% air limbah di negara-negara berkembang tidak di daur ulang karena kurangnya teknologi, Contoh paling mudah adalah sungai citarum yang tercatat sebagai sungai yang paling tercemar di dunia akibat pencemaran limbah industri dan rumah tangga.

Ini sungguh memprihatinkan mengingat sungai merupakan salah satu sumber air baku. Hal ini barang tentu meresahkan karena dapat mengakibatkan banyak 'bencana' bagi masyarakat sendiri.

Di Indonesia setidaknya ada 100 juta penduduk yang hidup di bawah garis sanitasi yang memadai dan kurang lebih 500 bayi harus meninggal tiap hari karena buruknya sanitasi tersebut.

Bagi masyarakat menengah ke bawah yang tidak tinggal di bantaran sungai, kebanyak mereka tinggal di perumahan padat penduduk yang kurang memungkinkan untuk membuat sumur (dan juga jet pump).

Maka mereka mau tidak mau harus membeli air untuk sekedar minum dan membersihkan diri. Salah satu penyedianya adalah Perusahaan Air Minum atau PAM Jaya di Jakarta.

Namun sayangnya tidak semua masyarakat dapat menikmati air tersebut dengan baik (atau lebih baik dari yang tinggal di tepi sungai yang kumuh). Hal ini disebabkan harga yang dipatok oleh perusahaan cukup tinggi bagi mereka.

Dikutip dari laman Koalisi Rakyat Untuk Hak Atas Air, digambarkan seorang ibu di daerah Muara Baru, Jakarta Utara membutuhkan 10 pikul air setiap harinya dengan harga setiap pikul sebesar Rp 2,000 atau Rp 20,000 tiap hari.

Selama sebulan maka ibu tersebut akan menghabiskan sekitar Rp 600,000 hanya untuk memenuhi kebutuhan air bagi keluarganya. Bukan jumlah yang sedikit bagi masyarakat yang termasuk golongan ekonomi menengah dan bawah.

Dengan mengadopsi upah rata-rata para pekerja di level tersebut sama dengan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta sebesar 1.52 Juta rupiah per bulan. Bagaimana dengan mereka yang mendapat upah di bawah dari itu? Anda dapat mereka-reka sendiri.

Kembali lagi hubungannya dengan kenaikan BBM. Jika pada kasus BBM, pemerintah menyiapkan bumper untuk meredam shock berupa BLT atau Bantuan Langsung Tunai, bagaimana dengan air?

Bukankah air juga penting bagi kehidupan? Sebagai perbandingan, menurut United Nations Development Program (UNDP) tiap satu US dolar yang dipakai untuk keperluan air dan sanitasi menghasilkan imbal balik Sembilan US dolar serta meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya kesehatan di Afrika.

Di sisi lain menurut studi Bank Dunia, Nigeria kehilangan Sembilan Milyar US Dolar karena kurang tersedianya sanitasi yang baik.

Maka dari itu, sudah sepatutnyalah pemerintah memberikan sedikit saja perhatiannya bagi hal ini.

Apakah pemerintah tidak malu ketika di jalanan-jalanan besar ibukota terpampang banner besar bagaimana perusahaan swasta asing mengakomodasi masyarakat di Timur Indonesia untuk mendapatkan air bersih?

Atau mungkin pemerintah sudah lepas tangan mengenai permasalahan air ini dan menganggap semua akan beres pada waktunya? Mungkin memang hanya waktu yang akan menjawab!

*Penulis adalah Freelance Writer, Traveler, dan Pemuda Indonesia


Haikal Ananta S
Jatibening Permai, Bekasi
haikal.ananta@yahoo.com
+628568836816

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads