Jauhi Agama, Suburkan Radikalisme

- detikNews
Jumat, 29 Jul 2011 11:15 WIB
Jakarta - Belakangan ini kalangan pelajar dan mahasiswa terkena getah dari maraknya isu radikalisme. "Yang hati-hati jangan ikut macem-macem" bunyi SMS orang tua kepada salah satu mahasiswa di Jogja.

Pemberitaan yang gencar tentang isu radikalisme dikalangan pelajar dan mahasiswa membuat resah para orang tua. Khawatir anak mereka juga menjadi korban "cuci otak" NII KW IX, atau terseret dalam aksi terorisme.

Kekhawatiran diatas memang wajar melihat latar belakang pelaku terorisme yang kini mulai merambahi kaum pelajar. Hanya saja respon orang tua kadangkala tidak tepat sasaran atau bahkan berlebihan. Ketika mahasiswa dilarang mengikuti pengajian, ketika orang tua mencurigai anaknya yang taat beribadah, sungguh agama tengah jadi korban.

Sikap orang tua adalah representasi masyarakat Indonesia yang sudah termakan stigmatisasi agama. Stigma dengan kesimpulan, semakin taat seorang beragama maka semakin radikal dia, dan berpotensi teroris.

Maka solusi bagi mereka adalah jauhkan keluarganya dari ketaatan menjalankan agama untuk menghindari sikap radikal. Sebuah treatment yang tidak tepat sasaran, atau bahkan membahayakan bagi keluarga. Bisa kita bayangkan seperti apa kehidupan keluarga dan masyarakat yang jauh dari agama?

Lalu benarkah Agama menjadi biang radikalisme? Yang pertama harusnya kita harus sadari dan yakini lebih awal, bahwa tindakan kelompok teroris atau NII KW IX bukanlah cerminan agama Islam.

Sikap keras dan ekslusif (syiddah al-tanatu') tindakan makar (bughot) apalagi berujung pada pengkafiran (takfir) sesama muslim tentu bukanlah bagian dari ajaran agama Islam. Bahkan Islam semakin tercoreng dengan tindakan mereka yang mengatasnamakan agama Islam.

Kita akan bertanya, bukankah para pelaku teror ini terang-terangan mengklaim sedang memperjuangakan agama Islam? Kenyataannya klaim ini ditolak oleh mainstream pemuka agama Islam (ulama).

Mudah saja mengklaim sesuatu, tapi realitanya, nilai Islam tidak terejawantahkan dalam tindak-tanduk mereka.

Coba kita tengok latar belakang para pelaku ini. Pepi fernando, orang yang dianggap otak dari sejumlah rencana ledakan bom. Menurut penuturan rekan-rekannya, Pepi itu orang yang "gaul", bahkan tidak segan meminum minuman keras.

Pepi juga sebelumnya adalah jurnalis infotainment, acara yang notabenenya diharamkan dalam agama Islam (fatwa NU). Lalu bagaimana mungkin orang yang jauh dari agama, dalam sekejap disulap menjadi pejuang agama? Dalam kasus korban-korban NII juga serupa, kebanyakan mereka adalah orang-orang awam dalam agama.

Disinilah menjadi poin penting yang menjadi akar penyebab. Bukan bermaksud menggeneralisasi, tapi mereka pada umumnya memang orang yang minimalis dalam pengetahuan dan praktek keagamaan.

Ketika di cekoki doktrin keagamaan ala radikal, lalu dibenturkan pada realita, maka dia melihat ada kesenjangan idealisme (idealism gap), terjadilah keguncangan psikologi (psychological shock) yang mengantarkan pada perilaku ekstrim.

Ajaran agama adalah fitrah manusia. Siapa yang berani membantah doktrin yang diambil dari wahyu kitab suci? Hanya saja pelaku terorisme dan NII mencomot dalil keagamaan secara parsial, sebatas alat menjustifikasi tindakan ekstrimnya.

Andai saja para pelajar dan mahasiswa punya bekal pengetahuan agama yang cukup, mungkin orang tua tidak perlu cemas lagi. Maka salah langkah jika orang tua yang malah menjauhkan anaknya dari agama.

Dari pemaparan diatas setidaknya ada dua faktor pemicu terorisme, pertama karena minimnya pengetahuan agama, atau pendalaman agama secara parsial. Dan kedua karena adanya kesenjangan idealisme (idealism gap).

Kita tahu pengajaran agama dalam pendidikan formal kita tidak diberikan porsi yang mencukupi. 2 jam pelajaran atau 90 menit waktu normal dalam satu minggu, cukupkah mengajarkan pendidikan agama yang utuh sesingkat itu?

Ada yang berkomentar, bukankah ini harusnya dibebankan pada keluarga? Memang benar keluarga faktor menjadi determinan, tapi ini artinya kita hanya mengharapkan kesadaran timbul dari tubuh keluarga.

Padahal hari ini institusi keluarga semakin dibuat apatis terhadap agama akibat pencitraan buruk. lalu apa yang kita harapkan dengan keluarga yang apatis? Kalau hanya menunggu kesadaran keluarga, lalu dimana peran pemerintah?

Pemerintah tidak bisa memaksakan kebijakan pendidikan secara strukturatif pada keluarga, tapi pemerintah bisa mengkondisikan itu di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Maka jalan pemerintah selain membangun kultur pendidikan keluarga juga paling efektif dengan membenahi pengajaran di institusi pendidikan formal mereka.

Selanjutnya, treatment apa yang pas untuk institusi pendidikan formal kita? Mungkin apa yang diinginkan menteri agama Suryadharma Ali untuk menambah jam pelajaran agama layak dipertimbangkan.

Dengan itu materi keagamaan akan lebih utuh diterima siswa. Tidak hanya yang bersifat normatif koognitif, tapi juga aspek afektif dan psikomotorik menjadi penting ditekankan dalam pelajaran agama. Siswa tidak hanya tahu teori keagamaan saja, tapi juga terdorong untuk menjalankan praktek keagamaan secara sadar.

Minimnya porsi waktu pendidikan agama sebetulnya tidak jadi soal, jikalau kita mau menggunakan jalan kedua. Yakni mengintegrasikan pendidikan agama disetiap pelajaran umum.

Mungkinkah ini? Tentu sangat mungkin, karena akhirnya pendidikan agama akan bertransformasi dalam nilai ketuhanan universal, moral, dan kemanusian. Semua pelajaran umum bahkan bisa menjadi jalan untuk mendekatkan siswa dengan agamanya.

Jalan ini efektif, tapi sulit dan butuh proses lama dalam penerapan. Butuh perubahan dari segi kurikulum, dan paling penting adalah perubahan cara pandang para pengajar.

Harapannya guru dan dosen tidak lagi memisahkan ilmu dunia dengan agama, bahwa keduanya ada keterkaitan. Maka integrasi ini akan menghasilkan keilmuan yang tidak sebatas rasional scientific, tapi juga mengedepankan moral dan etika.

Sadari betul sikap kita yang menjauhi agama, mungkin justru jalan pembuka berkembang-biaknya radikalisme dan terorisme. Anak-anak didik kita yang kita jauhkan dari agama menjadi target empuk indoktrinasi.

Kehidupan masyarakat kita yang jauh dari nilai ideal agama (idealism gap), juga menjadi pemicu menjamurnya sikap ekstrim. Harusnya ini kewajiban kita sebagai anggota masyarakat dan juga pemerintah untuk menumbuhkan pendidikan dan praktek keagamaan dengan benar.

Jangan sampai kita hanya mencerca para pelaku yang sebetulnya "korban" juga dari sikap kita, tapi tidak menjadikan diri kita masing-masing sebagai solusi permasalahan ini. Wallahu a'lam bish shawab.

*Penulis adalah pegiat LSM Laboratorium Dakwah Yayasan Shalahudin Yogyakarta dan Aktivis KAMMI Daerah Sleman


Dedy Yanwar Elfani
Jl. Kaliurang KM 8 Perum Banteng III PP Budi Mulia, Sleman
deyanel88@gmail.com
083867017535

(wwn/wwn)