Komodo, New 7 Wonders dan Erosi Keanekaragaman Hayati

Komodo, New 7 Wonders dan Erosi Keanekaragaman Hayati

- detikNews
Selasa, 01 Nov 2011 10:55 WIB
Komodo, New 7 Wonders dan Erosi Keanekaragaman Hayati
Jakarta - Taman Nasional Komodo (TNK) adalah satu-satunya tumpuan harapan Indonesia untuk melaju ke babak final masuk 7 besar dalam N7WS Of Nature (Keajaiban Dunia Baru Kategori Alam) setelah Candi Borobudur tergeser memasuki 7 Keajaiban Dunia Baru untuk kategori keajaiban dunia hasil budaya manusia (man made) pada tahun 2007.

Bersamaan dengan hasil polling dunia oleh New 7 wonders tersebut, kegagalan juga diikuti dengan tidak lolosnya Gunung Anak Krakatau dan Danau Toba untuk kategori keajaiban alam. Untuk dapat meloloskan TNT yang memiliki satwa langka yang dipercaya sebagai 'dinosaurus terakhir' di muka bumi ini agar menjadi pemenang New7Wonders, dibutuhkan dukungan sekitar 25 juta layanan pesan singkat (SMS) ke 9818.

Sebenarnya, Pulau Komodo sudah melewati dua fase seleksi sebelumnya dengan sukses. Fase pertama, berlangsung sejak Desember 2007 hingga 7 Juli 2009, dilakukan untuk memilih 77 nominasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, dari 77 nominasi tersebut terpilih 28 kandidat finalis yang diumumkan pada 21 Juli 2010 lalu. Dari 28 kandidat finalis resmi tersebut, termasuk TNK akan dipilih lagi tujuh keajaiban dunia yang paling banyak mendapat suara dari berbagai negara di dunia pada tanggal 11 November 2011 pukul 11.11 waktu Swiss.

Meskipun sekelompok aktifitas lingkungan dan komunitas pencinta Komodo terus berupaya memenangkan pulau Komodo masuk sebagai salah satu dari 7 Keajaiban alam dunia baru dengan berbagai cara seperti program "Komodo: The Real Wonder of The World" melalui dukungan SMS dan konser sejak didaftarkannya.

Namun tanggal 15 Agustus 2011 lalu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) secara resmi menarik Taman Nasional Pulau Komodo sebagai suatu destinasi wisata internasional dari posisi finalis calon 7 Keajaiban Dunia atau New7 Wonder of nature (N7WN).

Langkah penarikan TNK sebagai finalis dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban alam baru tersebut yang akan dideklarasikan pada 11 November 2011 mendapat respon pro dan kontra dari berbagai pihak. Adapun alasan Kembudpar mencabut pencalonan tersebut karena yayasan N7WN sebagai penyelenggaranya dinilai tidak profesional, tidak konsisten, dan tidak transparan.

Yayasan itu juga meminta dana yang terlalu besar yakni Rp 402 miliar k epada pemerintah Indonesia sebagai pembayaran license fee untuk menjadi menyelenggara final 7 Keajaiban Dunia di Indonesia. Kemenbudpar harus menyiapkan 35 juta dolar AS untuk biaya penyelenggaraan deklarasi (Kompas/8/2011).

Bukan JK kalau tidak gesit dan bekerja lebih cepat lebih baik. Sejak terpilih menjadi Duta Besar Komodo pada 3 Oktober 2011 lalu, Jusuf Kalla terus bergerilya menggalang dukungan untuk mendukung terwujudnya TNK sebagai kawasan konservasi dan destinasi pariwisata internasional di Indonesia melalui branding Komodo the Real Wonder of the World.

Setelah mengundang para pimpinan media, JK melakukan penandatanganan kerjasama dengan empat provider atau operator telepon seluler terkemuka di Indonesia untuk memperoleh layanan termurah dalam proses menggalang jutaan dukungan untuk kemenangan Komodo. JK bahkan juga telah mengajak SBY untuk memimpin pengiriman SMS serentak di seluruh Indonesia.

Harapan tentunya, Jika Taman Nasional Komodo menjadi pemenang New7Wonders, antusiasme turis-turis asing yang datang ke Pulau Komodo akan bertambah banyak. Hal ini tentu akan membawa perubahan ekonomi nasional dengan bertambahnya devisa, terutama bagi masyarakat NTT.

Potensi dan problem keanekaragaman hayati

Vandana Shiva seorang ahli fisika dan filsafat yang juga aktivis lingkungan hidup dari India menyatakan bahwa ada dua penyebab utama erosi keragaman hayati (kehati), yang pertama yakni kerusakan habitat terutama yang berhubungan dengan proyek – proyek mega seperti pembangunan bendungan dan jalan – jalan raya, serta kegiatan pertambangan di kawasan yang kaya akan keragaman hayati.

Sedangkan penyebab kedua adalah adanya dorongan ekonomi dan teknologi untuk menggantikan keragaman dengan homogenitas pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan peternakan.

Para ilmuwan juga memperkirakan bahwa rata – rata kepunahan saat ini mencapai 10.000 spesies pertahun (satu spesies perjam). Maka selama 30 tahun mendatang, satu juta spesies akan hilang.

Indonesia adalah salah satu negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik tingkat ekosistem, spesies flora maupun fauna, serta sumber daya genetik.

Keanekaragaman hayati (kehati) merupakan sumberdaya vital bagi keberlajutan pembangunan nasional. Namun sayangnya, berbagai kegiatan yang dilakukan telah menyebabkan ancaman kepunahan keanekaragaman hayati. Meningkatnya laju kerusakan lingkungan dan habitat dipercayai sebagai faktor utama menurunnya keanekaragaman hayati dunia (biodiverisatas) dunia.

Kerusakan habitat yang makin cepat menyebabkan dunia berada pada krisis biodiversitas. Jika lingkungan, terutama ekosistem tropis, terus-menerus dihancurkan, dalam seabad bumi akan kehilangan setengah spesies penghuninya, termasuk Taman Nasional Komodo yang merupakan satu-satunya wilayah konservasi dimana didalamnya terdapat habitat asli satwa purbakala endemik Komodo.

FAO memperkirakan hanya dalam kurun waktu 177 tahun lagi hutan tropis di dunia akan habis ditebang, hal tersebut merupakan hasil perhitungan bersih yakni dengan memadukan usaha reboisasi serta pertumbuhan alami. Dengan demikian bahaya yang nyata menghadang di depan kita yang menimbulkan dampak bagi kehidupan dan ekosistem bumi di tahun-tahun mendatang.

Masyarakat dunia telah ribuan tahun lamanya telah mengembangkan pengetahuan dan menemukan cara - cara untuk memperoleh kehidupan yang berasal dari keragaman hayati yang terdapat di alam.

Oleh karena itu, komitmen dari semua pihak, pemerintah, akademisi, peneliti dan masyarakat dimanapun untuk turut serta dalam pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan masyarakat.

Pulau Komodo di bagian barat Pulau Flores, atau di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli satwa komodo. Total luas pulau ini adalah 1.817 kilometer persegi (603 kilometer persegi terdiri dari daratan). Sedangkan Komodo, satu satunya keturunan hewan purba semasa Dinosaurus 40 juta tahun lalu yang masih bertahan hidup hingga kini di wilayah Flores.

Menurunnya populasi Komodo di wilayah konservasi Taman Nasional Komodo yang berdiri 1980 dan telah menjadi Situs Warisan Dunia (world heritage) dan Cagar Biosfiir oleh UNESCO sejak tahun 1986 ini disebabkan karena semakin rusaknya habitat sehingga berkurangnya sumber makanan untuk penyambung hidup hewan langka ini.

*Penulis adalah Dosen UNHAS dan Pemerhati lingkungan


Andi Iqbal Burhanuddin
Jl. Sunu FX-5, Kompl Unhas Baraya, Makassar
iqbalburhanuddin@yahoo.com
0811441491

(wwn/wwn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini