Politik Rok Mini Ala Marzuki Alie

Politik Rok Mini Ala Marzuki Alie

- detikNews
Kamis, 08 Mar 2012 11:50 WIB
Jakarta - Seperti sudah diketahui, dua hari ini DPR kembali digoncang isu. Isu bahwa DPR berencana membuat rancangan peraturan tentang penampilan perempuan di gedung wakil rakyat yang terhormat.

Salah satunya adalah pelarangan menggunakan rok mini dan pakaian seksi lainnya. Argumentasi di balik aturan itu ialah banyaknya pemerkosaan karena banyak perempuan mengenakan rok mini.

Alasan yang dangkal, yang menimbulkan pertanyaan bumerang, mengapa anggota DPR begitu sensitif terhadap rok mini staf anggota dewan?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah pikiran anggota DPR sudah begitu kotornya sehingga bisa memerkosa gara-gara rok mini?

Kontroversi Sang Ketua

Menanggapi usulan itu, Selasa (6/30) Ketua DPR Marzuki Alie mulai angkat bicara. Beliau mengatakan bahwa tidak seharusnya seorang perempuan mengenakan pakaian mini.

Hal ini, katanya adalah untuk mencegah pemerkosaan. Perempuan yang mengenakan baju seksi dapat menimbulkan hasrat laki-laki berubah, sehingga menimbulkan tindak asusila.

"Namanya laki-laki, pakaian yang tidak pantas itu yang menarik laki-laki berbuat sesuatu," kata Marzuki di Gedung DPR, seperti dikutip dari beberapa media online.

Menurutnya, banyaknya pemerkosaan karena banyak perempuan yang mengenakan rok mini. Sebaiknya perempuan berpakaian yang memenuhi kepantasan sesuai dengan kultur bangsa, asas kepatutan.

Meski dalam hukum tidak dilarang, tapi pantas dan patut itu perlu, supaya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Badan Kehormatan bersama pimpinan secara bertahap mulai memperbaiki citra DPR. Citra DPR ini terbangun dengan berbagai aspek, aspek kinerja, tampilan, berbagai aspek ini akan dilihat tampilan yang hedonis, tampilan yang tidak berkenan bagi publik, kemudian kinerja semuanya kami perbaiki,” katanya.

Kritik pun bermunculan, bahkan dari sesama anggota dewan. Aturan semacam ini dinilai sama sekali tidak cerdas sehingga muncul kecurigaan rencana ini sengaja digulirkan untuk mengalihkan isu.

Anggota DPR, Rieke Diah Pitaloka, mencurigai isu pelarangan rok mini hanyalah permainan untuk mengalihkan isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang kini semakin marak.

Belum lagi kasus Angelina Sondakh yang melibatkan Partai Demokrat, serta kasus pajak baru berjudul "Gayus Jilid II". "Saya merasa ini ada peralihan isu. Kenapa publik diarahkan pada rok mini," kata Rieke.

Usaha untuk mengalihkan isu tersebut dinilai tidak substantif. Harusnya anggota dewan fokus pada tugas pokoknya masing-masing. (okezone.com, 6/03/12).

Logika Sesat Pikir

Sebagai partai pemenang pemilu terakhir, Partai Demokrat akhir-akhir ini mendapat ujian maha berat, mungkin yang terberat sepanjang satu dekade hidupnya. Satu demi satu kasus hukum mendera partai ini.

Dimulai dari M. Nazaruddin, Angelina Sondakh, Mirwan Amir, sampai tuduhan politik uang saat kongres partai tahun 2010 lalu yang dialamatkan kepada Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Perpecahan internal partai mulai timbul ketika faksi-faksi yang ada di dalamnya mulai angkat bicara mengenai kasus ini. Kita disuguhi Opera Van Java versi Demokrat ketika hampir setiap hari media-media nasional kita menampilkan konser kader-kader Demokrat, seperti Ruhut Sitompul, Ramadhan Pohan, Ahmad Mubarok, Saan Mustopa, dll berorkestrasi dalam sebuah simfoni yang berantakan.

Penulis yakin bahwa detik ini juga Demokrat pasti sedang berupaya sekuat tenaga memulihkan kembali citra partai mereka yang merosot tajam, bahkan survei LSI mengatakan bahwa dari 21% suara pada pemilu 2014 menjadi 13,7% suara per Februari 2012 (tribunnews.com, 19/02/12).

Menjadi sebuah pertanyaan besar ketika sebuah partai yang sedang berkonsentrasi pada reparasi internalnya, di sisi yang lain, seorang pejabat publiknya dengan jabatan yang tidak sembarangan pula, terkesan berusaha menutupi skandal besar yang menimpa partainya dengan berkomentar "di luar jalur".

Penulis menganalogikan fenemona ini dengan istilah sesat-pikir logis (logical fallacy). Ini adalah suatu argumen yang mengacaukan logika berpikir logis manusia.

Sesat pikir logis menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.

Beberapa kali beliau mengeluarkan pernyataan yang agak aneh, seperti pada penduduk di pesisir Mentawai pasca Tsunami Padang, pembubaran KPK, sampai penghapusan hukuman bagi koruptor.

Seringkali sesat pikir logika dilakukan oleh orang-orang yang kurang memahami tentang penalaran logis dan juga tidak tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain.

Namun ada juga sesat-pikir logis yang disamarkan menjadi silat lidah, yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat memperdaya, yang disebut Sofisme.

Sesat pikir dalam politik akan sangat efektif digunakan untuk provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan undang-undang, pembunuhan karakter, hingga menghindari jerat hukum.

Dengan memanfaatkan sesat-pikir logis sebagai sarana bersilat lidah kita dapat memenangkan suatu diskusi, maupun sebuah kontestasi politik. Peran beliau dalam hal ini cukup baik, jika kita melihatnya dari sudut pandang politis.

Penulis memiliki apresiasi tersendiri untuk beliau dari sisi kemampuannya melakukan manuver-manuver politik dengan "ber-sesat pikir" tersebut.

Manuver beliau mampu mengalihkan opini publik sehingga apa yang dikatakan Rieke di atas menjadi sebuah premis yang mengandung kebenaran.

Fokus masyarakat sekarang tidak lagi pada kasus-kasus besar yang memang butuh atensi publik luas, tapi bergeser pada persoalan etika yang harusnya dibahas pada ranah privat saja.

Tulisan ini mengajak masyarakat untuk tidak menjadi "kaum lupa", tetapi mulai berangkat dari sebuah logika kolektif untuk betul-betul berkata β€œtidak” pada korupsi, dan kawan-kawannya.

Politik rok mini ala Marzuki Alie memang seperti candu yang meninabobokan nalar. Akan tetapi, sejauh mana manuver tokoh-tokoh politik, seperti beliau dalam kasus ini, untuk menggiring logika itu ke tanah tak bertuan, masyarakat tetap harus berpijak pada tanah demokrasi dari bawah.

Bagaimana pun, beliau sudah memainkan perannya sebagai speaker of the parliament, maupun seorang politisi kawakan. Terakhir, apakah ada hubungan antara pernyataan Marzuki Alie tentang rok mini dengan hari perempuan internasional yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret?

Hanya beliau logika beliau yang mampu menjawab itu!


Jerry Indrawan
Jl. Pulo Sirih Utara Dalam VII
Taman Galaxi Indah Blok DA 156a, Bekasi
jerryindrawan@rocketmail.com
08561144176

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads