Agaknya kita juga tidak perlu menunggu lama perihal janji apa gerangan yang akan dijadikan para kandidat sebagai dagangan layak jual untuk "menipu" rakyat di pilgub DKI yang akan datang. Dagangan itu hanya dua yaitu jualan banjir dan kemacetan ibukota.
Penyakit turunan yang bernama banjir dan macet ini hingga kini tak ada solusinya. Belakangan ada setitik harapan lewat program pembatasan jam truk masuk kota. Tapi nyatanya kebijakan ini hanya memindahkan kemacetan yang semula di jalur tol dalam kota kini menjadi dipelosok-pelosok kota dan kabupaten sejabodetabek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan besarnya adalah kenapa penulis begitu yakin bahwa banjir dan macet Jakarta hingga akhir zaman? Maka jawaban besarnya adalah karena rakyat Jakarta mempercayakan penanganan banjir dan macet itu pada para penguasa (baca: gubernur) atau lebih kongkritnya lagi, banjir dan macet hanya jadi urusan pemerintah.
Bila pola pikir seperti ini tetap terpelihara, maka siapa pun gubernurnya, siapa pun stakeholder yang terlibat didalamnya, selama produk itu bernama pemerintah maka banjir dan macet tetap menjadi saudara kandung DKI Jakarta.
Semua menyadari bahwa hal-hal sederhana berikut seperti membuang sampah ke sungai, membangun rumah di daerah aliran sungai bahkan hingga menutup sungai itu sendiri adalah faktor utama penyebab banjir yang saban tahun menggenangi Jakarta.
Tapi, kendati menyadari itu, hal-hal tersebut diatas justru menjadi pemandangan biasa di DKI Jakarta. Belum lagi jumlah penduduk Jakarta yang setiap tahun meningkat memperparah keadaan jakarta untuk tahun-tahun yang akan datang.
Bagaimana dengan macet? Penelitian menghitung bahwa setiap orang Jakarta menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam dijalanan karena macet. Itu artinya penduduk Jakarta menghabiskan waktu 75 hari non stop setiap tahunnya dijalan raya. Benar-benar ironis. Dan lebih miris lagi adalah semua itu terjadi bukan salah pemerintah tetapi rakyat itu sendiri. Pola hidup tidak disiplin menjadi faktor utama.
Belum lagi gaya hidup berlebihan dimana banyak keluarga yang setiap anaknya punya mobil turut berkonstribusi terhadap kemacetan Jakarta. Bukan rahasia lagi, setiap orang berlomba-lomba hidup mewah di Jakarta. Awalnya ini hanya menjangkiti rakyat berpenghasilan menengah ke atas. Namun, belakangan ini penyakit itu menular ke rakyat menengah kebawah tapi dalam bentuk lain.
Bila konglomerat berlomba memperbanyak mobil mewah sesuai dengan jumlah jiwa yang tercantum dalam kartu keluarganya, rakyat biasa yang hanya punya motor ala kadarnya saling salip, dan berpacu kedepan hingga semakin manambah sem rautnya Jakarta. Jalur yang sudah khusus milik armada tertentu seperti bus way pun dilanggar, anehnya begitu melanggar peraturan dan terjadi kecelakaan massa justru membakar bus way yang setia berjalan pada lajurnya.
Fenomena yang membingungkan. Bagaimana mungkin pelanggar lalu lintas mendapat dukungan massa sementara jelas-jelas bus way hanya berjalan dilajurnya. Tapi itulah Indonesia, selagi bisa dilanggar, kenapa tidak. Toh, dewasa ini rakyat secara tidak sadar sering memberi dukungan pada setiap individu yang setia melanggar peraturan.
Tak terhitung jumlahnya berapa banyak busway yang dirusak massa karena lakalantas dengan pengguna jalan lain dilajurnya sendiri. Dan tak terhitung pula berapa ribu nyawa melayang sia-sia dijalan raya hanya karena keegoan turut menyetir kendaraan kita.
Percayalah,sekali lagi, siapa pun gubernurnya, apa pun latar belakang pendidikannya dan sedekat apa pun ia dengan rakyat, bila pola pikir dan gaya hidup kita masih seperti apa yang digambarkan diatas, maka jangan pernah bermimpi Jakarta akan lepas dari bajir dan kemacetan.
Satu yang harus disadari adalah, setiap individu harus konsisten berjalan pada relnya masing-masing. Arti sederhananya seperti ini, biarkan sungai mengalir sesuai dengan alirannya jangan dihalangi dengan tumpukan sampah dan bangunan, atau bahkan mempersempit aliran sungai itu sendiri.
Tanamkan pada diri masing-masing prinsip biarlah repot sedikit dengan intens dan rutin membuang sampah pada tempatnya daripada banjir kembali basahi jakarta. Pengguna jalan raya siapa pun itu dan berapa pun jumlah rodanya, tahan diri. Jangan pernah tersulut emosi hanya karena ada yang mendahului. Mari bergerak di relnya masing-masing tanpa pernah memotong dan menyalip relnya orang lain.
*Penulis adalah Ketua Umum PB Gerakan Mahasiswa Sibolga-Indonesia (Germasi) dan penikmat macetnya Ibukota.
Samsul Pasaribu
Jl. Raya Jatinangor Km 20.5 Sumedang
syamsulpasaribu@yahoo.co.id
081370677022
(wwn/wwn)











































