Namun demikian, bukan berarti tak ada mahasiwa yang giat menulis. Masih ada mahasiswa yang menghayati perilaku menulis.
Mahasiswa yang menulis maupun yang malas menulis barangkali bisa dilihat dari prestasi non akademiknya. Jarangnya mahasiswa membuat karya tulis ilmiah dan karya penelitian menjadi salah satu penyebabnya, sehingga mengakibatkan mereka tak kunjung lulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menulis merupakan kemampuan yang perlu diasah oleh mahasiswa. Mengutip perkataan Agus Sartono, Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional, mahasiswa harus mampu membiasakan menulis, dan dosen juga harus mencontohkan kepada peserta didik (mahasiswa) untuk menulis.
Problem Menulis
Mungkin mahasiswa memiliki hambatan internal yang bersifat psikologis sehingga enggan menulis. Perasaan tidak berbakat kerap menghinggapi benak mahasiswa.
Padahal menulis hanya membutuhkan tekad dan latihan. Mengutip Mochtar Lubis, faktor bakat dalam menulis itu hanya 10 persen, sedang faktor latihan dan tekad adalah 90 persen. Itu pun jika benar ada bakat dalam menulis. Mahasiswa juga hendaknya menghilangkan perasaan takut salah dan disepelekan tulisannya.
Tak ada yang sia-sia dalam menulis. Selain mendapatkan honor dan popularitas, penulis akan dianggap sebagai orang intelektual. Jika ditemui kesalahan dalam menulis, itu bisa menjadi media belajar mahasiswa untuk menulis lebih baik.
Peluang menulis sebenarnya besar. Mahasiswa bisa menulis artikel ilmiah populer di surat kabar, artikel ilmiah untuk jurnal, buku, dan lain sebagainya. Ruang-ruang bagi mahasiswa menuangkan ide, gagasan lewat tulisan tak terbatas.
Selama ini, paradigma mahasiswa hanya puas sebagai konsumen tulisan. Mahasiswa tampaknya belum mau dan mampu memberdayakan otak kreatifnya. Dengan kata lain, mahasiswa memposisikan dirinya sebagai pengguna dan pemanfaat dari tulisan-tulisan orang lain.
Faktanya, saat tugas akhir, penulis sering mendapati banyak mahasiswa yang browsing internet demi terpenuhinya tugas. Jelas sudah mahasiswa menyandang sebagai predikat tukang plagiat dan konsumen belaka.
Mahasiswa juga tak memiliki keinginan dan usaha guna bertukar pikiran atau berdialektika lewat tulisan.
Boleh jadi, bagaikan katak dalam tempurung, mahasiswa menutup diri dari pengalaman dan gagasan baru. Mahasiswa mengumpulkan tugas senantiasa monoton tanpa pengembangan karena enggan membaca dan memperkaya wawasan. Efeknya, mahasiswa tak memiliki bahan untuk menulis.
Menulis Seperti Tukang
Jika dikatakan mahasiswa memiliki kesibukan yang padat, apakah dalam 24 jam sehari benar-benar sibuk? Apakah tak bisa menyisihkan waktu selama 1-2 jam untuk sejenak merenung dan menulis?
Dengan menulis, mahasiswa bisa meningkatkan karirnya. Lewat tulisan yang dibuat, turut berkontribusi bagi pengembangan dunia pendidikan. Bahkan, mahasiswa bisa mendidik khalayak luas tanpa harus bertatap muka.
A.S Laksana dalam blognya, menamsilkan bahwa menulis itu seperti tukang, bisa dipelajari dan diajarkan. Bahkan secara gamblang dia berkata, menulis tak ubahnya membuat kusen atau memasak, yang bisa dipelajari. Namun, itu tak luput dari usaha seseorang untuk mulai menulis, bukan hanya pandai mengkritisi tulisan oarang lain.
Menulis itu mudah dan bukan faktor bakat, berbagai buku teori tentang menulis sekarang sudah banyak diterbitkan dan itu mudah untuk kita jumpai di berbagai toko buku. Dan di luar konteks itu, teori dan praksis menulis bisa dikembangkan sendiri.
Kita bisa mempelajari tulisan seseorang di media massa koran, majalah dan sebagainya. Tapi, jika sekarang masih ada mahasiswa yang mengatakan menulis sulit dengan dalih tidak mempunyai bakat, yang salah bukan karena tidak mempunyai bakat, tapi lebih tepatnya bisa dikatakan malas.
Sudah bukan masanya lagi mahasiswa dikatakan sebagai konsumen, dan plagiarisme. Mulailah menjadi produsen tulisan dengan menjadikan menulis sebagai tradisi.
*Penulis adalah Peneliti el-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang.
M. Nafiul Haris
Jl. Menoreh Tengah XII Sampangan, Semarang
nafiulharis@yahoo.com
085740576843
(wwn/wwn)