Osama Berakhir, Perang Obama Berakhir?

Osama Berakhir, Perang Obama Berakhir?

- detikNews
Rabu, 04 Mei 2011 16:50 WIB
Osama Berakhir, Perang Obama Berakhir?
Jakarta - Osama bin Laden diberitakan telah tewas setelah diberondong serangan oleh SEAL Team 6 (ST6) , yaitu pasukan elit kontra teroris yang anggotanya disaring dari pasukan elit angkatan laut AS (Navy) SEAL.

SEAL merupakan kependekan dari Sea, Air and Land, yang menunjukkan bahwa pasukan ini dapat beroperasi di darat, laut maupun udara. Maka dapat dikatakan, ST 6 adalah pasukan elit dalam pasukan elit.

Pada hari Ahad (1/5), pukul 23.38 waktu setempat, melalui pidato secara live di televisi, Presiden Barack Obama sendiri yang mengabarkan berita penting itu kepada dunia. Termasuk perihal turut tewasnya anak kandung Osama, beserta pengikutnya yang lain dan seorang perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyerebuan lokasi persembunyian Osama di sebuah mansion yang bertembok setinggi 10 meter dan dikelilingi pagar duri, di pinggiran kota Abbottabad, 50 km (30 mil) barat laut ibu kota Pakistan, Islamabad.

Kabar tersebut memicu euforia di seantero AS. Tepat satu dekade setelah serangan World Trade Center di New York dan Pentagon, 11 September 2001, akhirnya orang yang paling dicari oleh AS dan dihargai Rp. 232 miliar itu tewas.

Pencarian terhadap keberadaan Osama yang merupakan sasaran utama perang terhadap terorisme, telah dilangsungkan sesaat setelah tragedi 11 September 2001, hampir sepuluh tahun yang lalu. Osama tidak hanya diburu oleh AS, tetapi juga menjadi incaran sekutu-sekutu AS dan dicari di banyak negara. Target utama operasi AS adalah Afghanistan, basis kelompok Taliban yang dibantu oleh suku-suku di Afghanistan dan Pakistan.

Sebagai bukti keseriusan mengejar Osama, Presiden Bush dalam salah pidatonya mengatakan bahwa "Siapa saja yang menolak bersama kami, maka ia musuh kami". Termasuk pernyataan tetang perang salib melawan Islam (Crusade Against Muslim). Maka tak kurang dari 60 negara Arab dan negara berpenduduk Islam menjadi target operasi militer AS.

Pasca genderang perang ditabuh oleh Presiden George W Bush, sejumlah serangan militer digencarkan, bak aksi koboi-kobian ala Negeri Paman Sam. Bahkan, sayembara dengan undian jutaan dolar digaungkan. Dunia menjadi latah, mengiyakan komando sang "Polisi Dunia". Sejumlah tempat utama diamankan.

Kumandang perang melawan terorisme AS yang dideklarasikan oleh George W. Bush telah menelan ratusan ribu atau bahkan jutaan nyawa manusia, termasuk masa depan negara-negara yang diduduki pasukan operasi kontra terorisme baik oleh pasukan AS maupun pasukan di negara setempat yang dilatih oleh pasukan AS.

Indonesia pun, tak luput dari agenda perang melawan terorisme. Apalagi pasca ledakan Bom Bali yang semakin menguatkan alasan AS untuk mendorong pemerintah Indonesia memberantas terorisme. Mal, hotel dan tempat keramaian lainnya, juga dijaga ketat. Polri juga membentuk pasukan elite, Detasemen Khusus (Densus) 88, sebagai langkah kongkrit atas kesetiaan pada titah Paman Sam. Namun di kekinian, semakin gencar Polri memberantas teroris, justru sel-sel teroris semakin menggurita, bahkan merambah ke generasi intelek (mahasiswa dan sarjana).

Setiap negara yang bersedia bekerja sama mengejar Osama bin Laden dan jaringan Al Qaedanya, dikucuri dana dari Washington. Termasuk Densus 88. Pengejaran Osama dan jaringannya juga menjadi agenda utama dua periode pemerintahan George Walker Bush serta pemerintahan Obama yang sedang berjalan.

Mengejar Osama, menjadi jalan tol bagi AS dan sekutunya untuk melakukan intervensi militer di beberapa negara yang diduga menjadi persembunyian Osama dan menyemai jaringan Al Qaedah. Mayoritas negara-negara tersebut berada di kawasan Timur Tengah dan kaya dengan minyak.

Diantara target utamanya adalah Afganistan. Perang di Afganistan dimulai pada sejak Oktober 2001 atau sebulan pasca meledaknya WTC pada 11 September. Perang dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Taliban yang dituduh melindungi Al Qaedah serta untuk menangkap Osama.

Dengan sandi Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom), Aliansi Utara Afganistan, menyediakan mayoritas pasukan, dengan dukungan dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO antara lain Britania Raya, Perancis, Belanda, dan Australia.

Selain Afganistan, negara lain yangt klaim menjadi tempat Osama dan jaringanya adalah Sudan, Pakistan, dan Yaman. Sejumlah dugaan pun tak luput dari aksi akrobatik AS yang paradoks. Menghilangakn nyawa banyak masyarakat sipil dalam operasi militernya yang sepanjang tahun tak kurang dari 2.777 menjadi orban.

Jika dirata-rata, ada 8 warga sipil yang tewas setiap hari. Hingga tahun 2010 menurut data yang ada, rakyat sipil yang menjadi korban mencapai 25.000-30.000 orang, ini baru di Afganistan.

Krisis Ekonomi AS

Data dari Human Right Watch menuliskan bahwa pembentukan Densus 88 pada tahun 2002 didanai oleh Washington sebesar 16 juta dollar. Dana untuk menangani terorisme mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2007 Paman Sam merogoh kocek sebesar 93 miliar dollar, tahun berikutnya 2008, bertambah menjadi 141 miliar dollar untuk seluruh sekutunya. Padahal saat itu, krisis memporak porandakan ekonomi Paman Sam.

Belum lagi pasca serangan AS dan sekutunya ke Libya yang hingga hari ini masih terus berlanjut. Biaya perang udara di Libya yang sudah dihabiskan militer AS telah mencapai $ 608 juta, sebagaimana dilansir lansir Reuter Senin (11/4/2011).

Sementara itu, pasukan AS di Irak juga terjebak dalam konflik berkepanjangan. Janji Obama untuk menarik pasukan dari Irak masih sebatas pemanis bibir. Seperti juga saat presiden kulit hitam pertama di AS itu menjadikannya sebagai jualan kampanye. Mesin perang yang terus ditabuh di seantero jazirah Arab dan didukung oleh sekutu-sekutunya, semakin mengeroposkan ekonomi AS.

Jika klaim tewasnya Osama dalam penyerbuan tanggal 1 Mei tengah malam yang lalu, benar adanya, maka tak ada lagi alasan bagi serdadu AS untuk terus bercokol di Timur Tengah. Karena toh, misi utama AS selama ini adalah memburu Osama.

Jika pun Obama masih keukeh memberantas sisa jaringan Osama, dimana nama-nama dan data calon pengganti pemimpin Al Qaedah telah dirilis intelejen AS dua hari pasca tewasnya Osama, maka bisa diprediksi bahwa ekonomi AS akan semakin terpuruk untuk membiayai operasi lanjutan tersebut.

Kini Osama, orang yang paling dicari AS selama satu dekade telah tiada. Dikubur (lebih tepatnya dibuang) secara tidak manusiawi di Laut Arab dengan kapal induk AS USS Carl Vinson pada Senin (2/5) dini hari. Maka sekarang giliran Obama memerintahkan serdadu dan mesin-mesin pembunuhnya untuk angkat kaki, setelah sepuluh tahun memporak-porandakan negeri-negeri muslim (khususnya Afganistan) dengan perang.

Beranikah Obama mengambil sikap ksatria ditengah euforia rakyat AS merayakan tewasnya Osama? Atau justru terus bertahan dan setiap tahun menggelontorkan dana US$ 20 miliar untuk membiayai perang di Afganistan ditengah resesi ekonomi yang menghantam dan mengantar AS pada jurang kehancuran lebih jauh?


Jusman Dalle
Jl. Urip Sumoharjo Km. 05 Makassar
jusmandalle@rocketmail.com
085299430323

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads