Krisis Toleransi Lalu Lintas

Krisis Toleransi Lalu Lintas

- detikNews
Kamis, 29 Des 2011 10:03 WIB
Krisis Toleransi Lalu Lintas
Jakarta - Jakarta, kota metropolitan yang disesaki beragam jenis kendaraan. Mulai dari yang beroda 2, 3, 4 hingga sepuluh pun ada di sini.

Seiring makin pesatnya pertumbuhan Jakarta, pertumbuhan kendaraan-kendaraan bermotor ini pun meningkat eksponensial dibandingkan dengan pertumbuhan jalan yang bertumbuh bagai deret hitung.

Menurut data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, setiap harinya, selama tahun 2011, sebanyak 1.068 motor bertambah di jalanan Jakarta. Belum lagi kendaraan roda empat yang tiap harinya bertambah sekitar 216 mobil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi ini, tidak diimbangi dengan kapasitas jalan yang hanya bertambah sekitar 0,01 persen dalam setahun. Tak jarang akhirnya kita temui jalan yang sejatinya untuk satu jalur berubah menjadi dua jalur karena volume kendaraan yang memadati jalan tersebut sangat banyak.

Di kesempatan lain kita temui sebagai hal yang lumrah bahwa garis lurus marka lalu lintas di jalanan tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Bahu jalan yang sengaja disediakan bagi keadaan darurat berubah menjadi jalan alternative selama macet dengan catatan tidak ada polisi yang menjaga disana.

Lebih-lebih setelah ada jalur Trans Jakarta, banyak pengendara lebih menyukai melalui jalur tersebut sebab relative bebas hambatan kecuali (kembali) ada polisi yang menjaganya.

Banyaknya pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi dikarenakan semakin terkikisnya toleransi antar pengendara di jalan. Mengusung jargon "Jalanan itu keras" maka semakin menjadi-jadilah keegoisan tiap pengendara di jalanan ibukota.

Pardigma "Jangan pernah memberi peluang orang untuk lewat" atau "pepet lah kendaraan sedekat mungkin dengan kendaraan depan agar tak dipotong" sudah menjadi prinsip dasar bagi tiap pengendara di ibukota.

Belum lagi praktik salip zig-zag baik oleh kendaraan roda 2 maupun roda 4 semakin membuat keadaan lalu lintas Ibukota bagikan benang kusut, sulit mengurainya kembali benar. Maka jangan heran jika semakin berganti tahun, angka kerugian baik materi maupun non-materi semakin meningkat.

Berdasarkan Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas pada Januari hingga November 2011 mencapai Rp 13 miliar.

Angka tersebut mungkin saja akan meningkat atau malah turun dibandingkan kerugian materiil pada 2010 lalu, Sebagai catatan angka kerugian materiil pada 2010 sebanyak Rp 17 miliar dan pada 2009 mencapai Rp11 miliar. Angka kecelakaan di Jakarta per Januari hingga November 2011 sebanyak 6.065 kasus dengan rincian meninggal 884, luka berat 1.991 dan luka ringan 4.808 kasus.

Bayangkan jika kita dapat berkendara dengan tertib dan penuh toleransi di jalanan maka dana sebesar Rp 13 milliar tersebut dapat dialihkan demi kepentingan yang lebih bermanfaat lainnya. Bukan mencoba menyalahkan para pengendara roda 2 namun memang data yang berkata demikian.

Contoh paling mudah adalah sejak awal tahun hingga Oktober saja, korban meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Ibu Kota mencapai 844 orang. Mayoritas pengendara sepeda motor. Jumlah itu mengalahkan korban perang.

Selain itu dikutip dari National Consultant for Injury dari WHO Indonesia (dikutip dari data Kepolisian RI) kecelakaan selama 2007 memakan korban sekitar 16.000 jiwa dan di 2010 meningkat menjadi 31.234 jiwa di Indonesia. Data statistik dari kepolisian RI yang melibat sepeda motor dan mobil dan itu menyebutkan angka kecelakaan terus meningkat.

Maka marilah kita bersama-sama kembali meningkatkan toleransi dalam berkendara di jalan raya. Bahwa jalan raya adalah barang publik. Sedangkan barang publik itu harus bersifat non-rivalry dan non-excludable yaitu tidak dipakai untuk benefit bagi sekelompok pihak saja sedangkan masyarakat lain tak dapat menikmatinya.

Jika kita dapat makin meningkatkan toleransi dalam berkendara maka benefit dari berkendara di jalan raya akan dapat dinikmati oleh semua pihak dan semakin meminimalisir peluang terjadinya kecelakaan yang berakibat hilangnya nyawa dan atau harta benda.

Tapi itu semua kembali kepada Anda semua, apakah Anda memang ingin bersungguh-sungguh ingin merubah ke-brantakan ini atau tetap akan mempertahankan "Jalanan itu keras"?


Haikal Ananta S
Jatibening Permai, Bekasi
haikal.ananta@yahoo.com
+628568836816

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads