Patologi Energi dan Pelantikan Menteri ESDM Baru

Patologi Energi dan Pelantikan Menteri ESDM Baru

- detikNews
Senin, 24 Okt 2011 11:23 WIB
Patologi Energi dan Pelantikan Menteri ESDM Baru
Jakarta - Akhirnya presiden SBY telah memilih beberapa pembantu barunya untuk menduduki komposisi kabinet Indonesia bersatu jilid II. Baik yang digeser posisinya maupun wajah-wajah anyar di dalam kabinet. Termasuk di dalamnya jabatan wakil menteri.

Para menteri tersebut diantaranya ialah:

  • Menteri ESDM (Jero Wacik), Menteri Perhubungan (EE Mangindaan),
  • Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Marie Elka Pangestu),
  • Menteri Perdagangan (Gita Wirjawan),
  • Menteri Hukum dan HAM (Amir Syamsuddin),
  • Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Azwar Abu bakar),
  • Menteri BUMN (Dahlan Iskan),
  • Kepala BIN (Letjen TNI Marciano Norman),
  • Menteri Lingkungan Hidup (Berth Kambuaya),
  • Menteri Kelautan dan Perikanan (Cicip Syarif Sutardjo), Menteri Perumahan Rakyat (Djan Faridz), dan
  • Menristek (Gusti Muhammad Hatta).

Meski tercium adanya aroma kepentingan politis, perombakan kabinet inipun memang dirasa perlu dikarenakan kinerja kabinet sebelumnya yang memang belumlah optimal dalam memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eksak, dipilih untuk menjabat sebagai menteri jelas merupakan amanat berat yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat. Hal inipun menjadi semakin berat disaat jabatan itu jauh dari bimbingan wahyu, melainkan dalam bimbingan sekuler-kapitalisme.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyoroti posisi menteri ESDM yang kini dijabat oleh Jero Wacik. Lembaga kementerian yang membidangi sektor pertambangan dan energi. Jero Wacik digeser dimana sebelumnya menjabat sebagai menteri kebudayaan dan pariwisata.

Terkait sektor energi, negri ini memiliki banyak ragam sumber energi. Sebuah potensi besar yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepada negri yang bernama Indonesia. Namun ironisnya, kita belum mampu mengurusi harta yang dimiliki. Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang justru bertolak belakang dengan kepentingan rakyat.

Entah itu dalam hal persoalan BBM Bersubsidi, produksi minyak atau gas, infrastruktur sektor energi , ataupun pemanfaatan energi terbarukan yang masih minim akselerasi.

Sejatinya persoalan mendasar pada sektor ini ialah liberalisasi yang kini tengah mencengkeram. Liberalisasi migas misalnya semakin kuat ketika pemerintah menetapkan UU Migas Nomor 22 tahun 2001, yang pembuatannya dibantu oleh USAID dan ADB.

Kholid Syirasi (Di Bawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesia, penerbit: LP3ES, Jakarta) juga menulis, USAID menggelontorkan dana kepada LSM dan akademisi di berbagai perguruan tinggi sebesar 850.000 dollar AS. Sedangkan bahasa halus dari program USAID ini adalah reformasi sektor energi di Indonesia.

Alhasil, kini 70% industri migas Indonesia dikuasai Amerika Serikat. Terutama yang tergabung dalam tujuh kartel raksasa minyak dunia, di antaranya Shell, Total, Chevron, BP, ExxonMobil, dsb. Padahal, melihat data pada tahun 2007, cadangan minyak Indonesia diperkirakan sekitar 3.988.74 ribu barrel dengan cadangan potensial 4.414.57 ribu barrel.

Total mencapai 8,4 miliar barrel. Sementara cadangan gas alam diperkirakan 106.01 triliun kaki kubik dengan cadangan potensial 58,98 triliun kaki kubik. Dengan persediaan migas sebesar itu, Indonesia bisa menjadi pemasok 0,4 persen minyak dunia dan 1,7 persen kebutuhan gas dunia. (Di Bawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesia, penerbit: LP3ES, Jakarta)

Fakta semacam ini sudah seharusnya menyadarkan seluruh komponen bangsa untuk segera berbenah. Dan sistem Islam adalah pilihan tepat dan pilihan akal sehat untuk menuju Indonesia yang lebih baik, setelah gagalnya ideologi sosialisme yang dijiwai orde era orde lama dan kapitalisme oleh orde baru sampai sekarang.

Dalam sistem Islam, sektor barang tambang termasuk energi migas merupakan kepemilikan umum yang seharusnya merupakan milik rakyat. Dikelola oleh negara dan diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat.

Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang, air, dan api (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Sebuah hadits menceritakan terkait barang tambang ini bahwa: Sesungguhnya, Abyad bin Hammal mendatangi Rasulullah Saw, dan meminta beliau Saw agar memberikan tambang garam kepa-danya. Ibnu al-Mutawakkil berkata, "Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma'rib."

Nabi Saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, "Tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir", Ibnu al-Mutawakkil berkata, "Lalu Rasulullah SAW mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyad)" (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu, perubahan secara tambal sulam bukanlah solusi yang pas. Indonesia butuh perubahan yang bersifat sistemik, yakni perubahan menyeluruh ke arah sistem Islam. Karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Bukan bermaksud ingin menyepelekan kapabelitas Jero wacik, tapi apa yang bisa dilakukan oleh mantan menteri kebudayaan dan pariwisata ini jika tangannya diborgol oleh sistem sekuler-kapitalisme saat menjalankan roda kementeriannya. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Analis CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)


Ali Mustofa
Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Surakarta
bengawanrise@gmail.com
085642200044

(wwn/wwn)


Berita Terkait