PSSI dan Kalabendu Firaunisme

PSSI dan Kalabendu Firaunisme

- detikNews
Jumat, 01 Apr 2011 10:24 WIB
PSSI dan Kalabendu Firaunisme
Jakarta - Kulminasi konflik persepakbolaan nasional yang bernaung dibawah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sepekan terakhir menemukan titik didihnya. Setelah Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Andi Alivian Mallarangeng, mengambil sikap tegas pasca kisruh PSSI di Kota Pekan Baru, Riau.

Sejak Senin (28/3), Menpora resmi membekukan kepengurusan PSSI di bawah komando Nurdih Halid karena dinilai tidak kredibel dalam memimpin PSSI.

Melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Menpora mengambil alih semua kegiatan persepakbolaan di tanah air hingga PSSI memiliki Ketum definitif. Selain itu, Menpora juga menyetop anggaran PSSI yang bersumber dari APBN jika Nurdin halid tak mau jua turun dari kursi kekuasaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh fasilitas PSSI termasuk kantor dan pengamanan dari kepolisian yang bersumber dari negara, juga ikut ditarik dan dibekukan.

Mahkota Bola

Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, publik dapat menebak reaksi Nurdin Halid. Alih-alih mundur akibat tekanan yang datang bertubi-tubi dari publik sepak bola nasional, Nurdin halid justru meminta Presiden SBY mencopot Andi Mallarangeng dari jabatannya sebagai Menpora.

Petinggi Golkar ini sakti mandra guna. PSSI bak rumah pribadi. Aturan PSSI disetting sedemikian rupa, sesuai selera tuan rumah. Kita ketahui, bahwa Nurdin Halid menjadi Ketua PSSI sejak 2003 tanpa prestasi yang membanggakan selain membawa Timnas Indonesia sebagai Runner Up dalam kompetisi Asean Footbal Federaionl (AFF) Cup. Prestasi ini pun dicapai setelah menaturalisasi sejumlah pemain keturunan, dan merekalah yang berperan besar membawa Indonesia sebagai runner up.

Selain nihil prestasi, Nurdin Halid juga mempolitisasi PSSI. Saat pelaksanaan ajang kompetisi AFF, Nurdin Halid membawa Timnas plesiran politik ke kediaman Ketua Umum Golkar, Abu Rizal Bakrie untuk sarapan. Dalam pada itu, Ical (panggilan akrab Abu Rizal Bakrie), menjanjikan sebidang tanah untuk Timnas.

Di kesempatan berbeda, Nurdin Halid lagi-lagi mempolitisasi PSSI. Tepatnya saat deklarasi pasangan Aminudin Ponulele-Luciana, calon Gubernur/Wakil Gubernur Sulteng di GOR Siranindi, Palu. Koordinator Wilayah Sulawesi DPP Golkar ini, mengaku bahwa sukses PSSI menjadi runner up Piala AFF berkat dirinya, kader Golkar yang juga ketua PSSI. "Padahal keberhasilan Timnas tersebut tak lepas dari kepemimpinan saya di PSSI" kata Nurdin.

"Termasuk saya sebagai kader Golkar berbuat untuk PSSI" tambahnya. Padalah sejatinya, dalam konteks sebagai ketua PSSI, memang sudah menjadi keharusan dan tanggungjawab bagi Nurdin Halid untuk memajukan PSSI.

Dalam perspektif komunikasi politik, apa yang dilakukan dan disampaikan Nurdin halid pada dua momen tersebut merupakan cerminan rasa superior sebagai ketua PSSI, merasa dibackingi oleh orang dan kelompok besar. Walau berulang kali Ical menegaskan bahwa Golkar tidak mempolitisasi PSSI. Namun lakon telah berlaku, sepak terjang Nurdin menguatkan opini "Politisasi PSSI" yang sudah berkembang luas.

Apatah lagi Nurdin secara frontal mengkonfrontir Menpora yang juga tokoh Partai Demokrat. Bukan hanya itu, di daerah penulis (Makassar), Walikota Makassar, Ketua Partai Demokrat Sulsel, juga berseteru dengan pihak keluarga Nurdin Halid yang memang berasal dan banyak di Makassar.

Nurdin terus keukeh tak mau meninggalkan jabatannya sebagai ketua umum PSSI. Bahkan kitab suci –Statuta- FIFA ditelikung untuk meloloskan dirinya sebagai calon tunggal. Persyaratan "tidak sedang dan atau pernah menjadi narapidana "disitir menjadi" tidak sedang menjadi narapidana". Nurdin Halid terjebak dalam labirin kekuasaan bergelimang uang. Mahkota bola sepertinya seperti syair yang dilantun Pasha-Ungu. Terlalu indah untuk dilupakan.

Rezim

Cerita Nurdin Halid bukanlah satu-satunya "khazanah manusia super" (rezim) di Indonesia. Ada banyak mozaik gelap yang patut dijadikan pelajaran di negeri ini, tentang jabatan yang menutup nurani manusia. Proklamator RI (tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau) Ir. Soekarno, juga pernah mendeklarasikan diri sebagai Presiden RI seumur hidup. Walau kemudian dikudeta atas nama Supersemar.

Setelahnya, Soeharto yang banyak dipuja puji, juga setali tiga uang. 32 tahun mendirikan dinasti Cendana dengan jaring-jaring gurita kekuasaan hingga ke konglomerat hitam. Menyedot kekayaan negeri ini ke celengan koruptifnya. Melelang Indonesia ke negara asing hingga anak cucu setelahnya menanggung beban, menjadi kuli sepanjang hari. Menjadi babu sepanjang malam. Tergugu bak pengemis dungi ditepi sejarah kepongahan.

Jika di Indonesia cerita hitam dan kusam kekuasaan itu memekakkan nurani, di luar sana. Jauh di tetandusan Jazirah-Afrika, ada banyak rezim serupa. Ben Ali yang zahuq oleh picu seorang pemuda miskin penjual sayur, Mohammed Bouazizi. Setelahnya rezim tiga dekade, Housni Mubarak juga terpental dari singgasana setelah diamuk demonstrasi demokrasi.

Tercecar peluh dan darah oleh desing peluru bayonet atau bahkan muntahan mortir dan roket. Ribuan nyawa melayang. Di kekinian, kita menyaksikan Muammar Khadafi yang telah memberondong warga negaranya sendiri dengan muntahan peluru dan rudal dari tank hingga pesawat tempur. Lebih dari 6000 korban jiwa seolah tak berarti demi mempertahankan kekuasaan.

Amerika Serikat yang datang ke Libya memimpin operasi militer dengan dalih menyelamatkan nyawa rakyat sipil, pun tak jauh dari selimut tendensi kekuasaan. Dunia sudah mahfum, Khadafi adalah penganut sosialisme, anti AS dan kapitalismenya, selain juga kaya raya akan sumber energi.

Di tempat yang tak jauh dari negeri eksportir emas hitam (baca : minyak) itu, sejumlah tiran lainnya juga tak mampu menahan mabuk kuasa. Enggan berpisah dengan tahta. Di Bahrain, Suriah, Arab Saudi, Yaman dan negeri-negeri dimana puluhan anbiya pernah membebaskan manusia dari perbudakan syahwat yang memhakotai singgasana kekuasaan.

Mungkin Nurdin Halid yang frase depan namanya berarti cahaya agama, lupa kisah Fir'aun yang diabadikan Al Qur'an. Pun mereka, para penguasa despotik yang jasad Fir’aun dikekalkan Tuhan di negerinya (Mesir negeri Housni Mubarak). Namun hati terlampau tertutup dunia. Nurani terjebak dalam labirin kekuasaan. Gelap yang pekat, menyelimuti.

Kealpaan dihadapan kemanusiaan memang selalu ringkih dan tersandera oleh kekuasaan. Aromanya sumir dan anyir. Tembang supuh dalam Serat Chentini telah memuat gambaran kondisi ini berabad silam. Oleh Jayabaya yang seorang futurolog klasik, zaman ini disebut Zaman Kalabendu. Berikut salah satu kutipannya dari buku The Secret For Muslim :

Krep paprangan
Sujana kapontit nurut
Durjana susila dadra andadi
Akeh maling malandang marang ing marga

Peperangan sering terjadi
Durjana semakin menggila
Dan para pencuri melenggang bebas dijalan raya

Papatih nindita, pra nayaka tyas basuki
Panekere becik-becik cakrak-cakrak

Para pemimpin mengaku
Semua berjalan baik dan terencana
Sekedar menutupi berbagai bencana

Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu
Mandar sangking dadra, rubenda angrubedi
Beda-beda hardaning wong sanagara

Inilah tanda zaman Kalabendu
Kian lama, kesulitan semakin menggila
Berbeda-beda tingkahlaku orang senegara
Wallahu'alam

*Penulis adalah Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Analis Society Research And Human Development (SERUM) Institute Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili lembaga.

Jusman Dalle
Jl. Urip Sumoharjo Km. 05 Makassar
jusmandalle@rocketmail.com
085299430323


Kulminasi konflik persepakbolaan nasional yang bernaung dibawah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sepekan terakhir menemukan titik didihnya. Setelah Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Andi Alivian Mallarangeng, mengambil sikap tegas pasca kisruh PSSI di Kota Pekan Baru, Riau.

Sejak Senin (28/3), Menpora resmi membekukan kepengurusan PSSI di bawah komando Nurdih Halid karena dinilai tidak kredibel dalam memimpin PSSI.

Melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Menpora mengambil alih semua kegiatan persepakbolaan di tanah air hingga PSSI memiliki Ketum definitif. Selain itu, Menpora juga menyetop anggaran PSSI yang bersumber dari APBN jika Nurdin halid tak mau jua turun dari kursi kekuasaannya.

Seluruh fasilitas PSSI termasuk kantor dan pengamanan dari kepolisian yang bersumber dari negara, juga ikut ditarik dan dibekukan.

Mahkota Bola
Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, publik dapat menebak reaksi Nurdin Halid. Alih-alih mundur akibat tekanan yang datang bertubi-tubi dari publik sepak bola nasional, Nurdin halid justru meminta Presiden SBY mencopot Andi Mallarangeng dari jabatannya sebagai Menpora.

Petinggi Golkar ini sakti mandra guna. PSSI bak rumah pribadi. Aturan PSSI disetting sedemikian rupa, sesuai selera tuan rumah. Kita ketahui, bahwa Nurdin Halid menjadi Ketua PSSI sejak 2003 tanpa prestasi yang membanggakan selain membawa Timnas Indonesia sebagai Runner Up dalam kompetisi Asean Footbal Federaionl (AFF) Cup. Prestasi ini pun dicapai setelah menaturalisasi sejumlah pemain keturunan, dan merekalah yang berperan besar membawa Indonesia sebagai runner up.

Selain nihil prestasi, Nurdin Halid juga mempolitisasi PSSI. Saat pelaksanaan ajang kompetisi AFF, Nurdin Halid membawa Timnas plesiran politik ke kediaman Ketua Umum Golkar, Abu Rizal Bakrie untuk sarapan. Dalam pada itu, Ical (panggilan akrab Abu Rizal Bakrie), menjanjikan sebidang tanah untuk Timnas.

Di kesempatan berbeda, Nurdin Halid lagi-lagi mempolitisasi PSSI. Tepatnya saat deklarasi pasangan Aminudin Ponulele-Luciana, calon Gubernur/Wakil Gubernur Sulteng di GOR Siranindi, Palu. Koordinator Wilayah Sulawesi DPP Golkar ini, mengaku bahwa sukses PSSI menjadi runner up Piala AFF berkat dirinya, kader Golkar yang juga ketua PSSI.
"Padahal keberhasilan Timnas tersebut tak lepas dari kepemimpinan saya di PSSI" kata Nurdin.

"Termasuk saya sebagai kader Golkar berbuat untuk PSSI" tambahnya. Padalah sejatinya, dalam konteks sebagai ketua PSSI, memang sudah menjadi keharusan dan tanggungjawab bagi Nurdin Halid untuk memajukan PSSI.

Dalam perspektif komunikasi politik, apa yang dilakukan dan disampaikan Nurdin halid pada dua momen tersebut merupakan cerminan rasa superior sebagai ketua PSSI, merasa dibackingi oleh orang dan kelompok besar. Walau berulang kali Ical menegaskan bahwa Golkar tidak mempolitisasi PSSI. Namun lakon telah berlaku, sepak terjang Nurdin menguatkan opini β€œPolitisasi PSSI” yang sudah berkembang luas.

Apatah lagi Nurdin secara frontal mengkonfrontir Menpora yang juga tokoh Partai Demokrat. Bukan hanya itu, di daerah penulis (Makassar), Walikota Makassar, Ketua Partai Demokrat Sulsel, juga berseteru dengan pihak keluarga Nurdin Halid yang memang berasal dan banyak di Makassar.

Nurdin terus keukeh tak mau meninggalkan jabatannya sebagai ketua umum PSSI. Bahkan kitab suci –Statuta- FIFA ditelikung untuk meloloskan dirinya sebagai calon tunggal. Persyaratan "tidak sedang dan atau pernah menjadi narapidana" disitir menjadi "tidak sedang menjadi narapidana". Nurdin Halid terjebak dalam labirin kekuasaan bergelimang uang. Mahkota bola sepertinya seperti syair yang dilantun Pasha-Ungu. Terlalu indah untuk dilupakan.

Rezim

Cerita Nurdin Halid bukanlah satu-satunya "khazanah manusia super" (rezim) di Indonesia. Ada banyak mozaik gelap yang patut dijadikan pelajaran di negeri ini, tentang jabatan yang menutup nurani manusia. Proklamator RI (tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau) Ir. Soekarno, juga pernah mendeklarasikan diri sebagai Presiden RI seumur hidup. Walau kemudian dikudeta atas nama Supersemar.

Setelahnya, Soeharto yang banyak dipuja puji, juga setali tiga uang. 32 tahun mendirikan dinasti Cendana dengan jaring-jaring gurita kekuasaan hingga ke konglomerat hitam. Menyedot kekayaan negeri ini ke celengan koruptifnya. Melelang Indonesia ke negara asing hingga anak cucu setelahnya menanggung beban, menjadi kuli sepanjang hari. Menjadi babu sepanjang malam. Tergugu bak pengemis dungi ditepi sejarah kepongahan.

Jika di Indonesia cerita hitam dan kusam kekuasaan itu memekakkan nurani, di luar sana. Jauh di tetandusan Jazirah-Afrika, ada banyak rezim serupa. Ben Ali yang zahuq oleh picu seorang pemuda miskin penjual sayur, Mohammed Bouazizi. Setelahnya rezim tiga dekade, Housni Mubarak juga terpental dari singgasana setelah diamuk demonstrasi demokrasi.

Tercecar peluh dan darah oleh desing peluru bayonet atau bahkan muntahan mortir dan roket. Ribuan nyawa melayang. Di kekinian, kita menyaksikan Muammar Khadafi yang telah memberondong warga negaranya sendiri dengan muntahan peluru dan rudal dari tank hingga pesawat tempur. Lebih dari 6000 korban jiwa seolah tak berarti demi mempertahankan kekuasaan.

Amerika Serikat yang datang ke Libya memimpin operasi militer dengan dalih menyelamatkan nyawa rakyat sipil, pun tak jauh dari selimut tendensi kekuasaan. Dunia sudah mahfum, Khadafi adalah penganut sosialisme, anti AS dan kapitalismenya, selain juga kaya raya akan sumber energi.

Di tempat yang tak jauh dari negeri eksportir emas hitam (baca : minyak) itu, sejumlah tiran lainnya juga tak mampu menahan mabuk kuasa. Enggan berpisah dengan tahta. Di Bahrain, Suriah, Arab Saudi, Yaman dan negeri-negeri dimana puluhan anbiya pernah membebaskan manusia dari perbudakan syahwat yang memhakotai singgasana kekuasaan.

Mungkin Nurdin Halid yang frase depan namanya berarti cahaya agama, lupa kisah Fir'aun yang diabadikan Al Qur’an. Pun mereka, para penguasa despotik yang jasad Fir’aun dikekalkan Tuhan di negerinya (Mesir negeri Housni Mubarak). Namun hati terlampau tertutup dunia. Nurani terjebak dalam labirin kekuasaan. Gelap yang pekat, menyelimuti.

Kealpaan dihadapan kemanusiaan memang selalu ringkih dan tersandera oleh kekuasaan. Aromanya sumir dan anyir.
Tembang supuh dalam Serat Chentini telah memuat gambaran kondisi ini berabad silam. Oleh Jayabaya yang seorang futurolog klasik, zaman ini disebut Zaman Kalabendu. Berikut salah satu kutipannya dari buku The Secret For Muslim :

Krep paprangan
Sujana kapontit nurut
Durjana susila dadra andadi
Akeh maling malandang marang ing marga

Peperangan sering terjadi
Durjana semakin menggila
Dan para pencuri melenggang bebas dijalan raya

Papatih nindita, pra nayaka tyas basuki
Panekere becik-becik cakrak-cakrak

Para pemimpin mengaku
Semua berjalan baik dan terencana
Sekedar menutupi berbagai bencana

Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu
Mandar sangking dadra, rubenda angrubedi
Beda-beda hardaning wong sanagara

Inilah tanda zaman Kalabendu
Kian lama, kesulitan semakin menggila
Berbeda-beda tingkahlaku orang senegara
Wallahu’alam

*Penulis adalah Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Analis Society Research And Human Development (SERUM) Institute Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili lembaga. (wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads