Dan di sini, kematian Osama telah membawa perbedaan pendapat tentang ungkapan mana yang tepat untuk digunakan dalam kejadian ini. Seperti yang sudah kita ketahui, pada Senin (2/5), pasukan khusus teror Amerika Serikat, SEAL Team Six (ST6) telah berhasil menjinakkan salah satu buronan terbesar abad 21, Osama bin Laden.
Sosok yang disebut-sebut sebagai otak dari sejumlah aksi terorisme di penjuru dunia ini ditembak mati di kepalanya 40 menit setelah SEAL Team 6 melakukan penggerebekan di persembunyiannya di Abbotabat, salah satu kota di pedalaman Pakistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kematian Osama adalah momen penting untuk melawan terorisme global. Umat muslim di AS pun turut bergembira dengan kabar kematian Osama tersebut. Mereka mengklaim, dengan tewasnya Osama, anggapan bahwa ideologi kekerasan yang selama ini identik dengan ajaran agama Islam dapat diredam.
Menurut John Esposito, salah satu profesor agama dan urusan internasional, tewasnya Obama paling tidak dalam jangka pendek dapat mengurangi tekanan akan islamofobia yang banyak dialami oleh umat muslim di Amerika Serikat.
Senada dengan pernyataan tersebut, Imam Muhammad Musri dari Islam Society of Central Florida turut bergembira atas tewasnya Osama. Ia menyebutkan, bahwa selama ini ia sudah berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa Islam tidak satu pemikiran dengan Osama.
Di sisi lain, ada pula pihak yang tidak larut dalam sukacita tersebut, namun sebaliknya, mereka justru mengharapkan agar Osama dapat dirahmati oleh Allah SWT. Hal ini seperti diungkapkan oleh juru bicara utama Jamaβah Anshorut Tauhid, Abdul Rohim Ba'asyir.
Menurut beliau, setiap jiwa pasti menemui ajalnya, namun semangat jihad tak akan terpengaruh dengan hidup dan matinya seorang manusia. Menurut pimpinan pusat Ansharullah, Fauzan Al-Anshari, kematian Osama adalah Syahid, yaitu kematian di jalan Allah.
Menurutnya, setetes darah syuhada yang jatuh ke bumi akan melahirkan syuhada-syuhada yang lain. Hal senada diungkapkan oleh ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. Beliau mengungkapkan bahwa masyarakat kafir yang berpesta pora atas kematiannya adalah kemenangan Osama sebagai syahid.
Dari statemen-statemen di atas, dapat kita simpulkan bahwa kematian Osama telah mengundang pro dan kontra, apakah kematiannya merupakan suatu kesyukuran, atau justru kematiannya adalah suatu cobaan yang dapat mendorong umat Islam untuk lebih menyerahkan dirinya kepada Allah SWT.
Di satu sisi, perjuangan dakwah jihad Osama memang mengundang banyak kontroversi. Aksi-aksi pengeboman yang identik dengan terorisme telah menjadi trademark tersendiri bagi Osama.
Jaringan Al-Qaeda yang dipimpinnya telah berulang kali disangkut-pautkan dengan aksi-aksi tersebut. Hal ini tentu saja menimbulkan pengecaman dari berbagai pihak. Aksinya yang kerap menimbulkan korban jiwa ini bukan sekali dua kali saja, namun sudah berkali-kali dan terjadi di berbagai belahan dunia, dari Amerika Serikat hingga Indonesia.
Kenyataan ini menjadikan umat Islam kerap diidentikkan dengan kekerasan yang berujung pada terorisme. Dan tentu saja, banyak masyarakat non muslim yang terjangkit sindrom islamofobia gara-gara aksinya tersebut.
Dari sudut pandang ini, niat jihad yang ia bawa bisa jadi salah, karena banyak hal-hal negatif yang justru timbul dari perbuatannya tersebut, seperti anggapan bahwasanya Islam adalah teroris. Namun di sisi lain, niatan jihad yang dibawa oleh Osama, meskipun kerap menimbulkan kontroversi, patut diapresiasi.
Di zaman modern ini, tidak banyak orang yang berani menyuarakan suara jihad sedemikian lantangnya. Mungkin memang cara dia berjihad tidak sepenuhnya benar, karena Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan keselamatan.
Namun yang kami tekankan di sini, adalah semangatnya untuk memperjuangkan agama Islam dan tidak gentar akan segala sesuatu, semangat yang mencerminkan keimanannya dan pembelaannya akan agamanya yang kerap diinjak-injak oleh negara-negara sekuler.
Inilah yang perlu kita apresiasi dan bahkan kita tiru. Jika ada rakyat Indonesia yang memiliki semangat militansi seperti Osama, tentu saja negara kita tidak akan mudah diinjak oleh negara-negara lain. Selama ini, negara kita sudah kenyang diinjak-injak dan bahkan "dijajah" secara intelektual, kultur dan budaya. Kita lihat bagaimana Malaysia dengan gampangnya mengklaim blok Ambalat adalah wilayahnya.
Nelayan Thailand dengan entengnya melanggar perbatasan dan melaut di perairan Indonesia. Belum lagi bentuk-bentuk penjajahan dalam bentuk perdagangan, seperti membanjirnya produk impor dari Cina. Semua itu adalah bukti yang meguatkan bahwa Indonesia tidak memiliki tokoh sekaliber Osama yang memiliki idealisme dan prinsip yang kuat dalam membela ideologinya.
Di sini, kami menyimpulkan, bahwa kematian Osama sudah sepantasnya kita jadikan refleksi. Bagaimanapun, perjuangan Osama tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan membela agamanya dengan caranya sendiri, sekalipun ,mungkin ada banyak kesalahan dalam pengaplikasian jihadnya tersebut.
Dan yang patut kita contoh darinya adalah semangatnya dan kekuatan idealisme yang ia miliki, sehingga ke depannya kita dapat mengaplikannya ke dalam keyakinan kita dan umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas dapat turut memperjuangkan agamanya dan juga dapat memperjuangkan negaranya.
*Penulis adalah mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam Gontor
Satria Hibatal Azizy
Griya Permata Hijau blok C-6 Kec Candi, Sidoarjo
hibatalazizy@gmail.com
081357363199
(wwn/wwn)











































