Gerhana dan Mitos Tanggal 15

Gerhana dan Mitos Tanggal 15

- detikNews
Rabu, 14 Des 2011 08:58 WIB
Gerhana dan Mitos Tanggal 15
Jakarta - Sebut saja pak Syafri, pendidik sekaligus salah satu unsur pimpinan cabang sebuah ormas Islam berlambang mirip Matahari di salah satu pelosok. Menjelang senja, kala penat masih meraja, kawan karib saya ini datang menyapa dengan muka keruh. Ada apa?

"Terus terang saya bingung," ia memulai untaian kata. Jumat sehari sebelumnya, sebagai takmir masjid ia mengumumkan bakal terjadinya peristiwa langit yang agak langka, kala Bulan tertutupi bayangan Bumi sebagai gerhana Bulan total, pada Sabtu malam 10 Desember 2011.

Maka akan diselenggarakan shalat gerhana, sebagai bagian dari ibadah sekaligus nguri-uri sunnah Nabi SAW. Usai shalat Jumat ia ditanya salah seorang kader muda, apakah benar gerhana Bulan itu bertepatan dengan tanggal 15 Muharram 1433 H? Dengan yakin dijawabnya iya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun setelah terus didesak, ia pun melihat kalender terbitan pengurus pusat ormasnya. Sabtu 10 Desember 2011 ditandai sebagai 15 Muharram. Namun pak Syafri tahu, pergantian hari dalam kalender Hijriyyah bertepatan dengan terbenamnya Matahari, saat adzan maghrib berkumandang. Dan karena seluruh tahap gerhana terjadi setelah maghrib, otomatis gerhana Bulan itu bertepatan dengan 16 Muharram. Gamang pun mulai merataki wajahnya.

"Sebelumnya, saya percaya kalau gerhana Bulan selalu terjadi saat Bulan purnama, seperti yang saya ajarkan ke anak didik maupun audiens dalam majelis taklim. Dan Bulan purnama selalu bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah. Namun kejadian ini bikin saya bingung, dan terus terang ragu."

Saya tercenung. Belum sempat kata bersambut, tiba-tiba suara berderum menggema. Sebuah motor melintas masuk ke halaman. Pria tambun berwajah lucu bersuara bariton yang menaikinya bergegas turun. Tak salah lagi, itu Gus Amir, putra kyai pesantren terkenal di daerah kami sekaligus calon penerusnya. Kali ini keseriusan mewarnai mimik mukanya, tak ada itikad berhumor-humor dulu seperti biasanya.

"Abah mohon penjelasan apakah benar Sabtu malam ini bakal terjadi gerhana Bulan total? Dan apakah saat itu tanggal 15 Muharram ?" cecarnya beruntun dengan tutur kata otoritatif yang sanggup mengintimidasi siapapun. Serius Gus? Ya. Semalaman Abah hampir begadang bersama jama'ah di masjid, menunggu detik-detik terjadinya gerhana Bulan sesuai almanak yang dipegangnya.

Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Meski cuaca cerah dengan sedikit awan mewarnai langit, Bulan tetap saja benderang seolah tak menghiraukan segala penantian umat manusia. Orang pun bubar menggamit rasa kecewa.

"Mendoan dulu gus, monggo pak Syafri," saya mencoba mencairkan kekakuan. Tempe mendoan adalah pengantar obrolan yang populer dalam tradisi Banyumasan yang bakal bikin acara makin gayeng. Sedemikian ngetopnya sehingga pak Ahmad Tohari, budayawan legendaris Banyumasan dari tlatah Tinggarjaya yang terkenal dengan Ronggeng Dukuh Paruk-nya pun membawanya ke khasanah nasional.

Gampang mas. Ini saja dijelaskan dulu. Ujar pak Syafri. Di sampingnya Gus Amir manggut-manggut.

Bergegas saya ke belakang. Saat kembali, beberapa lembar kertas bergambar telah terpegang di tangan, meminta perhatian sepasang tamu itu.

"Ini daftar gerhana Bulan selama empat tahun terakhir. Sejak 2007. Ada gerhana Bulan total, ada pula sebagian. Saya sengaja tidak memasukkan gerhana penumbral kedalamnya karena sulit diamati, meski porsi gerhana jenis ini adalah 35 % dari seluruh gerhana Bulan yang pernah terjadi. Silahkan dicermati, tak seluruh gerhana Bulan itu terjadi pada 15 Hijriyyah. Ada yang pada tanggal 13, ada pula di tanggal 14. Juga ada yang tanggal 15. Bahkan ada pula yang tanggal 16."

Tak butuh waktu lama untuk membuat keduanya ternganga. Awal gerhana Bulan total 28 Agustus 2007 misalnya, terjadi pada 16 Sya'ban 1428 H bagi Indonesia bagian timur namun sebaliknya 15 Sya'ban bagi bagian barat. Demikian halnya awal gerhana Bulan sebagian 26 Juni 2010 yang berlangsung tanggal 13 Rajab 1431 H bagi Indonesia bagian barat dan sebaliknya 14 Rajab untuk bagian timur.

Sedangkan awal gerhana Bulan total 16 Juni 2011 bertepatan dengan 14 Rajab 1432 H bagi seluruh Indonesia. Harap dicatat, tanggal Hijriyyah pada saat-saat gerhana tersebut adalah kompak, yakni dinyatakan jatuh pada saat yang sama oleh berbagai sistem kalender yang dipakai sejumlah ormas Islam yang hobi ribut tiap jelang Ramadhan dan lebaran. Jadi istilahnya tanggal persatuan.

Mengapa hal ini tak diketahui sebelumnya ?

Bapak-bapak turut melaksanakan shalat sunnah gerhana Bulan pas Kamis dinihari 16 Juni 2011 silam kan ? Keduanya mengiyakan. Nah saat itu sempat ngecek tidak, gerhana bertepatan dengan tanggal berapa?

Nggak mas. Nggak mas.

Memang jarang. Urusan tanggal Hijriyyah baru banyak yang ngecek dan ikut nimbrung setelah heboh Idul Fitri 1432 H lalu. Kebetulan kedua tamu saya melaksanakan shalat Idul Fitri secara bersamaan yakni Selasa 30 Agustus 2011, meski keduanya berbeda ormas. Abah gus Amir mendasarkan keputusannya merujuk pesantren besar tempat beliau dulu menuntut ilmu di Jawa Timur.

Abah menyebal dari ketetapan yang telah diputuskan pengurus besar ormasnya. Baik Abah gus Amir maupun ormas pak Syafri lantas menjustifikasi keputusannya berdasarkan Bulan purnama yang diklaim muncul pada Selasa malam 12 September 2011. Agar terkesan lebih kuat lagi, keputusan Saudi Arabia dalam ber-Idul Fitri pun dijadikan justifikasi.

Sejatinya kapan saat terjadinya purnama pada Bulan sulit diidentifikasi mata. Anggaplah purnama terjadi malam ini, maka bentuk Bulan takkan terbedakan dengan 24 jam sebelumnya maupun 24 jam sesudahnya. Kenapa? Karena mata kita adalah detektor yang buruk, tak sanggup membedakan perubahan kecil fase Bulan menjelang puncaknya selama 3 x 24 jam berturut-turut itu.

Mujurnya tersedia fenomena alam yang mampu membuat kita mendeduksi saat-saat purnama dengan mudah. Itulah gerhana Bulan. Puncak gerhana Bulan, entah gerhana sebagian, total maupun penumbral, bertepatan dengan saat Bulan mencapai purnama.

Tak ada gerhana Bulan yang berlangsung 24 jam penuh. Maksimal hanyalah 7 jam, terhitung sejak awal hingga akhir kontak penumbra. Inilah bukti bahwa Bulan purnama pun tak berlangsung 24 jam penuh, namun hanya peristiwa sesaat semata. Sehingga mematok saat terjadinya purnama adalah bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah menjadi tidak tepat.

Kita sering rancu dalam membedakan Bulan dan bulan (Hijriyyah). Bulan adalah benda langit pengawal Bumi yang posisinya kini telah dapat kita perkirakan dengan ketepatan teramat tinggi. Sementara bulan (Hijriyyah) adalah satuan masa bagi kita di Bumi, yang penentuannya didasarkan pada fenomena tertentu terkait posisi relatif Bulan, Bumi dan Matahari. Tapi tidak lantas seluruh pergerakan bulan (Hijriyyah) lantas mengacu sepenuhnya pada posisi dan fenomena Bulan.

Tengoklah umur bulan (Hijriyyah), yang bisa 29 hari atau 30 hari. Memang ini didasarkan pada selisih waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari yang berurutan. Selama ini sebagian kita menganggap selisih waktu itu tepat bernilai 29 hari 12 jam, yang lantas dijadikan patokan kalender. Tapi sejatinya tidak. Selisih waktu itu bervariasi antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 20 jam.

Selisih waktu konjungsi Bulan-Matahari antara September hingga Oktober 2011 lalu misalnya, adalah 29 hari 8 jam. Sementara antara Oktober dan November 2011 menjadi 29 hari 10 jam. Sebaliknya antara Februari dan Maret 2011 silam mencapai 29 hari 18 jam.

Terlalu gegabah jika angka-angka ini diabaikan dan sebagian kita lebih menggunakan angka 29 hari 12 jam sebagai patokan. Padahal itu hanyalah angka rata-rata jangka panjang. Dan lebih gegabah lagi jika angka ini kemudian dijadikan justifikasi untuk menyatakan pertengahannya, yakni purnama, bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah.

Argumen yang dibangun, 29 hari 12 jam dibagi dua kan senilai 14 hari 18 jam, yang lantas dibulatkan ke bilangan bulat terdekat jadi 15. Ini namanya membangun asumsi di atas asumsi, ibarat membangun rumah kertas di atas pondasi rapuh. Saat pondasinya goyah, rumahnya pun runtuh.

Jadi, intinya, jangan mengaitkan Bulan purnama maupun gerhana Bulan dengan tanggal 15. Sebab baik Bulan purnama maupun gerhana Bulan adalah fenomena terkait posisi Bulan, bukan terkait perhitungan masa dalam bulan (Hijriyyah). Antara Bulan dan bulan (Hijriyyah) adalah dua hal yang saling berbeda, meski pada satu titik tertentu keduanya berhubungan.

"Saya bisa menerima mas. Namun Abah akan merasa menjilat ludah sendiri. Abah adalah panutan umat. Dulu Abah bersikukuh ber-Idul Fitri lebih awal dengan menyempal dari keputusan pengurus besar ormasnya karena hasil perhitungannya menyertakan saat Bulan purnama pula, yang dipatok bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah. Dengan kejadian ini, terbuka peluang terjadinya kekeliruan dalam Abah menetapkan Idul Fitri lalu. Implikasinya sangat luas mas. Terbuka kemungkinan Abah harus mengumumkan meng-qadha puasa Ramadhan sehari. Ini berat mas, secara ideologis, sosiologis maupun psikologis."

"Saya juga. Ini berat juga bagi kami untuk menjelaskan ulang ke warga kami lewat majelis taklim. Meski tidak dikoordinir pimpinan pusat, dulu sebagian dari kami ramai-ramai mencoba memantau kapan purnama terjadi di bulan Syawwal 1432 H. Baik dari pengajian Bulan purnama di Yogyakarta hingga lembaga-lembaga penelitian yang bernanung di bawah perguruan-perguruan tinggi seperti di Jakarta.

Itulah salah satu faktor yang membuat kami yakin keputusan ber-Idul Fitri lalu sudah benar. Apalagi keputusan itu segendang sepenarian dengan keputusan Saudi Arabia. Makanya kami tak peduli apa kata orang. Apalagi takdir sejarah ormas kami memang selalu disalahkan pada awal mulanya, namun kemudian mendapatkan pembenaran. Kini, gerhana Bulan ini membuat wajah saya ditempelak sengit.

Apalagi Saudi Arabia diwartakan menyatakan 10 Muharram bertepatan dengan Selasa 6 Desember 2011. Sementara kalender kami menetapkan sehari lebih awal. Terus terang, saya seperti kehilangan pegangan dalam urusa n kalender," tukas pak Syafri.

Masalah fikih bapak-bapak tentu lebih memahami. Segala keputusan terkait penetapan Lebaran dan Ramadhan berada dalam ranah ijtihadiyah. Salah memutuskan dapat satu pahala, sementara bila benar dapat dua. Maka yang sudah ya sudahlah, nggak perlu diungkit-ungkit. Analoginya seperti pas kita dulu ngobrol soal tanah pemakaman. Makam-makam lama kan tak perlu diutak-atik, meski pas kita ukur ketahuan arahnya tidak menuju kiblat.

Yang perlu dikiblatkan cukup makam-makam baru saja. Sama halnya dengan soal Lebaran dan Ramadhan. Mari antisipasi agar Ramadhan dan Lebaran kelak nggak seperti kemarin. Sebab entah kubu manapun yang benar, situasi itu tidak mengenakkan bagi siapapun. Dalam spektrum yang lebih luas, kita juga sulit mengangkat wajah di tengah keragaman umat manusia.

Sebab untuk urusan kalender saja, hal mendasar yang menjadi daya lenting peradaban, kita masih bertikai tak berkeruncingan. Apalagi untuk hal lain yang lebih kompleks.

Kalender itu soal keyakinan. Namun ini juga soal konsensus antar manusia. Kalender Hijriyyah memang didasari firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW. Tetapi posisi keduanya lebih kepada memberikan koridor. Sementara terkait operasionalnya, adalah konsensus kita untuk menjadikannya seperti apa, dengan tetap berpegang pada koridor itu. Inilah yang selama ini belum kita lakukan.

Pemuka-pemuka ormas kita masih banyak yang lebih suka berasumsi dan tarik-ulur bermain kata-kata ketimbang berdasarkan data. Inilah jeleknya. Padahal astronomi sudah bersusah-payah dengan segala observasi dan pemodelan matematis untuk menyuguhkan data yang dibutuhkan. Data yang absah dan reliabel. Namun jarang sekali kita gunakan.

Pemuka-pemuka kita entah kenapa lebih suka dengan data yang sulit diterima keabsahannya. Belakangan sebagian juga menjadikan purnama atau keputusan Saudi Arabia sebagai alat penguat. Nah, giliran terjadi gerhana Bulan seperti ini dan keputusan Saudi Arabia soal 10 Muharram pu n berbeda, langsung semua bungkam tergigit lidah.

Saudi Arabia memang faktor penting. Tetapi jarang yang tahu kalau Saudi Arabia itu mencla-mencle dalam urusan kalender. Ada dua hukum tak tertulis yang berlaku di sana. Pertama, dalam urusan Ramadhan atau Idul Fitri, lebih cepat itu lebih baik. Sementara dalam urusan Idul Adha, sebisa mungkin hari raya jangan jatuh di hari Sabtu agar terhindar dari situasi haji akbar yang secara tradisi menguras anggaran. Makanya, meski kemana-mana Saudi Arabia mewartakan diri sebagai pemakai wujudul hilaal, dalam praktiknya tidak seperti itu.

Saya kira, selain urusan kalender, dalam gerhana ini ada hal lain yang lebih penting. Memang shalat gerhana hanyalah anjuran, namun bapak-bapak tentu lebih paham, sifat anjurannya adalah sangat dianjurkan atau ditekankan. Inilah yang bikin kita miris. Tidak semua masjid menyelenggarakan shalat gerhana. Bahkan kabarnya masjid kabupaten pun enggak. Padahal secara teknis tidaklah sulit, sama halnya dengan shalat Jumat.

Syukurlah kalo masjid panjenengan berdua hendak menyelenggarakan. Kita musti lebih banyak berjuang, bagaimana nguri-uri sunnah Nabi SAW yang satu ini. Selain itu juga bagaimana mendidik generasi kita lebih memahami fenomena alam yang menakjubkan ini.

Ada banyak aspek terkait gerhana, mulai dari pencocokan sistem perhitungan posisi Bulan alias sistem hisab, hingga menguji bersih tidaknya atmosfer yang terkait dengan dinamika iklim Bumi. Makanya gerhana Bulan apapun selalu unik, jangan dipandang enteng.

"Iya mas. Terimakasih. Makanya saya juga mohon pamit. Saya ingin menjelaskan panjang lebar hal-hal ini ke Abah, mumpung masih anget. Sekaligus menyiapkan urusan shalat gerhana nanti malam."

Lho, nggak medang dulu gus? Ini mendoannya juga masih anget, nanti nggak ada yang nyicip. Sayang lho. Maturnuwun, kata gus Amir sembari siap beranjak.

"Saya juga mohon pamit. Penjelasannya cukup memuaskan. Saya ingin menuangkannya ke dalam butir-butir penjelasan untuk nanti malam, sebelum pelaksanaan shalat gerhana dimulai. Supaya warga kami juga memahami situasinya," imbuh pak Syafri.

Kalo memang begitu ya saya nggak akan menahan. Monggo, ndherekaken. Semoga hal-hal ini bisa terjelaskan juga ke saudara-saudara kita, dimanapun pak Syafri dan gus Amir berada.

Keduanya pun berpamitan sembari ber-uluk salam.

Di luar langit telah menguning. Tanda Matahari sebentar lagi bakal berlabuh ke peraduannya. Sekaligus menarik tirai kegelapan menyelubungi semuanya. Dan giliran Bulan bertahta dengan segala pertunjukan menariknya.


Muh. Ma'rufin Sudibyo
Jl. H. Abubakar 12 Kebumen
marufins@yahoo.com
0817727823

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads