Karena itu perayaan Waisak, kiranya tidak semata seremonial belaka bagi umatnya, tetapi lebih dari itu, umat Islam dan umat-umat lainnya diharapkan mampu memantulkan cahaya religius ke dalam sanubari mereka tanpa melihat asal teologisnya.
Selain itu, tentu diharapkan semakin menguatnya kohesifitas antar umat agama-agama. Diharapkan pula, spirit Waisak tidak dimaknai sebatas hari raya an sich, tetapi penting mengimplementasikan nilai-nilai moral yang dibawa oleh Buddha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada tiga peristiwa penting dalam perayaan Waisak, sehingga hari raya Waisak sering juga disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Ketiga Peristiwa penting dimaksud adalah Pertama, kelahiran Sidhartha Gautama; Kedua, tercapainya penerangan sempurna; dan Ketiga, wafatnya Sidhartha Gautama.
Kelahiran, penerangan dan kematian yang semuanya terjadi dalam bulan yang sama yaitu bulan Waisak, merupakan tiga momen krusial yang telah membawa pengaruh sedemikian besar bukan saja kepada internal Buddha, tetapi bagi umat manusia secara luas.
Kelahiran Sidhartha Gautama telah membawa pengaruh signifikan bagi kehidupan beragama, bukan karena terlahir sebagai pencetus Buddhisme, akan tetapi karena ajaran-ajarannya yang memiliki akar kemanusiaan yang kokoh dan mudah tumbuh dalam bumi di mana keterikan sosial dan peradaban semakin menggerahkan.
Dalam kondisi zaman yang sedemikian tumpul dari nilai-nilai spiritual ini, semangat hari raya Waisak bisa menjadi pelepas dahaga dari panas terik, p engasah dari ketumpulan spiritual di atas.
Ajaran Moral (Sila) Buddha
Momen perayaan Waisak, bermakna menapaktilas sosok dan meneladani perilaku Sidhartha Gautama yang telah menanamkan fundamen moralitas yang menjadi katalisator ajaran kemoralan Buddha.
Tentu saja ajaran seperti itu, terdapat dalam agama-agama lain, tetapi momen Waisak memperbarui alam kesadaran beragama kita, sehingga nilai-nilai religiusitas sedapat mungkin mendominasi pikiran kita dalam berperilaku.
Ajaran moral Buddha bertumpu kepada lima spektrum nilai, yaitu nilai kemanusiaan, nilai keadilan, nilai keluarga, nilai kejujuran dan nilai pembebasan. Seperti halnya Islam dan Kristen dan agama lain, ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas.
Ajaran moral tersebut tersimpul dalam Pancasila Buddha, yakni lima prinsip yang menjadi landasan moral bagi kehidupan umat Buddha. Lima prinsip kemoralan dimaksud adalah:
- Bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan)
- Bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan)
- Bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (nilai keluarga)
- Bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar: berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong (nilai kejujuran)
- Bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan).
Ajaran moral tersebut, merupakan bagian dari ajaran pokok Buddha bernama Dharma. Seseorang yang ingin mencapai surga (Nirwana) haruslah terlebih dahulu menyucikan batin, dengan cara menjalankan, selain ajaran moral atau sila di atas, juga harus menjalankan ajaran samadhi (perhatian) dan ajaran Panna (kebijaksanaan).
Sukses menjalankan ketiga ajaran tersebut, baru kemudian seseorang dapat mencapai gelar kebuddhahan, sebagaimana yang telah dicapai oleh Sang Buddha Gautama.
Mirip dengan itu, dalam sufisme Islam disebutkan bahwa seorang pencari jalan (salik) yang hendak bertemu (musyahadah) atau berada dekat dengan Tuhannya, maka terlebih dahulu ia harus menyucikan batinnya dengan cara menjalani berbagai latihan (riyadhah), konsentrasi spiritual (mujahadah) dan lulus dari ujian dengan berbagai tingkat (maqam).
Setelah semuanya sukses, barulah sang salik bisa memperoleh kesucian batin sehingga bisa mencapai puncak pengembaraan spiritual, yaitu bertemu Tuhan dalam arti yang spesifik-sufistik.
Relevansi Hari Raya Waisak dalam Kekinian
Dalam konteks Indonesia dewasa ini, kehidupan di hampir semua lini, boleh dikata telah berada pada titik nadir yang amat mencemaskan. Aspek moral sejatinya menjadi spirit dan panduan dalam semua aspek berbangsa dan bernegara, akan tetapi jauh dari realitas.
Nilai-nilai agama yang seharusnya menyinari semua langkah, malah agama telah menjadi korban yang dijadikan alat untuk menjustfikasi perbuatan, seperti yang terjadi dalam kasus aksi anarkisme, terorisme dan kekerasan.
Di tengah gencarnya pemerintahan SBY memberantas korupsi, mafia hukum dan pajak, ironisnya malah semakin marak. Tindakan-tindakan amoral dan asusila, kriminal, tumbuh dan berkembang seiring bermunculannya program-program dakwah di media elektronik, seakan mengisyaratkan anjing menggonggong kafilah berlalu.
Mengapa semua itu bisa terjadi ? Tentu kita memiliki jawaban masing-masing sesuai perspektif kita. Tetapi bagaimanapun perspektif Anda, pada ujungnya kita akan sepakat, bahwa bangsa kita telah dilanda sebuah penyakit parah bernama dekadensi atau bahkan erupsi moral.
Tentu ini hanya salah satu faktor, tetapi tentu pula cukup rasional, bahwa kekurangan atau ketiadaan moral, seseorang bisa melakukan apa saja mengiringi syahwatnya, sebab tidak ada sesuatu apapun yang bisa mengendalikannya kecuali syahwatnya itu sendiri.
Contoh, aksi protes dan kecaman yang datang bertubi-tubi dari rakyat, ditujukan kepada anggota DPR yang bersikeras tetap membangun gedung DPR dengan bia ya yang fantastis, menjadi bukti bahwa mereka telah dikendalikan oleh syahwat mereka sendiri, bukan oleh moral.
Demikian halnya para koruptor, dan lain-lain yang telah disetir bukan oleh moral (agama, akhlak, adat dan tatakrama). Dari tataran inilah kelihatan, betapa penting dan relevannya ajaran Sila atau moral yang dibawa oleh Buddha diimplementasikan dalam perilaku oknum-oknum seperti di atas.
Prinsip moral ajaran Buddha untuk tidak membunuh makhluk hidup, mengambil hak orang lain, bertindak asusila, berdusta dan memakan dan minum berlebihan, merupakan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat manusia dan kemanusiaan.
Keadilan dan kejujuran serta membebaskan diri dari syahwat yang menjerumuskan, sungguh merupakan ajaran yang sangat mulia, yang cocok diterapkan di saat mana bangsa dan Negara kita dililit oleh penyakit moral yang akut.
Dalam perayaan Waisak tahun 2555 ini, patut disambut dan menjadi perhatian kita semua, terutama dalam rangka mengambil hikmah dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Pada saat kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara sedemikian memprihatinkan ini, spirit perayaan Waisak kiranya dapat menjadi renungan untuk kemudian dijadikan starting point untuk kembali bersama-sama membangun bangsa dan negara ini (apapun profesi dan agama/kepercayaan kita) dengan landasan moral dan pengorbanan sebagaimana telah dicontohkan oleh Buddha.
Tentu akan lebih indah dan elegan, jika pembangunan itu dilakukan dengan cara bergandeng tangan, bahu membahu dan tersenyum bersama-sama dengan umat agama-agama lain tanpa ada sentimen dan prasangka buruk satu sama lain.
Dengan begitu, tentu di depan mata kita akan terpampang sebuah potret Indonesia yang cantik, laksana Nirwana sebagai tempat dan tujuan berlabuhnya umat Buddha dan, tentu kita semua.
Membumikan Ajaran Moral Buddha dalam Perilaku
(Respon Atas Peringatan Hari Raya Waisak 2555)
Oleh: Hamzah Giling, dosen STAIN Ternate
Hamzah Giling
Aroepala Residence Blok B/1 Gowa
hamgiling@gmail.com
081355473240
(wwn/wwn)











































