Komisi Nobel makin menuai kritik dengan keputusan presiden Obama memerintahkan serangan udara besar-besaran di Libya yang sebelumnya kritik diajukan kepada Komisi Nobel dua bulan pasca pemberian hadiah Nobel Perdamaian tahun 2009, Obama mengirimkan 30.000 tentara tambahan ke Afganistan, ditambah peningkatan penggunaan serangan pesawat tidak berawak di Pakistan dan Yaman.
Meskipun banyak menuai kritik dari masyarakat dunia juga masyarakat Amerika Serikat dan para anggota kongres Amerika Serikat, tampaknya Presiden Obama tetap menjalankan misi perdamaiannya di Libya dengan mendeklarasikan perang pada Libya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misi Perdamian Obama
Keputusan presiden Obama tentang deklarasi perang pada Libya adalah merupakan mandat dari Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang secara khusus memfokuskan pada ancaman kemanusiaan yang dilakukan oleh Muammar Khadafi terhadap rakyat Libya.
Resolusi DK PP 1973 Tahun 2011 ini diusulkan oleh Amerika Serikat, Britania Raya dan Lebanon, disetujui oleh sepuluh negara anggota, Bosnia dan Herzegovina, Kolumbia, Prancis, Gabon, Lebanon, Nigeria, Portugal, Afrika Selatan, Britania Raya dan Amerika Serikat. Sementara negara China, Rusia, Jerman, India dan Brasil tidak memberikan pendapat (abstain).
Resolusi DK PP 1973 Tanggal 17 Maret 2011 terkait dengan situasi di Libya itu mengatur mengenai penerapan genjatan senjata (cease-fire) dan penghentian seluruh tindakan kekerasan serta penyerangan terhadap penduduk sipil dalam waktu segera, perlunya upaya-upaya yang intensif untuk merumuskan suatu solusi politik yang damai dan berkelanjutan atas krisis di Libya, kewajiban bagi otoritas Libya untuk mematuhi hukum internasional, perlindungan atas penduduk sipil (protection of civillians), pelaksanaan zona larangan terbang (no fly zone), pelaksanaan embargo senjata (enforcement of arms embargo) dan pembekuan sejumlah aset perorangan, instansi pemerintah maupun perusahaan di Libya.
Presiden Obama juga menekankan agar Muammar Khadafi harus keluar dari negaranya merupakan kebijakan pemerintahan Amerika Serikat karena Muammar Khadafi dituduh telah membunuh warga sipil saat mencoba menghentikan aksi protes oposisi. Namun presiden Obama memastikan untuk mengeluarkan Muammar Khadafi dari negaranya maka presiden Obama tidak akan mengerahkan pasukan militer Amerika Serikat di daratan Libya.
Sebagai suatu misi perdamaian, serangan militer Amerika Serikat ke Libya diyakini untuk mencegah tindakan Muammar Khadafi yang menekan rakyatnya dengan melakukan kekejaman terhadap rakyat Libya. Presiden obama juga meyakinkan bahwa kekejaman Muammar Khadafi akan membuat ribuan orang bisa mati dan sebuah krisis kemanusiaan akan terjadi.
Karenanya Presiden Obama mengklaim misi serangan udara terhadap Libya itu sukses dan telah melumpuhkan kekuatan Muammar Khadafi sehingga telah menyelamatkan banyak orang yang tak berdosa dari pertumpahan darah. Tindakan cepat Amerika Serikat dan pasukan koalisi itu oleh presiden Obama dinyatakan telah menyelamatkan warga sipil (warga dan anak-anak yang tak bersalah).
Kenyataan demikian itu, sebagai suatu perlindungan bagi warga sipil dari ancaman rezim yang memutuskan melakukan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri dapat diterima sesuai dengan mandat DK PBB dan merupakan langkah yang benar untuk melindungi rakyat Libya dari ancaman Muammar Khadafi dan mengakhiri perang saudara di Libya.
Namun serangan pasukan kolisi pimpinan Amerika Serikat di Libya yang telah menghancurkan pesawat jet tempur Libya yang melanggar zona larangan terbang, telah pula menyebabkan korban masyarakat sipil mencapai ratusan orang yang dimakamkan secara masal di Tripoli.
Serangan militer berdalih misi perdamaian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat kini tengah menemukan kerumitan sendiri bagi Presiden Obama yang terus menuai kritik walaupun NATO memutuskan memimpin operasi zona larangan terbang di Libya, namun peran Amerika Serikat masih sangat vital. Penyerangan di lapangan dilakukan Inggris dan Pranacis tetapi Amerika Serikat adalah pimpinan pasukan koalisi dan penggerak dan pelopor serangan ke beberapa kompleks militer dan kediaman Mauammar Khadafi.
Pertaruhan Obama
Kridibilitas politik presiden Obama tengah dipertaruhkan, setidaknya bila misi perdamaian Presiden Obama di Libya ternyata tidak sekedar mengemban misi perdamaian, akan tetapi adalah dikarenakan alasan penguasaan minyak di Libya sebagai alasan utama Amerika Serikat menggempur Libya.
Sebagaimana pernyataan sebuah artiket Pravda, situs resmi Rusia berbahasa Inggris yang mengungkapkan bahwa pada 25 Januari 2009 Muammar Khadafi mengusulkan nasionalisasi perusahaan minyak Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Spanyol Norwegia, Kanada dan Italia. Alasan nasionalisasi itu dikarenakan harga minyak turun.
Pernyataan itu mengkhawatirkan perusahaan minyak asing besar yang beroperasi di Libya seperti Shell (Belanda), British Petroleum (Inggris), Exxon Mobil, Hess Corp, Marathon Oil, Occidental Petroleum, Conoco Phillips (Amerika Serikat), Repsol (Spanyol), Wintershall (Jerman), OMV (Austria), Statoil (Norwegia, Eni (Italia) dan Petro Canada (Kanda).
Pada 16 Februari 2009 Muammar Khadafi mengambil langkah lebih jauh untuk menyalurkan kekayaan dari minyak secara langsung kepada lima juta rakyatnya. Namun rencana Muammar Khadafi untuk menyalurkan pendapatan minyak kepada rakyatnya secara langsung itu ditentang pejabat senior yang takut kehilangan pekerjaan dengan rencana Muammar Khadafi memberantas korupsi. Dan imaje kediktatoran Muammar Khadafi yang merampok harta rakyatnya telah membuat sisi baik pemimpin Libya itu tidak terlihat.
Apakah presiden Obama benar-benar mengemban misi perdamaian atau karena alasan penguasaan minyak di Libya? Tampaknya serangan militer Amerika Serikat di Libya benar-benar menjadi pertaruhan politik presiden Obama di mata masyarakatnya.
Bila mengikuti situasi psikologi masyarakat di Amerika Serikat saat ini dapat dilihat dari sedikitnya jumlah persentase dukungan masyarakat atas deklarasi perang pada Libya dari hasil jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Gallup, hanya 47% responden yang menyetujui serangan militer Amerika Serikat ke Libya.
Sebahagian besar anggota kongres Amerika Serikat dari berbagai negara bagian menolak aksi militer atas Libya. Presiden Obama dianggap sangat lancang mengeluarkan perintah penyerangan dengan menggunakan militer Amerika Serikat tanpa terlebih dahulu meminta restu dari kongres Amerika Serikat, sehingga tindakan presiden Obama telah melampaui wewenang dan hak kongres Amerika Serikat dalam melaksanakan konstitusi dan tindakan yang bertentangan dengan hukum.
Kritikan para anggota konres Amerika Serikat lainnya antara lain disebabkan oleh besarnya biaya perang yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Diperkirakan dalam sepekan biaya perang mencapai lebih dari US $2 Milyar atau sekitar Rp 17,4 Triliun.
Di tengah Amerika Serikat terhuyung-huyung di bawah hutang yang mencapai $14 triliun, 15 juta orang Amerika menganggur, 43 juta hidup dari kupon makanan dan menghadapi perang di Irak dan Afghanistan, presiden Obama dengan berani tengah mempertaruhkan masa depan politiknya melalui misi perdamaian dengan melakukan serangan militer pada Libya.
Pilihan yang berani dari presiden obama itu akan menuai popularitas dan pujian dari masyarakat di Amerika Serikat ketika Libya mendapatkan perdamaian sesuai Rosulisi DK PBB sampai akhir penarikan pasukan militer Amerika Serikat dari Libya sehingga menguatkan presiden Obama sebagai orang yang layak meraih hadiah Nobel Perdamaian. Namun, presiden Obama dengan berbagai resiko yang dihadapi atas keputusannya juga akan menempatkan posisinya berada di tempat sampah sejarah sebagaimana pernyataan Muammar Khadafi.
Dari sederet pertanyaan atas serangan militer Amerika Serikat ke Libya, kini kita mendapat satu jawaban pasti bahwa presiden obama telah berani mempertaruhkan masa depan politiknya dengan berbuat nyata bukan hanya untuk dirinya atau untuk masyarakat Amerika Serikat tetapi untuk terciptanya suatu perdamaian dunia. Wallahu aβlam bishawab.
*Penulis Adalah Direktur CINTA Indonesia (Central Informasi Networking Transformasi dan Aspirasi Indonesia).
Wahyu Triono KS
Bhayangkara No. 9A PGS Cimanggis, Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com
081219921609
(wwn/wwn)











































