Whitney Houston dan Dialog SBY

Whitney Houston dan Dialog SBY

- detikNews
Rabu, 15 Feb 2012 10:44 WIB
Whitney Houston dan Dialog SBY
Jakarta - Masih basah mungkin tanah pusara Whitney Houston di Amerika sana ketika hampir seluruh manusia kembali mengenang dirinya yang pernah jaya dahulu.

Suara hingga 5 oktaf dan paras yang dahulu rupawan menjadi kenangan yang paling terekam dalam di benak tiap pecinta sang pahlawan seni tersebut. Suasana berkabung sambil mengenang kembali karya-karya indahnya paling tidak terus dilakukan di Indonesia.

Tak sedikit stasiun televisi yang berulang-ulang memutar kisah hidup sang bintang, perjalanan karirnya hingga perhargaan selama hidupnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih-lebih stasiun-stasiun radio menjadikan tema Whitney Houston di program-program mereka, "Tribute to Whitney Houston" kira-kira begitu tajuknya.

Belum ada acara 3 harian layaknya ritual di Indonesia, apalagi 7 harian, wartawan-wartawan Indonesia kembali terkejut dengan berita yang mendadak terjadi.

Tersebutlah Istana Negara sebagai latar tempatnya dan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai aktor utamanya.

Apakah itu? Jamuan makan malam dengan para wartawan dan Dialog selepasnya. Apa sebab? Apakah mungkin Pak Presiden ingin memberikan testimoni juga atas kepergian mendadak Whitney Houston?

Apakah SBY juga turut berkabung dan ingin coba unjuk gigi menyanyikan barang 1-2 lagu hits sang bintang? Atau apakah Pak Beye ingin coba memasukan lagu-lagu hits sang bintang ke album kompilasi terbarunya?

Ternyata, segala pertanyaan itu terjawab. Bukan Tribute to Whitney Houston ternyata tema dialog tersebut. Dialog yang kurang lebih berisi 16 pertanyaan 'lepas' dari para wartawan itu membahas seputar isu-isu terkini di Indonesia terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mengenai Whitney Houston.

Isu-isu Bahan Bakar Minyak (BBM) serta gas yang hampir sebagian menjadi jatah ekspor, sedang pasar domestik sedang kekurangan, Kasus aktivis HAM Munir yang hingga kini tak kunjung selesai, Kasus Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan yang tak diterima oleh masyarakat di sana, perihal kenapa utang Indonesia semakin tinggi nominalnya, kemudian kasus GKI Yasmin yang masih belum menemukan titik terang serta tentu saja yang paling heboh saat ini Kasus Wisma Atlet di Palembang.

Meski di banyak kesempatan Pak Beye menerapkan "silent is gold" tetapi pada dialog tersebut Pak Beye angkat bicara dengan sebuah excuse; "Sebenarnya saya ingin bukan pertanyaan soal Partai Demokrat, tapi okelah ini berkaitan penegakan hukum. Bagus agar rakyat Indonesia mengetahui duduk permasalahannya," kira-kira begitu ujar Pak Beye.

Masih ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan lagi oleh para "pengontrol sosial", kira-kira begitu Bapak Presiden mengamanatkan kepada para wartawan pada hari pers nasional yang lalu.

Namun ada satu hal yang menjadi perhatian setelah usainya dialog tersebut, Pak Presiden seperti kehilangan momentumnya sendiri ketika mengadakan event ini.

Pada dasarnya publik pun terkaget dengan dialog yang menurut awam tidak ada hal yang bersifat sangat tinggi urgensinya hingga harus ada yang seperti ini.

Ketika dialog berlangsung pun, publik seolah disuguhi "debat yang aman". Tidak adanya balas komentar dari setiap pertanyaan menjadikan dialog ini ajang yang terkesan sia-sia.

Tidak ada terobosan dan gebrakan selama jalannya dialog yang oleh beberapa televisi nasional sengaja ditayangkan live. Agak mengecewakan memang, tapi begitulah Pak Beye.

Paling tidak jika harus ada terobosan yang menggebrak mintalah beliau menyanyikan 1-2 lagu Whitney Houston maka Saya rasa publik akan lebih terkejut de ngan dialog tersebut daripada awam dijejali "debat yang aman" yang intinya sih sepertinya yah untuk mengamankan citra beberapa pihak tertentu.

*Penulis adalah Freelance Writer, Traveler, dan Pemuda Indonesia


Haikal Ananta S
Jatibening Permai, Bekasi
haikal.ananta@yahoo.com
+628568836816

(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads