Mereka yang menjadi TKI adalah contoh bahwa perempuan memiliki potensi ekonomis. Padahal, tanpa menjadi TKI pun, perempuan dapat memaksimalkan potensi tersebut.
Sebut saja Tuminah, warga RT 015 RW 02 Kampung Rawa Palangan, Kelurahan Telaga Murni, Cikarang Barat, Bekasi. Dia hanyalah mantan buruh pabrik boneka di kawasan Bekasi Barat. Tujuh tahun Tuminah bekerja di pabrik tersebut. Setahun sebelum krisis ekonomi melanda, Tuminah keluar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, Tuminah pun mampu mengembangkan usahanya. Setelah 10 tahun berjalan, ia bisa mengirim bonekanya ke Jakarta, Solo, Bandung, Surabaya, bahkan sampai ke Lombok dan Kalimantan. Kini, di rumah produksinya, ada 50 perempuan tetangganya yang ikut bekerja.
Contoh lainnya, Euis dari Conggeang Kulon, Sumedang. Euis mulai merintis usaha penjualan krupuk opak dengan modal dua liter beras ketan dan mencoba titip opak di beberapa rumah makan di Conggeang. Selain ke rumah makan besar di kota Sumedang, ia juga mencoba ke sentra penjual oleh-oleh khas daerah.
Usaha itu menampakkan hasil yang bagus. Ketika kemudian ditawarkan ke supermarket di Bogor, Subang, dan Garut, pesanan ternyata lumayan banyak. Satu supermarket rata-rata memesan sampai 1.000 bungkus per minggunya.
Dua contoh kecil yang dikutip dari buku "Perempuan Inspiratif Jawa Barat" ini mungkin bisa menginspirasi kita semua, terutama kaum perempuan, bahwa untuk menjadi besar dan sukses, bekalnya adalah tekad yang kuat, kemauan, dan kemampuan. Dan jangan lupa, segala yang besar selalu dimulai dari yang kecil-kecil dulu.
Rasanya, kita tak perlu menunggu industri besar maju dulu untuk mencegah eksodus tenaga kerja kita ke luar negeri. Tetapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita mengawal kaum perempuan untuk berdaya memberdayakan dirinya, keluarganya, dan lingkungannya. Dengan bimbingan, mereka bisa maju dan berkembang menciptakan industri sekaligus menciptakan lapangan kerja secara mandiri.
Di sini, pemerintah dituntut aktif untuk membantu memberdayakan kaum perempuan secara utuh, agar bisa lebih maju demi memaksimalkan pasar dalam negeri. Perempuan memiliki potensi untuk mengembangkan pasar dalam negeri.
*Penulis adalah Peneliti el-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang
M Nafiul Haris
Jl. Menoreh Tengah XII/22 Sampangan Semarang
nafiulharis@yahoo.com
085740576843
(wwn/wwn)











































