Pidato presiden Amerika, Barack Obama tentang kematian Osama pun di saksikan oleh puluhan juta penduduk dunia. Respon warga dunia pun beragam; mulai dari yang berduka cita, bersuka cita, hingga yang biasa-biasa saja.
Yang berduka cita tentu saja anggota jaringan Al-Qaeda, organisasi yang di pimpin Osama bin Laden serta organisasi teroris lain dan jaringanya. Sementara yang bersuka cita tentunya para keluarga dan korban akibat kejahatan terorisme serta negara-negara barat terutama Amerika yang pernah menawarkan kepala Osama seharga 25 juta dollar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selagi Amerika dan Barat tetap dominatif dengan "teror" ekonomi dan imperialisme budayanya, maka selama itu pula terorisme tetap bergentayangan mencari mangsa. Intinya bagi mereka, tidak ada lagi dominasi dan ketimpangan dalam peradaban mondial.
Terlepas dari beragamnya tanggapan publik dunia terhadap kematian Osama bin Laden, satu hal yang jelas yakni popularitas Barack Husein Obama semakin menguat.
Betapa tidak, perburuan Amerika terhadap Osama yang dilakukan selama 10 tahun terakhir semenjak rezim Bush Junior, tak membawa hasil yang signifikan. Barack Obama datang, dan berhasil mengobati kegeraman dan kemarahan warga Amerika akan ulah teroris.
Obama berhasil memberikan rasa aman bagi warganya, dan memperlihatkan pada rakyat Amerika dan dunia bahwa ia serius memberantas terorisme.
Negara "Abang Sam" bisa memberikan keamanan kepada warganya. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Alih-alih negara memberikan rasa aman, negara justru menjadi "pelaku teror."
Masih segar dalam ingatan kita semua, ketika pemerintah memperkenalkan kebijakan konversi penggunaan energi, hasilnya rumah-rumah penduduk dan penghuninya sendiri porak-poranda akibat ledakan tabung elpiji 3 kg. Kebijakan konversi penggunaan energi rezim Pak Beye justru melahirkan duka baru yang mengharu-biru bagi rakyat, karena "pelakunya" negara itu sendiri.
Negara semakin memperbaharui rekornya dengan membiarkan gerombolan warga negara "memangsa" warga yang lain hanya karena keyakina berbeda. Kasus Cikeusik, Pandeglang, dan Temanggung, Jawa Tengah adalah contoh bagaimana otoritas negara mandul dalam melawan gerombolan warga yang anarkis.
Rekor "teror" itu semakin melambung, ketika pemerintah (Pak Beye) melulu ribut soal kekuasaan dengan "setgab." Energi untuk mengurus rakyat terkuras oleh soal remeh-temeh hanya karena "koalisi" yang sampai hari ini tidak jelas apa manfaatnya buat rakyat.
Belum lagi soal pemberantasan korupsi, tak jelas progressnya. Bayangkan, mega skandal Century tidak lebih sebagai "drama kolosal" yang memperlihatkan betapa negeri ini di huni oleh para bandit yang piawai memainkan scenario politik.
Negeri yang di huni oleh para pembual; moral yang di perdagangkan, pemimpin yang bertipikal dealer, politik dagang sapi menggurita, kemiskinan yang dikomoditaskan, kepedulian yang di komersilkan, hingga yang lebih ironi β rakyat di hargai sebagai subyek yang utuh β manakala ada "hajatan politik", setelah itu dijadikan komoditas yang bisa di komersilkan sesuka hati.
Hari-hari ini, memori publik pun makin kusut dengan lambannya sikap pemerintah dalam menghadapi "teror" organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Tidak jelas apa yang ada dalam benak para pejabat negeri ini?
Atau jangan-jangan betul dugaan sebagaian warga, bahwa gerakan NII hanya sekadar pengalihan isu karena makin menguatnya sikap kritis masyarakat terhadap penyelenggaraan negara yang rasa-rasanya semakin hari semakin jauh dari frasa kesejahteraan rakyat.
Padahal dampak dari gerakan NII ini sangat memengaruhi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena korban gerakan ini adalah para mahasiswa β generasi muda β yang notabene merupakan pelanjut para orang tua dalam menjalankan keberlangsungan NKRI, yang rasa-rasanya juga semakin "reot" sebagai sebuah negara akibat di jarah para bandit yang semakin tak tahu diri.
Untuk itu, kita membutuhkan kearifan dan kenegarawanan pemimpin negeri ini untuk melakukan "pengorbanan politik" (political sacrifice). Keluarlah β walau sejenak β dari selimut pencitraan. Mari bersama resapi, hayati, serta renungkan kegelisahan dan penderitaan rakyat. Jangan sekadar β meminjam istilah Umbu TW Pariangu β sibuk membangun citra, propaganda, dan selaksa pesona dari bilik istana. Semoga!
Β *Penulis adalah Peminat Masalah Sosial & Keagamaan
Muhamad Hamka
Jalan Laksamana Malahayati, Baitussalam, Aceh Besar
for_h4mk4@yahoo.co.id
085262988048
(wwn/wwn)











































