Perkembangan penggunaan internet di Indonesia sangatlah pesat. Bahkan, untuk situs jejaring sosial seperti Facebook, Indonesia masuk dalam lima besar pengguna terbanyak di dunia.
Tentu saja, tak semua input dari luar itu baik. Pasti ada sisi negatifnya. Untuk menjaga Generasi Muda dari hal yang tidak diinginkan, pendidikan kepramukaan bisa menjadi salah satu jalan keluarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, saat ini perlu digalakkan revitalisasi gerakan pramuka. Sebagai salah satu langkah revitalisasi, pendidikan kepramukaan sudah seharusnya menyesuaikan perkembangan jaman. Contoh saja, dahulu jambore hanya dilaksanakan di lapangan terbuka tetapi saat ini jambore sudah bermacam-macam bentuknya.
Ada Jambore On The Air (JOTA) yaitu jambore yang dilaksanakan via radio komunikasi, ada juga Jambore On The Internet (JOTI) yaitu jambore yang dilaksanakan via internet.
Selain itu perlu dibuatnya semacam kurikulum pendidikan kepramukaan. Jadi dapat dengan jelas dan terperinci apa saja materi yang harus diberikan untuk golongan siaga, penggalang, penegak, maupun pandega. Sehingga, tidak ada kerancuan dalam proses pembinaan di Gerakan Pramuka.
Selain itu gugusdepan sebagai ujung tombak pendidikan kepramukaan harus berbenah diri. Gugusdepan lengkap juga sangat di perlukan dalam rangka proses pembinaan peserta didik.
Gugusdepan lengkap adalah gugusdepan yang terdiri dari Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, dan Racana Pandega. Sayangnya, kebanyakan gugusdepan saat ini adalah gugusdepan berbasis sekolah.
Misalnya Perindukan Siaga hanya ada di gugusdepan yang berpangkalan di Sekolah Dasar (SD), Pasukan Penggalang hanya ada di gugusdepan yang berpangkalan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ambalan Penegak hanya ada di gugusdepan yang berpangkalan di Sekolah Menengah Atas (SMA), Racana Pandega hanya ada di gugusdepan yang berpangkalan di Universitas/Perguruan Tinggi.
Padahal dengan gugusdepan yang seperti itu, proses pembinaan akan terpotong-potong. Karena jika ada kenaikan jenjang pendidikan (misal dari SMP ke SMA), berarti peserta didik tersebut seperti memulai proses dari awal (dika renakan tidak ada kesinambungan yang nyata antara sekolahnya yang dulu dan sekolahnya yang sekarang).
Satu lagi yang tak kalah penting adalah peningkatan kualitas SDM yang ada. Pembina seharusnya memiliki standart kecakapan tertentu. Begitu juga dengan anggota dewasa yang mengisi jabatan di kwartir, baik sebagai Andalan maupun staf.
Terakhir, apapun usaha kita, bagaimapun baiknya rencana kita, jangan sampai kita menjadikan perbedaan menjadi penghalang kita. Kita semua adalah Satu. Bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.. Mari kita bersama-sama kita ciptakan generasi muda Indonesia yang lebih baik.
Satu Pramuka untuk Satu Indonesia.
Jayalah Pramuka!
Jayalah Indonesia!
Ahmad Muhammad Adha
Jl Letjen Suprapto 93 Yogyajarta
ahmadmuhammadadha@yahoo.com
081578707666
(wwn/wwn)











































