Masyarakat pedesaan menyebutnya dengan pergi ke "orang pintar". Begitupun ketika di masyarakat ada moment politik, pesantren kerap menjadi medium pengerahan massa baik itu moment pemilihan kepala desa, bupati, gubernur maupun pemilihan presiden.
Komitmen Kyai Said menjadikan pesantren sebagai basis pengabdian bukan omong kosong. Semua program PBNU diarahkan kepada pengembangan pesantren dan masyarakat pedesaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para santri pedesaan diberi pelatihan mitigasi bencana. Dari data yang ada, salah satu daerah yang menjadi fokus penguatan kelembagaan bencana berbasis santri adalah kabupaten Jember Jawa Timur, di mana Moch Eksan berkiprah.
Prestasi pogram advokasi kelembagaan bencana di pesantren yang dimotori NU telah membuka mata pemerintah dan berbagai stake holder sehingga menjadikan NU secara kelembagaan menjadi organisasi yang dipertimbangkan.
Karena setelah itu berbagai prestasi diukir NU di bawah kepemimpinan Kyai Said. NU menjadi bagian dalam pencapaian program MDGs (Millinium Development Goals). Dalam program pembangunan millinium, NU dikenal publik sebagai pihak yang memiliki komitmennya khususnya dalam program antara lain pendidikan untuk semua, pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan.
Jika Moch Eksan secara miris menyebut Kyai Said dan NU hari ini miskin gagasan, alangkah baiknya jika Moch Eksan pergi ke desa-desa untuk melakukan pengecekan data terhadap warga NU yang mendapat beasiswa baik itu beasiswa prestasi maupun beasiswa Bidik Misi (Beasiswa Pendidikan Miskin dan Berprestasi).
Moch Eksan juga bisa mendapat konfirmasi di Dinas Pendidikan setempat untuk mengetahui data-data anak-anak NU yang mendapat beasiswa Bidik Misi tersebut. Dalam merealisasikan visi dan misinya di bidang pendidikan, NU tak hanya menjalin komunikasi dengan perguruan tinggi namun juga menyekolahkan anak-anak NU di jenjang pascasarjana baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Untuk misi pendidikan NU, Kyai Said bersama LP Ma'arif secara intensif juga melakukan koordinasi dengan lembaga pendidikan NU di cabang-cabang. Hasilnya, NU dibawah kepemimpinan Kyai Said kini memiliki data institusi pendidikan NU mulai dari pendidikan anak usia dini sampai, MI, SD, Mts, SMP, MA, SMA, SMK dan perguruan tinggi.
Selain bidang pendidikan, NU di bawah kepemimpinan juga mengabdikan diri pada program pengembangan masyarakat. Gerakan pelestarian lingkungan yang dimotori NU dengan berbasiskan pada pesantren pedesaan diakui oleh publik turut mengurangi degradasi lingkungan akibat pembangunan yang menekankan pada pencapaian ekonomi pasar.
Begitupun dengan program kesehatan, NU memiliki andil besar dalam pencegahan malaria dan TBC di banyak daerah.
Peran Media Massa
Data-data seperti inilah yang di "sepelekan" oleh Moch Eksan atau bisa jadi Moch Eksan memang tidak memiliki data-data tersebut sehinga berkesimpulan bahwa NU hari ini ia tuding miskin gagasan.
Penulis memahami Moch Eksan memberi kesimpulan "terburu-buru" bahwa NU dianggapnya miskin gagasan hanya disebabkan semua program tersebut tidak dipublikan oleh media.
Baik penulis maupun Moch Eksan sendiri tentu menyadari Media massa memegang peranan penting sehingga kekuatan dunia saat ini berada dalam genggamannya seperti pepatah yang mengatakan "jika dulu kekuatan masyarakat terletak pada uang ditangan segelintir orang, kekuatan tersebut kini berpindah pada informasi di tangan banyak orang".
Sayangnya media kerap meliput hal-hal yang dapat meningkatkan ratingnya. Media yang katanya bersikap "independen" itu meski di satu sisi berfungsi sebagai pilar demokrasi namun yang harus disadari adalah media merupakan bagian dari bisnis yang mengejar keuntungan materi dengan mengangkat berita yang populis.
Di sinilah permasalahannya, program pengembangan masyarakat pedesaan yang digarap NU di bawah kepemimpinan Kyai Said karena (mungkin) dianggap bukan "populis" menjadikan sebagian besar media "enggan" memberitakannya.
Barangkali itulah kendala mengapa banyak orang seperti Moch Eksan dalam artikel Kyai Said, NU dan Miskin Gagasan di media ini (9/6) kemudian menarik kesimpulan bahwa NU yang dipimpin Kyai said tidak melakukan apa-apa hanya semata tak ada pemberitaan media terhadap semua program kerakyatan tersebut.
Dari sisi historis tersebut di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan mana yang NU politik dan mana yang NU pemberdayaan? Dan tidak arif jika kita menghakimi Kyai Said sebagai pemimpin yang miskin gagasan hanya karena tidak mengetahui program kerjanya.
Dalam tradisi NU kita mengenal istilah "tabayun" atau "klarifikasi", inilah yang penulis hendak tanyakan kepada Moch Eksan mengapa mengambil kesimpulan terlalu cepat dari bentuk silaturrahmi PBNU kepada Presiden seakan menjadi harga mati NU membenarkan sikap politik presiden (termasuk sikap buruk sekalipun).
Padahal dibalik itu semua NU dan ormas Islam saat ini tengah bekerjasama dengan pemerintah untuk menegakkan NKRI seiring waktu banyaknya gerakan NII dan Islam radikal yang menghendaki negara Islam. Wallahu’alam
*Penulis adalah Anak Muda NU dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB
Susianah Affandy
Komp. Dosen IPB Jalan Melati No 1 Darmaga, Bogor
susianah.affandy@yahoo.com
081399236046
(wwn/wwn)











































