Memerangi Bencana Kelaparan Somalia

Memerangi Bencana Kelaparan Somalia

- detikNews
Kamis, 08 Sep 2011 12:58 WIB
Memerangi Bencana Kelaparan Somalia
Jakarta - Dari hari ke hari, bencana kelaparan yang melanda negeri tanduk Afrika, Somalia, semakin mengerikan saja. Sebagai sesama manusia, kita di Indonesia juga dituntut untuk bisa berkontribusi dan proaktif dalam mebantu upaya dunia internasional memerangi bencana kelaparan di Negara tersebut.

Data Memilukan

Berikut ini sekelumit data-data yang sangat memilukan dari Sekitar 750.000 orang dapat meninggal karena kekeringan yang akan memburuk di Somalia dalam beberapa bulan ke depan, kata PBB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puluhan ribu orang tewas karena kekeringan terburuk Afrika Timur dalam 60 tahun. "Secara keseluruhan, empat juta orang mengalami krisis di Somalia, 750.000 beresiko meninggal dalam empat bulan ke depan karena respon yang tidak memadai," kata Unit Analisa Nutrisi dan Keamanan Pangan PBB (detik.com. Selasa, 6/9/2011).

Menurut Perwakilan PBB untuk Somalia, Augustine Mahiga, di zona kelaparan tersebut, lebih dari 13 anak per 10 ribu anak di bawah lima tahun meninggal setiap harinya. "Ini artinya 10 persen anak-anak di bawah lima tahun meninggal setiap 11 pekan. Angka ini benar-benar memilukan hati," ujarnya (detik.com. Kamis, 11/08/2011)

Masih menurut PBB, setidaknya dibutuhkan lagi US$2 miliar (Rp 17 triliun) untuk benar-benar membantu 12 juta korban kekeringan. Sedikitnya 12 juta jiwa di Somalia dan beberapa negara tetangga (Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Kenya dan Uganda ) kini butuh bantuan darurat, seru PBB (detik.com. Kamis, 25/08/2011).

"Sangat tak bisa dimengerti bahwa pada 2011 ada orang yang mesti menemui ajal akibat kelaparan…". "Saat kami menulis, lebih dari 11 juta orang menderita kesakitan parah akibat kelaparan terburuk di Afrika selama bertahun-tahun".

Ungkapan tersebut merupakan bagian dari surat bersama yang ditulis oleh Bob Geldof, Stephen Fry dan Eddie Izzard yang bergabung dengan selebritis dan pegiat lain dalam "One", kelompok kampanye guna mengatasi kemiskinan yang didirikan oleh penyanyi dan pegiat Bono, sebelum dimulainya pembicaraan darurat di Roma tentang bencana kelaparan di Afrika Timur (Republika.co.id. Senin, 25 Juli 2011).

UNICEF memperkirakan, 1,25 juta anak di Somalia selatan sangat memerlukan pertolongan, termasuk 640.000 anak yang kini mengalami kelaparan akut.

Ibu-ibu terpaksa meninggalkan bayi mereka di sepanjang jalan dan memiliki pilihan mengerikan: menyelamatkan yang lebih kuat demi yang lemah atau mereka yang memiliki anak meninggal dalam pelukan mereka.

Negara berpenduduk mayoritas Muslim tersebut melewati bulan Ramadhan lalu dengan sangat memprihatinkan. "Sungguh amat memilukan, banyak Muslim Somalia berpuasa tanpa sahur (makan menjelang fajar) akibat kekurangan pangan," tulis wartawati Mesir, Noha Radwan, di harian Al Anba, Kamis (4/8).

Noha mencatat, tidak ada makanan yang biasanya bertebar menjelang berbuka di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan di seputar tempat ibadah. Yang ada adalah penderitaan dan kekurangan pangan yang makin mencemaskan dengan banyaknya anak-anak meninggal tiap hari akibat kekurangan gizi dan kelaparan.

Seperti dikutip dari Al Jazeera, Brigety, Pejabat Pemerintah AS, mengatakan, "tingkat keseluruhan kematian di kamp-kamp Ethiopia adalah tujuh orang dari 10.000 per hari. Normalnya, tingkat kematian dalam situasi krisis hanya dua per hari," tegasnya.

Derma Indonesia

Sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya pemerintah kita berada di garda terdepan, dengan dua alasan. Pertama, kita telah sering menjadi beneficiary (penerima manfaat) dari penggalangan dana internasional dalam musibah seperti Tsunami di Aceh dan Nias serta Yogyakarta.

Kedua, sesungguhnya potensi filantropi kita dengan zakat sebagai domain utamanya amat besar. Berdasarkan survei yang dilakukan BAZNAS dengan Intitut Pertanian Bogor dan Islamic Development Bank awal 2011 lalu, jumlah zakat yang bisa dihimpun mencapai Rp217 triliun per tahun. Jumlah tersebut belum termasuk infaq, sadaqah, dan atau wakaf.

BAZNAS dan FEM IPB mengklasifikasikan potensi zakat nasional ini ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, potensi zakat rumah tangga secara nasional.

Kedua, potensi zakat industri menengah dan besar nasional, serta zakat BUMN. Potensi yang dihitung pada kelompok yang kedua ini adalah zakat perusahaan, dan bukan zakat direksi serta karyawan. Ketiga, potensi zakat tabungan secara nasional.

Potensi zakat rumah tangga secara nasional mencapai angka Rp 82,7 triliun. Angka ini equivalen dengan 1,30 persen dari total PDB. Sedangkan potensi zakat industri mencapai angka Rp 114,89 triliun. Pada kelompok industri ini, industri pengolahan menyumbang potensi zakat sebesar Rp 22 triliun, sedangkan sisanya berasal dari kelompok industri lainnya. Adapun potensi zakat BUMN mencapai angka Rp 2,4 triliun.

Khusus mengenai potensi zakat industri ini, yang dihitung adalah zakat dari laba bersih yang dihasilkan, sebesar 2,5 persen.

Jika mengikuti formula Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal, dimana modal, inventory (persediaan), dan piutang yang diterima dihitung sebagai penambah zakat, serta utang jatuh tempo perusahaan sebagai pengurang zakat, maka angka potensi zakatnya bisa lebih besar lagi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa potensi zakat industri ini adalah potensi zakat minimal yang dapat dihasilkan.

Sementara itu, potensi zakat tabungan mencapai angka Rp 17 triliun. Angka ini didapat dari penjumlahan potensi dari berbagai aspek, antara lain potensi zakat tabungan di bank syariah, tabungan BUMN atau pemerintah campuran, badan usaha bukan keuangan milik negara, bank persero dan bank pemerintah daerah.

Tabungan yang dihitung adalah yang nilainya berada di atas nishab 85 gram emas. Khusus mengenai tabungan di bank syariah, potensi zakat giro wadi’ah dan deposito mudharabah mencapai angka masing-masing sebesar Rp 155 miliar dan Rp 740 miliar.

Jika diagregasikan, maka nilai potensi zakat secara nasional mencapai angka Rp 217 triliun, atau setara dengan 3,40 persen dari total PDB. Angka ini akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah PDB. Tingginya prosentase potensi zakat terhadap total PDB merupakan bukti bahwa zakat dapat dijadikan sebagai instrumen penting untuk menggerakkan perekonomian nasional, khususnya kelompok dhuafa.

Oleh karena itu, penulis mengusulkan dua hal. Pertama, pemerintah pusat segera melakukan penggalangan dana secara intensif pada seluruh elemen masyarakat dari Sabang hingga Merauke, seperti yang telah dan sedang dilakukan Arab Saudi dan Turki.

Kedua, meskipun tidak semua potensi zakat itu bisa terhimpun –hanya 1,5 trilyun pertahun- paling tidak 25 persen saja dari yang terhimpun tahun ini bisa didermakan untuk sahabat-sahabat kita di Somalia.

Dengan begitu, Indonesia telah melaksanakan kewajibannya sebagai bagian dari entitas dunia internasional, disamping juga merupakan pembuktian bahwa Negara ini masih ada dan peduli terhadap sesama. Semoga

*Penulis adalah Livelihood Program Officer Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi


Ahmad Arif
Jl. Tuan Dipakeh II No. 1 Jaya Baru, Banda Aceh
banta_lw2@yahoo.com
081360295521

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads