PSSI Rasa LPI, Kompetisi Tanpa VISI

PSSI Rasa LPI, Kompetisi Tanpa VISI

- detikNews
Rabu, 05 Okt 2011 10:28 WIB
PSSI Rasa LPI, Kompetisi Tanpa VISI
Jakarta - Pengurus PSSI sudah menetapkan kompetisi ISL musim ini akan diikuti 24 klub, sebuah keputusan yang berani karena melanggar aturan terutama Statuta PSSI yang harus dijunjung tinggi, dan tidak boleh dilanggar.

Diakui atau tidak PSSI kini beraroma LPI. Kemenangan kubu Jenggala lewat Djohar Arifin Husin - Farid Rahman benar-benar merevolusi persepakbolaan Indonesia. Revolusi ke titik nadir, revolusi menuju kehancuran. The winner takes All, tanpa pandang bulu terhadap semua peninggalan kabinet lama, saya yakin, pada akhirnya akan dirasakan kembali oleh Djohar Arifin Husin dan kabinetnya.

Mereka akan merasakan dampak kesombongan mereka, tanpa mau melihat peninggalan apa yang telah diwariskan oleh yang dulu, tanpa mau mempelajari apa saja yang bisa diambil dari apa yang dulu sudah ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Okelah kalau orang mengatakan: biarlah pengurus PSSI yang sekarang bekerja dulu, biar mereka membuktikan kemampuannya jangan dihujat melulu. Tapi kita harus sadar untuk membangun sesuatu yang bagus harus diawali dengan start yang baik.

Beda halnya dengan PSSI kabinet baru ini yang justru membangun sepakbola tanpa memakai peraturan yang berlaku. Aturan ditabrak demi kelompok atau golongan tertentu.

Pengurus PSSI yang sekarang mungkin alergi dengan aturan dari era Nurdin Halid, tapi mereka harus sadar bahwa selama aturan itu belum diubah lewat kongres PSSI, maka suka atau tidak suka peraturan itu tetap harus ditaati.

Kini PSSI ngotot tetap mempertahankan kompetisi 24 klub. Promosi gratis kepada 6 klub diluar eks Liga Super Indonesia (LSI) dan 4 klub promosi.

Banyak yang mempertanyakan, jika pada awalnya PSSI gencar membuka pintu selebar-lebarnya bagi klub dari berbagai divisi untuk ikut di kompetisi teratas asal memenuhi syarat, maka untuk apa semua itu dilakukan jika pada akhirnya pesanan sponsor yang lebih diperhatikan.

Setelah memutuskan melalui forum resmi yaitu Rapat Komite Eksekutif bahwa kompetisi Level I diikuti 14 klub Liga Super Indonesia musim lalu ditambah 4 klub promosi divisi utama, PSSI akhirnya memutuskan kompetisi diikuti 24 klub. Keputusan ini tidaklah diambil melalui rapat komite eksekutif. Keputusan ini disampaikan Ketua Komite Kompetisi Sihar Sitorus pada hari Selasa, 27 September 2011.

Selain 18 klub yang sudah masuk daftar, PSSI memasukkan Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persibo Bojonegoro, Persema Malang, Bontang FC, dan PSMS Medan.

Alasan dibalik 6 klub yang tiba-tiba masuk daftar cukup menggelikan. Ada beberapa alasan PSSI :

1. Menghormati faktor sejarah klub. Klub berasal dari kota yang mempunyai sejarah sepakbola,
2. Permintaan Sponsor,
3. Khusus Bontang FC, PSSI beranggapan mereka "dikerjai" musim lalu sehingga degradasi.

Padahal fakta menunjukkan bahwa kegagalan Bontang FC untuk bertahan di Liga Super Indonesia, dikarenakan faktor non teknis yaitu soal gaji pemain yang ditunggak berbulan-bulan karena manajemen kehabisan dana.

Mental, konsentrasi, fokus pemain pun luntur karena masalah ini. Entah dari fakta yang mana PSSI bisa menyimpulkan bahwa Bontang FC turun divisi karena dikerjai.

Masuknya 6 klub ini mementahkan verifikasi yang digelar PSSI jauh - jauh hari. Kenyataannya klub - klub ini ditunjuk lebih karena faktor sentimentil bukan melalui syarat - syarat yang ditetapkan oleh PSSI.

Semua orang bisa menilai, dari 6 klub ini bisa dibilang Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar bisa naik ke kompetisi level 1 musim depan adalah karena mereka ikut ambil bagian di LPI.

Padahal jika mau jujur, Persema Malang dan Persibo Bojonegoro status keanggotaan mereka belum diaktifkan kembali setelah dicabut akibat keikutsertaan mereka dalam LPI musim lalu.

Untuk mengaktifkan status keanggotaan mereka hanya bisa melalui kongres. Bahkan jika status anggota mereka telah pulih seharusnya mereka mulai berkompetisi dari divisi III sesuai dengan peraturan PSSI.

PSMS Medan. Selain klub ini merger dengan eks klub LPI, Bintang Medan, juga klub ini dimiliki oleh Ketua Komite Kompetisi Sihar Sitorus. Jika menilik faktor sejarah Djohar Arifin Husin, Ketum PSSI, merupakan eks pemain PSMS. Merger PSMS Medan-Bintang Medan bisa dibilang tonggak program merger yang ditawarkan, secara diam-diam dipaksakan, agar diterima klub LSI.

Padahal di dalam Statuta PSSI Pasal 15 (h) dijelaskan bahwa anggota PSSI tidak menjalin hubungan keolahragaan dengan pihak yang tidak dikenal atau dengan anggota yang diskorsing atau dikeluarkan.

Pasal ini ada implikasinya pada saat berlangsungnya kompetisi mendatang, jangan salahkan bila klub tidak mau bertanding dengan Persibo dan Persema, karena mereka masih diskorsing oleh PSSI dan belum dicabut lewat kongres.

Kompetisi direncanakan kick off 15 oktober 2011 dan berakhir Oktober 2012. Sungguh suatu perjalanan yang panjang. Setiap klub bertanding 46 kali. PSSI nampaknya tidak memikirkan kiprah klub Indonesia di liga Champions Asia dan AFC Cup. Jika kompetisi baru selesai Oktober sedangkan pendaftaran peserta Liga Champion terakhir bulan Juni 2012, buat apa klub yang sudah berdarah-darah ikut kompetisi tapi tidak bisa berkiprah di Asia.

*Penulis adalah Anggota Komite Eksekutif dan Ketua Komite Hukum PSSI


Miko M Akbar
Residen Sudirman No 1 Surabaya
makbar68@gmail.com
081330107777


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads