Bagaikan benang yang kusut dan sulit untuk diurai kembali, permasalahan transportasi mulai dari kemacetan, buruknya kondisi angkutan umum, ditambah tidak layaknya infrastuktur penunjang transportasi menjadi momok bagi pemerintah dalam menanggulangi masalah transportasi.
Permasalahan-permasalahan inilah yang terus membayangi masyarakat Indonesia. Sebenarnya permasalahan transportasi tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga selalu terjadi di berbagai negara di dunia. Permasalahan transportasi ini hampir terjadi di kota-kota besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak tanggung-tanggung, di Jakarta saja kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 46 milyar per tahun. Hal ini disampaikan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta dalam sebuah dalam sebuah seminar di Jakarta, Selasa (15/3/2011).
Kemacetan lalu lintas merupakan hal yang rutin terjadi di kota-kota besar. Jakarta merupakan contoh kota besar di Indonesia yang selalu dirundung kemacetan. Dari pagi sampai malam kemacetan selalu menghantui warga ibukota negara ini.
Kota Jakarta yang sejatinya menjadi pusat percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia ternyata memiliki banyak masalah. Transportasi merupakan satu dari sekian banyak masalah yang tidak pernah terselesaikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya tidak bisa mengatasi masalah ini.
Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selalu gagal, bahkan kebijakan-kebijakan ini malah menambah kerugian bagi masyarakat. Kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas sudah menjadi hal lumrah bagi warga kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Kemacetan yang terjadi di berbagai kota besar di Indonesia umumnya disebabkan oleh melesatnya jumlah kendaraan pribadi. Sifat konsumtivisme yang tinggi menyebabkan tingginya jumlah kendaraan bermotor.
Kalau dalam satu rumah bisa memiliki empat buah mobil, berapa mobil yang turun ke jalan bila terdapat ribuan rumah yang ada di sebuah kota? Tentunya ribuan mobil yang akan turun ke jalan dan memenuhi ruas-ruas jalan.
Itu baru mobil, bagaimana dengan sepeda motor? Saat ini masyarakat bisa membeli sepeda motor dengan mudah. Kredit kendaraan motor yang menjamur saat ini menyebabkan masyarakat mudah untuk membeli sebuah sepeda motor.
Umumnya pengguna sepeda motor merupakan masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. Tetapi, tidak menutup kemungkinan, masyarakat menengah ke atas juga banyak yang menggunakan sepeda motor.
Hingga April 2011, Polda Metro Jaya mencatat jumlah sepeda motor sebanyak 13,5 juta. Angka tersebut tentu saja tidak sebanding dengan jumlah penduduk kota Jakarta yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta yang hanya 8,5 juta jiwa.
Selain banyaknya jumlah kendaraan, jumlah ruas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan juga menjadi faktor kemacetan. Jalan-jalan saat ini sudah tidak bisa menampung jumlah kendaraan yang terus bertambah.
Kebijakan tata ruang dengan transportasi sangat erat kaitanya dengan kebijakan transportasi yang dikeluarkan pemerintah. Ruang merupakan kegiatan yang ditempatkan di atas lahan kota, sedangkan transportasi merupakan sistem jaringan yang secara fisik menghubungkan satu ruang kegiatan dengan ruang kegiatan lainya.
Bila akses transportasi ke suatu ruang kegiatan diperbaiki, ruang kegiatan tersebut akan menjadi lebih menarik dan biasanya menjadi lebih berkembang yang kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan alat transportasi. Kemacetan merupakan bukti nyata gagalnya pembangunan tata ruang sebuah kota.
Apakah sifat konsumtivisme yang tinggi menjadi satu-satunya penyebab meledaknya jumlah kendaraan pribadi? Jawabannya tentu saja tidak.
Buruknya kondisi dan pelayanan jasa angkutan umum di Indonesia juga merupakan faktor yang menyebabkan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum.
Padahal, di negara maju seperti Jepang, masyarakat di sana lebih memilih menggunakan angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia terutama di kota-kota besar.
Masyarakat menganggap kondisi fisik angkutan umum sangat tidak manusiawi. Sejatinya angkutan umum merupakan alat transportasi masal yang murah, mudah, cepat, dan nyaman.
Ketika unsur-unsur di atas sudah benar-benar terpenuhi, dipastikan masyarakat akan beralih menggunakan angkutan umum sebagai transportasi sehari-hari. Hal yang diimpikan oleh masyarakat di kota besar.
Mengapa masyarakat sampai saat ini enggan menggunakan angkutan umum, salah satu masalah terpenting adalah masalah kenyamanan dan waktu. Angkutan umum yang ada tidak memberikan pelayanan yang baik dan sering kali menunggu penumpang dengan tidak memperhatikan penumpang yang sudah ada.
Kereta api dan kereta listrik yang jelas-jelas memiliki jalan sendiri, tetap mengalami keterlambatan sehingga merugikan penumpang. Kenyamanan dan keamanan juga menjadi hal yang menghambat masyarakat menggunakan angkutan umum.
Adanya bus Transjakarta yang merupakan solusi yang dikeluarkan Pemprov Jakarta ternyata tidak bisa menjadi pemecahan masalah transportasi di Jakarta. Menggunakan jalur khusus yang diambil dari sebagian ruas jalan yang tersedia, hadirnya bus ini malah menambah biang kemacetan di kota Jakarta.
Menambah armada angkutan umum saja tidak akan menyelesaikan masalah. Seharusnya menambah dan diimbangi dengan memelihara bisa menjadi jalan keluar agar masyarakat nyaman dan menjadikan transportasi publik sebagai pilihan,
Kondisi yang sama juga terjadi pada moda angkutan udara dan angkutan laut. Banyaknya kecelakaan yang terjadi pada kapal-kapal penumpang merupaka bukti nyata bila pemerintah tidak dapat mengatasi buruknya transportasi di Indonesia. Kapal-kapal yang ada saat ini sudah berumur tua sehingga dikategorikan tidak layak jalan. Begitu pula dengan pesawat-pesawat kita.
Kondisi pesawat dan pilot yang tidak profesional merupakan biang permasalahan angkutan udara. Perawatan yang sangat mahal dan membutuhkan dana yang tidak sedikit merupakan kendala yang dihadapi oleh semua moda angkutan mulai dari darat, udara, dan air.
Selain itu, permasalahan yang terus terjadi sampai saat ini adalah tidak layaknya infrastruktur jalan. Kondisi jalan banyak yang rusak dan berlubang. Kondisi ini dapat merembet ke bidang yang lain seperti bidang ekonomi.
Rusaknya jalan dapat menghambat pendistribusian barang-barang seperti barang kebutuhan pokok, sehingga berujung pada tingginya harga-harga kebutuhan pokok di daerah-dareah. Entah kenapa pemerintah daerah atau pemerintah pusat tidak mengacuhkan masalah kerusakan jalan ini.
Momen Hari Transportasi Nsional yang diperingati setiap tanggal 24 April seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi di Indonesia.
Bila kita melirik negara tetangga kita seperti Singapura, dan Malaysia, dua negara itu terlihat jauh lebih maju ketimbang Indonesia dalam menata sistem transportasi. Apiknya sistem transportasi disana pastilah membuat wisatawan yang datang menganggap bahwa negara tersebut sangat maju.
Indonesia seyogyanya dapat mencontoh penataan sistem transportasi di negara-negara tersebut. Tak usah jauh-jauh melakukan studi banding ke Kolombia hanya untuk mempelajari suksesnya Kolombia dalam menerapkan Bus Rapid Transportation(BRT) atau di Jakarta populer dengan nama bus Transjakarta.
Ujung-ujungnya program ini susah untuk diadopsi di kota Jakarta. Pemerintah seharusnya tidak cuma membangun, tetapi yang terpenting adalah upaya menyadarkan masyarakat untuk beralih ke sistem transportasi massal.
Sejauh ini upaya penataan sistem transportasi yang diterapkan oleh pemerintah hanya bertujuan memecahkan masalah yang timbul sekarang dan berjangka pendek, tanpa integrasi yang sesuai dengan perencanaan kotanya.
Padahal tanpa perbaikan mendasar pada aspek perencanaan sistem transportasi secara menyeluruh, masalah-masalah yang timbul beserta implikasi dampaknya tak akan dapat terpecahkan dengan tuntas.
Akibatnya timbullah banyak permasalahan baru, padahal masalah lama belum terselesaikan. Ibarat benang yang semakin kusut sehingga sulit untuk diurai kembali. Itulah sistem transportasi di Indonesia.
Bayu Septianto
Jl. Dago Pojok no 68B Bandung
saya_bayuseptianto@yahoo.com
081316355082
(wwn/wwn)











































