Nostalgia Semu Masa Lalu

Nostalgia Semu Masa Lalu

- detikNews
Senin, 30 Mei 2011 07:22 WIB
Nostalgia Semu Masa Lalu
Jakarta - Survey Indobarometer akhir-akhir ini mengejutkan banyak pihak. Survey tingkat kepuasan masyarakat yang membandingkan persepsi kepuasan masa orde baru dengan masa reformasi utamanya era kepemimpinan Presiden SBY.

Pada survey ini, masyarakat merasa lebih nyaman dengan kepemimpinan orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto dengan tingkat kepuasan sebesar 36,5% responden dan tingkat kepuasan terhadap era reformasi yaitu kepemimpinan Presiden SBY hanya 20,9 %.

Terlepas dari kontroversi dalam survey ini, survey ini memperlihatkan kecenderungan bahwa kepemimpinan Presiden SBY tidak lebih baik dari pada era Soeharto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebut saja, bagaimana mafia hukum yang makin menjadi-jadi, penyelesaian kasus HAM yang tak ada ujung nya, hingga penyelesaian kasus korupsi yang tidak ada habisnya. Ini tentu menjadi catatan atas turunnya popularitas Presiden SBY di mata publik.

Munculnya kembali 'kerinduan' atas Soeharto dalam survey ini, Penulis melihat bahwa paling tidak ada 2 (dua) hal yang patut dicermati.

Pertama, Bangsa kita merasa bangga dan lebih senang melihat capaian keberhasilan bangsanya di masa lalu. Nostalgia dengan masa lalu, bahwa bangsa ini pernah sejahtera, bangsa ini pernah makmur di masa orba, serta bangsa ini lebih teratur dimasa orba.

Nostalgia semu yang sejatinya telah melumpuhkan pola pikir bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukannya. Bila melihat lebih dalam, me-nostalgia-kan masyarakat dengan cerita sejarah, tanpa kita sadari ini merupakan buah dari kurikulum pelajaran sejarah yang telah diajarkan selama bertahun-tahun.

Pelajaran sejarah di sekolah dengan gamblang menceritakan bahwa 'dahulu kala' Indonesia memiliki kerajaan majapahit, sriwijaya, dengan segala kelebihan dan kekuasaan nya yang luar biasa pada zaman nya.

Ataupun bagaimana jiwa heroisme para pejuang kemerdekaan kita hanya berbekal bambu runcing dapat mengusir penjajah yang telah memiliki kendaraan perang super canggih. Bangsa ini dulunya 'pernah' jaya, bangsa ini dulu nya 'pernah' punya pahlawan yang punya jiwa patritimme yang luar biasa. Ya itu dulu, dan bukan saat ini.

Dan ini lah realiatasnya kita acapkali hanya bisa bernostalgia dengan kisah klasik masa lalu. Tanpa sedikit pun menjadikan sejarah itu sebagai semangat untuk bangkit. Ya biarkan lah Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Soeharto serta pendiri negeri ini lainnya besar dengan ketokohan dan karya mereka.

Tugas bangsa ini sekarang ialah bagaimana bangsa ini mampu mencetak pemimpin yang sekaliber dengan mereka. Karena ketokohan dan karya yang telah mereka torehkan tidak akan berarti apa-apa tanpa bangsa ini mau mengambil pelajaran dari itu semua.

Kedua, masyarakat harus segera disadarkan, bahwa sejarah keberhasilan bangsa ini yang telah diraih dimasa lampau jangan lah menjadi sebuah nostalgia belaka yang pada akhirnya menina-bobokan kita, tertidur lelap dan entah kapan untuk tersedar dari tidur panjangnya.

Melakukan kerja-kerja besar untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini, mengulang masa gemilang, ataupun merasakan kembali capaian yang telah ditorehkan pemimpin bangsa ini pada tiap zaman nya. siapapun anak negeri ini pasti rindu untuk itu.

Oleh karena itu, segala bentuk capaian keberhasilan pada tiap zaman janganlah menjadikan kita mabuk, dan terus larut dengan nostalgia indah kalau bangsa ini ingin mencapai masa keemasan.

*Penulis Adalah Pemerhati Sosial Politik, tinggal di Jakarta


Ofis Ricardo
Jl. KS Tubun I RT 10/03 No. 34 Jakarta Barat
ofis.ricardo@yahoo.com
085726960569
Twitter : @ofisricardo

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads