Ketika Muhammadiyah Mendahului Pemerintah

Ketika Muhammadiyah Mendahului Pemerintah

- detikNews
Rabu, 20 Jul 2011 12:49 WIB
Ketika Muhammadiyah Mendahului Pemerintah
Jakarta - Saat dunia menyambut jelang bulan Ramadhan, Indonesia selalu mempunyai cerita yang khas, bahkan seperti sudah menjadi sebuah tradisi, terutama dalam hal perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal.

Masyarakat pasti selalu bertanya-tanya, apakah tahun ini mereka bisa berlebaran bersama-sama, ataukah kembali berbeda-beda. Di Indonesia yang penuh kemajemukan ini, berdiri kokoh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang mempunyai peran penting dalam dinamika perbedaan penentuan 1 Syawal.

Hampir setiap tahun selalu terjadi perdebatan, yang berakhir dengan perbedaan. Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, tetap berpegang teguh pada Rukyat (melihat hilal/bulan secara langsung) dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu rujukan yang dipakai NU adalah Hadits Rasulullah SAW, Hadits dari Abi Hurairah Radhiallahu anhu, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya'ban menjadi tiga puluh hari" (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081).

Jadi NU menggunakan metode ru'yatul hilal, saksi atau kabar tentag ru'yah hilal, dan penyempurnaan bilangan hari bulan Sya'ban. Sedangkan ormas Islam terbesar kedua di Indonesia yaitu Muhammadiyah mempunyai pandangan lain.

Mereka berpendapat, dalam Hadits tersebut kata "melihat" tidak serta merta diartikan melihat secara langsung, tetapi melihat dapat diartikan berpikir. Sehingga Muhammadiyah menetapkan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal menggunakan perhitungan ilmu pengetahuan, yaitu dengan hisab.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Muhammadiyah jauh hari menetapkan awal bulan ramadhan, syawal, dan dzulhijah, menggunakan metode hisab. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah menetapkan tahun ini awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Senin, 1 Agustus 2011, puasa Ramadhan berlangsung selama 29 hari, sehingga 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, sedangkan 1 dzulhijah 1432 H jatuh pada hari Jumat, 28 Oktober 2011.

Meskipun Muhammadiyah sudah mempunyai keputusan sendiri dan meminta warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia agar patuh pada keputusan ini, namun Muhammadiyah tetap menyerukan untuk saling menghargai dan menghormati, baik kepada yang sedang berpuasa, maupun kepada orang yang tidak berpuasa.

Karena bisa saja nanti keputusan PP Muhammadiyah ini akan berbeda dengan hasil keputusan pemerintah. Begitu juga dengan Persis, Al-Irsyad, Hizbut Tahrir, dan ormas Islam lainnya, pasti memiliki metode atau pemahaman sendiri.

Tentu saja pengumuman jauh-jauh hari dari PP Muhammadiyah ini akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, apalagi jika nantinya terdapat perbedaan dengan hasil keputusan pemerintah. Masyarakat awam tidak banyak yang mengetahui metode-metode hisab dan rukyat ini, karena masyarakat hanya mengikuti keputusan pemimpin mereka, baik itu pemimpin agama, maupun pemimpin negara.

Tetapi saat pemimpin agama dan pemimpin negara mempunyai keputusan yang berbeda, kebingungan akan terjadi di masyarakat. Namun inilah dinamika yang terjadi di Indonesia.

Dahulu, ulama-ulama banyak yang menolak hisab karena hisab dinilai dekat dengan ilmu astrologi atau meramal nasib dengan bintang dan akurasi kebenarannya dinilai masih rendah, sehingga akan menghasilkan hitungan yang berbeda antara ahli hisab yang satu dengan ahli hisab yang lain, padahal mereka melihat bulan dan bintang yang sama.

Ada beberapa pihak yang mengusulkan jalan tengah dengan metode astronomi yang modern, dengan peralatan yang canggih, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan perhitungan hisab ini sudah bisa dilakukan di komputer dengan sistem dan program khusus.

Salah satu hasil hisab modern yang kita temui sehari-hari adalah kalender hijriah yang dikembangkan oleh Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional).

Hisab modern bisa dipakai dalam memprediksi waktu dalam ru'yatul hilal, dan teknologi astronomi modern dengan observasi melalui teropong bintang bisa membantu rukyat dalam mengidentifikasi bulan, apalagi saat bulan sabit atau bulan hanya mendapatkan cahaya lemah dari matahari, bahkan saat awan menyelimuti permukaan bumi.

Hal ini sangat diperlukan, mengingat banyak sekali benda langit yang mengisi tata surya kita ini.

Pertanyaan yang mungkin menggelitik kita, apakah memungkinkan rukyat menggunakan pesawat terbang, karena pesawat mampu terbang di atas awan, bagaimana hukumnya apabila saat terbang di atas daratan Indonesia, penumpang di dalam pesawat dapat mengidentifikasi datangnya hilal (bulan)? Bagaimana dengan teknologi Satelit atau Stasiun Luar Angkasa?

Tentu saja ini memerlukan pemikiran panjang dari para ulama. Bagaimanapun juga, ilmu pengetahuan dan teknologi hanyalah sarana untuk membantu manusia, sedangkan dalilnya harus tetap bersumber pada Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Pada dasarnya Pemerintah melalui Kementerian Agama sudah berusaha mencari jalan tengah dalam menghadapi perbedaan-perbedaan ini, salah satunya dengan memadukan sistem-sistem yang telah dipergunakan, yaitu memadukan sistem hisab dan rukyat.

Pemerintah juga berupaya mengakomodir semua madzhab yang dianut oleh ormas-ormas Islam di Indonesia, sehingga apapun keputusan yang diambil dalam sidang itsbat dapat diterima oleh semua pihak, karena dalam sidang itsbat itu hadir perwakilan seluruh ormas Islam di Indonesia.

Namun kadang hasil sidang itsbat yang seharusnya sebagai rujukan masyarakat muslim di Indonesia itu bisa menjadi tidak berarti, apabila beberapa ormas Islam tetap ngotot dalam pendiriannya dan berbeda dengan yang lain.

Namun, inilah Indonesia, seperti kurang seru apabila selalu sama, dan perbedaan itu pada hakekatnya adalah rahmat, bagaimana manusia bisa lebih berpikir dewasa dan bijak mensikapinya.

Indonesia sebagai negara yang rakyatnya mayoritas pemeluk agama Islam, bahkan terbesar di dunia, seyogyanya kita menyerahkan penentuan tanggal Ramadhan dan 1 Syawal kepada pemerintah, sebagai pemimpin tertinggi di negara ini. Karena utamanya adalah saling menghargai dan menghormati, serta menjaga persatuan dan kebersamaan umat Islam di Indonesia.


Arief P Susanto
Pondok Kelapa, Jakarta Timur
maz_ariefps@yahoo.co.id
081932094535

(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads