Menjalankan Keputusan FIFA

Menjalankan Keputusan FIFA

- detikNews
Selasa, 05 Apr 2011 14:13 WIB
Menjalankan Keputusan FIFA
Malang - Kisruh di tubuh PSSI yang bermuara pada pembekuan kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid dan Nugraha Besoes oleh Menpora Andi Malaranggeng. Memasuki babak baru setelah FIFA Melalui komisi darurat pada tanggal 1 April 2011 FIFA akan membentuk komisi normalisasi untuk menyelesaikan kemelut dalam tubuh PSSI dan persepakbolaan di tanah air. Keputusan ini disiarkan melalui situs resminya www.fifa.com pada 4 April 2011 kemarin.

Secara lebih tegas FIFA memberikan kriteria bahwa siapa-siapa yang menjadi anggota komisi normalisasi adalah orang-orang yang tidak dapat mencalonkan dan atau dicalonkan untuk mengisi posisi di PSSI. Artinya, komite normalisasi akan diisi oleh tokoh-tokoh sepak bola Indonesia yang punya kompetensi, pernah berjuang demi persepakbolaan dan tidak memiliki kepentingan pribadi kecuali memajukan sepak bola nasional.

Komite ini bertugas untuk mengambil alih peran komite eksekutif dan berfungsi sebagai komite pemilihan. Dalam keterangan FIFA disebutkan, komite normalisasi akan bertuga untuk menggelar kongres sebelum tanggal 21 Mei 2011 sesuai dengan kode pemilihan FIFA dan statuta PSSI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tugas kedua merangkul Liga Primer Indonesia di bawah kontrol PSSI atau menghentikan liga tersebut secepatnya. Dan ketiga menjalankan aktivitas keseharian PSSI dalam semangat rekonsialiasi dan kebaikan sepak bola Indonesia.

Selain itu, FIFA melalui keputasan komisi darurat menegaskan kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid telah kehilangan kredibilitas dan pengurus PSSI tidak berwenang untuk menyelesaikan krisis sepak bola. Ketidakmampuan PSSI mengatur dan mengendalikan LPI serta kegagalan memilih komite banding dan komite pemilihan pada tanggal 26 Maret menjadi alasan utama FIFA menganggap PSSI Nurdin kehilangan kredibilitasnya.

FIFA juga menegaskan bahwa empat calon yang pernah di tolak komisi banding pada 28 Februari tidak bisa dicalonkan kembali sebagai ketua umum 2011-2015. Ke empat calon tersebut adalah Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro.

Keputusan FIFA ini tentunya akan menghentikan seluruh spekulasi yang berkembang. Termasuk pelaksanaan kongres di Surabaya pada tanggal 29 april yang ditetapkan 78 pemilik suara pada kongres Riau.

Konsekuensi yang lebih penting dari keputasan FIFA pertama adalah pengertian semua pihak yang berkonflik untuk menahan nafsu berkelahi dan menghargai keputusan FIFA. Seluruh pihak bekewajiban untuk mengerem semua aktivitas yang terhubung dengan kongres PSSI. Meredakan seluruh ketegangan yang membuat sepak bola nasional dalam kondisi yang tidak terurus dengan baik. Sembari menunggu FIFA memilih anggota Komite Normalisasi.

Dalam hal ini, mantan-mantan ketua umum PSSI, tokoh independen, akademisi ataupun wartawan olahraga merupakan alternatif solusi untuk mengisi Komite tersebut. Bukan lagi orang-orang yang memilik hidden agenda, seperti para politisi, tokoh partai, PNS ataupun pejabat negara.Upaya ini penting untuk terciptanya rekonsialiasi, setelah tercerai-berai konflik kepentingan.

Kedua, mencarikan solusi terbaik bagi kelanjutan nasib LPI yang digadang-gadang sebagai liga profesional yang tidak lagi menggunakan APBD. Poin penting dari LPI yang sudah berjalan adalah membiarkan liga tersebut hingga berakhir terlebih dahulu.

Lalu, menggabungkan dengan liga yang berada di bawah naungan PSSI di bawah kepengurusan baru nanti. Mekanisme ini urgen agar kompetisi bisa berjalan dengan tertib dan dalam satu naungan lembaga resmi sehingga kompetisi berjalan dengan fair dan dapat menghasilkan timnas yang kuat dan berprestasi.

Membuat klub-klub yang mampu bersaing dan bersaing di kompetisi yang levelnya lebih tinggi seperti AFC cup maupun LCA. Kompetisi di bawah naungan PSSI akan dapat membuat pemain bisa tenang dan berkesempatan untuk membela timnas tanpa ketakutan karena liga yang di ikuti tidak berada di bawah naungan FIFA.

Kasus Irfan Bachdim semestinya tidak terulang lagi di masa depan. Akan sangat disayangkan bila banyak aset bangsa yang memiliki kualitas dan kapasitas menjadi bintang timnas mereka berkompetisi dalam wadah yang ilegal, yang akan membuat mereka gagal meraih prestasi yang lebih tinggi.

kini Keputusan FIFA, harus bisa ditempatkan sebagai momentum emas untuk perubahan. Mengolah masa depan sepak bola yang maju. Sehingga pada kongres nanti, semua elemen yang merasa memiliki PSSI bisa hadir, berdebat dan mengolah konsep kemajuan sepak bola. Bukan saling berebut anggota komisi eksekutif, ketua umum dan wakil ketua umum saja.

Kongres yang dilakukan dengan bersama dengan saling memaafkan tanpa melupakan kesalahan-kesalahan pengurusan sebelumnya adalah kesempatan yang tidak mungkin akan datang berkali-kali.

Peluang untuk mengevaluasi, koreksi sekaligus proyeksi dan mencari ketua umum yang betul-betul bisa membawa pada kejayaan sepak bola nasional. Momentum perubahan itu kini berada di depan mata. Kesempatan bagi seluruh elemen yang mencintai sepak bola untuk urun rembug membangun sepak bola.

Viva Sepak Bola. Go A Head PSSI.


Ahan Syahrul
Jl. Basuki Rahmat 101 atas Malang
081233339032
syahrulahan@yahoo.co.id

(wwn/wwn)


Berita Terkait