Meracik Menu Sejarah dan Semangat Nasionalisme

Meracik Menu Sejarah dan Semangat Nasionalisme

- detikNews
Jumat, 13 Jan 2012 11:53 WIB
Meracik Menu Sejarah dan Semangat Nasionalisme
Jakarta - "Costum Play" atau lebih dikenal dengan singkatan "COSPLAY" adalah penggunaan kostum tokoh film, video games, games online, atau komik produksi Jepang dan Amerika yang pada akhir Juli 2011 lalu, komunitasnya di Indonesia mengadakan pagelaran di Balai Kartini Jakarta.

Ala Mak, seluruh pesertanya adalah muda-mudi (generasi muda) kita yang rata-rata berprofesi sebagai pelajar SMP, SMU dan mahasiswa. Mereka dengan pe-de nya menggunakan rambut palsu dari berbagai macam jenis warna dan ukuran.

Ada merah, hijau, biru, pink, coklat, panjang, pendek, sedang, lengkap dengan segala asesoris lainnya. Mereka berpose selayaknya tokoh pahlawan idola fiksinya masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan naifnya, tidak ada satu pun dari mereka yang menggunakan kostum ala Cut Nyak Dien, Bung Karno, Patimura atau minimal si Unyil, tokoh fiksi yang dulu tayang di TVRI, misalnya.

Kegiatan Cosplay semacam ini, dapat dengan mudah kita saksikan di sekitar kita, terlebih lagi di mall-mall kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainya di Indonesia.

Kemajuan di bidang teknologi, menjadi laksana mesin penghancur kebudayaan yang tidak mampu kita lawan. Generasi intelektual kita (di bidang teknologi atau apapun) sudah terlanjur dimanjakan dan dibesarkan oleh pesatnya propaganda produk kebudayaan asing.

Sehingga tidak sempat mensinergikan spektrum kebudayaan kita sebagai tren global, kecuali batik. Itu pun masih tertatih eksistensi di dunia.

Lantas hal apakah yang harus kita lakukan?

Kita seringkali terjebak oleh arus globalisasi yang sedemikian derasnya. Media televisi yang menayangkan sinetron asing, dan media internet yang menyediakan layanan games online, kerapkali melatarbelakangi kemenangan agresi kebudayaan asing di Indonesia, dalam percaturan global.

Usangnya media pembelajaran sejarah Indonesia kepada sebuah generasi menjadi pemicunya. Alterfak berupa karya tulis, film dokumenter atau lain sebagainya, hanya mampu meresap ke dalam jiwa generasi muda yang jumlahnya kian hari, kian memprihatinkan.

Maka lunturnya pemahaman dan spirit nasionalisme kita adalah konsekwensi yang harus ditanggung generasi sekarang. Dan menjadi wajar, jika selanjutnya dalam isi kepala generasi kita, bahwa nasionalisme tak lebih dari luas geografis yang menjadi katebelence konsesi untuk tambang, hutan dan laut, itu saja tidak lebih.

Maka budaya Cosplay ala Jepang dan Amerika pun menjadi wajar jika tumbuh subur di negri kita. Ini jelas merupakan ironi yang harus segera kita sikapi.

Sejarah, Kehilangan Minat

Sejarah. Bagi sebagian besar orang, kata itu terdengar usang dan membosankan, tentunya. Ia seperti tidak memiliki daya pikat untuk dipelajari, terlebih lagi dicintai.

Sebab sejara saat ini hanya akan benar-benar dibutuhkan dan menjadi menarik, jika hal itu bersentuhan langsung dengan kebutuhan diri kita sebagai identitas.

Dan hal ini dapat dibuktikan mengapa kita merasa perlu mengetahui tempat, hari, tanggal, tahun kita dilahirkan. Atau sebab, dan makna apa yang terkandung pada nama yang disandangkan orang tua kepada kita.

Dan karena inilah selanjutnya, kita menjadi begitu antusias mencari tahu atau menyimak sebuah penuturan sejarah kita, dari orang tua, sanak keluarga, atau lain sebagainya.

Sebuah identitas individu-individu. yang akan kita gunakan/ butuhkan sebagai bagian dari sistem komunikasi dan interaksi sosial kita sehari-hari, baik secara kultural maupun struktural.

Maka sepanjang sejarah itu tidak bersentuhan dengan kepentingan seseorang untuk kebutuhan dirinya, maka menjadi wajar jika sejarah hanya akan menjadi sesuatu yang usang, membosankan dan tidak dibutuhkan.

Jika sudah demikian peliknya nasib sejarah Indonesia kepada generasi mudanya, maka pertanyaan yang amat penting pun akan terlontar. Akan menjadi apakah Indonesia 50 tahun nanti? Masih adakah nama itu dalam peta dunia? Silahkan Anda jawab!

Ini terjadi karena ketidakmampuan kita menginovasi teknologi dan memanfaatkan kesenangan kolektif, sebagai bentuk media pembelajaran sejarah secara masal. Artinya secara kultur maupun struktural.

Sebuah Gerakan Inovasi

Fenomena inilah yang melahirkan sebuah gerakan. Kegelisahan yang akhirnya memanggil sebagian kecil anak muda untuk menghidupkan kembali ruh Indonesia.

Adalah ES. Ito (Edry), sastrawan muda kelahiran tahun 1981, penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Medee, ini mencoba menghidupi kembali minat pengetahun sejarah, dengan setting fiksi sejarah dalam setiap karyanya.

Adalah Asep Kambali, pemuda kelahiran Cianjur 1980, pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), mencoba membesut minat pengetahuan sejarah dengan memanfaatkan hobi generasi muda, seperti study tour dengan berjalan kaki atau bersepeda (goes) atau bermotor, ke tempat-tempat bersejarah.

Kemarin (11/01/2012), komunitas itu pun kembali melakukan gerakan dengan menorobos tran hedon pengunjung mall, yang sudah terlanjur membudaya pada generasi muda kita, diubah menjadi media pembelajaran sejarah.

Di fasilitasi tokoh kulinier Nusantara, Bondan Winarno di 'Warung' Kopi Tiamnya yang terletak di Thamrin City, sebuah mall yang bergelar pusat batik internasional, di Jakarta ini, Asep Kambali berorasi, mengkapanyekan pengetahuan sejarah Indonesia-nya di hadapan 200 peserta yang hadir dan berlalu lalang di tempat itu.

Tidak hanya itu, Asep pun menggunakan film bernilai sejarah: "Max Havelaaar/ Saijah dan Adinda", sebuah film produksi Indonesia-Belanda, (kerjasama pertama pasca penjajahan Belanda) yang diprakarsai tokoh pers tiga jaman (pra-kemerdekaan, kemerdekaan dan orde baru), Hiswara Darmaputera.

Film yang dikatakan Iwan Setiawan (pendiri Max Havelaar Club), selaku cucu dari Almarhum Hiswara Darmaputera, yang diundang dalam acara tersebut, mengatakan, "film Max Havelaar atau Saijah dan Adinda dibuat kakek saya sebagai media pembelajaran dan pendidikan sejarah bangsa Indonesia, agar paham humanisme bisa dikembangkan sesuai dengan cita-cita Douwes Dekker. Meski, di kepala Dekker, 'tak ada cita-cita untuk menghapuskan penjajahan'. Film ini sekaligus meluruskan sejarah! Sebagaimana pada masa itu (1976), sebuah kapal perang Indonesia dinamai KRI Multatuli (nama lain Douwes Dekker)!" Tandas Iwan, mengulang kata-kata sang mendiang almarhum kakeknya. Dan sejak adanya film itu pun nama kapal perang KRI Multatuli diubah.

Inovasi teknologi (film), seperti inilah yang saya maksud mampu menjembatani sekaligus bagian dari kebutuhan tren generasi muda Indonesia, dalam mempelajari sejarah.

Namun naif, cita-cita Hiswara Darmaputera, yang pernah menjadi redaktur politik di Harian Tjahaja, Bandung, pendiri Suara Merdeka, Bandung, Pimpinan Redaksi Harian Merdeka, dan penggagas Angkatan Muda Indonesia 1945 ini, sempat kandas di tengah jalan. Filmnyaβ€”Mav Havelaar/ Saijah dan Adinda sempat dicekal pada masa orde baru. Filmnya dicekal selama 11 tahun (1976-1987), karena pada waktu itu dianggap melecehkan rakyat Banten. "Film ini seratus persen dari buku Max Havelaar. Ini bukan film perjuangan, ini film humanisme," kata Hiswara.

"Kalau saya ingin membuat film perjuangan, saya tak akan membuat Max Havelaar" (majalah Tempo terbitan 26 September 1987).

Lewat kegiatan pemutaran film yang bernilai sejarah dan study tour lah (tren anak muda), Asep Kambali bersama komunitas Historia Indonesia-nya, mencoba membangun kembali semangat nasionalisme.

"Anda bisa bayangkan kalau saja Indonesia saat ini memiliki angka kelahiran yang tinggi sebut saja 5000 bayi perhari, lantas bagaimana generasi Indonesia ke depan jika tidak memiliki pemahaman tentang sejarah bangsanya? Sementara media pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah kita tidak memiliki strategi yang jitu untuk membangkitkan minat pembelajaran sejarah. Kalau bukan dengan mensenyawakan tren hoby generasi muda sebagai media pembelajaran sejarah dan budaya yang kita miliki. Dengan inilah semangat nasionalisme kita akan terbangun." tuturnya semangat.

"Nanti saya akan membuat Cosplay ala Pangeran Diponogoro, Patimura, RA Kartini!” Sambungnya saat menjawab pertanyaan saya, seputar kegiatan apa yang akan dilakukan komunitasnya ke depan.

Lain lagi dengan cara yang Aditia lakukan. Pemuda berusia 26 tahun yang mengetuai bidang Libang Komunitas Pencinta kereta Api, dan bermarkas di stasiun Beos, Kota, yang saya jumpai kemarin diacara yang sama (11/01/2012), mengatakan, "kami akan terus berjuang untuk menelusuri dan mencari jejak perkeretaapian yang pernah ada pada masa Kolonial Belanda. Jika kami menemukannya, kami akan melaporkannya kepada pihak pemerintah terkait, agar melindunginya sebagai situs sejarah. Hal ini sangat penting, mengingat sejarah ekploitasi hasil bumi kita oleh penjajah Belanda dan alat angkut rakyat Indonesia tidak lepas dari kereta api!"

Patut Dibudidayakan

Semangat-semangat seperti inilah yang patut dibudidayakan. Negara harus mengambil perannya. Semangat seperti ES ITO (Edry), Asep Kambali, Iwan Setiawan, Aditia, yang harus dimainkan oleh pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahannya meracik menu sejarah menjadi menyenangkan dan tidak usang.

Dan semangat pemuda-pemudi kreatif Indonesia, di seluruh dunia yang mampu menggunakan inovasi, tren dan teknologi sebagai media pembelajaran sejarah Indonesia, yang menjaga Indonesia. 'Meniupkan ruh' ke dalam raga Nusantara, menuju cita-cita kemerdekaan dan terciptanya kejayaan Indonesia di masa datang.

Semangat mempelajari sejarah adalah energi bagi terciptanya nasionalisme. Sekarang, atau Indonesia akan menjadi raga tanpa nyawa. Atau mungkin, hilang dari peta dunia!

Bangkit Anak Muda, Indonesia masa depan adalah 'tangan' kita! Lalu katakan, bahwa Sejarah Indonesia adalah kebutuhan sebagai bagian dari sistem komunikasi dan interaksi sosial kita sehari-hari, baik secara kultural maupun struktural diri kita. Dan nasionalisme bukanlah semboyan purba yang usang, tanpa makna!

*Penulis adalah Sekjen Komunitas Anak Muda Cinta Indonesia


Ichdinas Shirotol Mustaqim
Jl. Percetakan Negara V No. 2 DKI Jakarta
dinaz_zone@yahoo.co.id
085221051381, 08567190810

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads