Peran Strategis Media Dalam Menyikapi Terorisme

Peran Strategis Media Dalam Menyikapi Terorisme

- detikNews
Rabu, 30 Mar 2011 14:18 WIB
Peran Strategis Media Dalam Menyikapi Terorisme
Jakarta - Lagi-lagi Indonesia dibuat heboh dengan merebaknya kasus terror berupa pengiriman paket bom ke salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 16 Maret 2011. Setelah kasus ini, banyak sekali dampak yang terjadi di masyarakat, salah satunya adalah rasa takut saat menemukan paket atau kiriman yang 'tidak wajar'. Misalnya pada 22 Maret lalu ditemukan paket aneh di Stasiun CIanjur yang disangka bom, nyatanya itu merupakan tumpukan buku. Kemudian masih teringat kasus pengiriman bom palsu pada 21 Maret 2011 ke kepala SMAN 1 Bogor yang nyatanya paket tersebut berisi 5 kotak susu.

Fenomena ini sesungguhnya menunjukkan bahwa rasa takut tersebut berasal dari proses penerimaan dan pengelolaan informasi yang sama secara terus-menerus sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap masyarakat terhadap paket yang tidak normal. Pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik pada dasarnya sudah baik untuk memberikan informasi paling aktual dan terkini dalam penanganan kasus bom. Tetapi terkadang media juga terlalu mem-blow up isu ini sehingga orientasinya hanya berkutat pada taraf pemberian informasi dan persepsi , bukan edukasi dan informasi.

Sebenarnya media dapat menjadi alat yang sangat powerful dalam membantu menangani kasus-kasus terorisme. Pertama, media dapat bertindak sebagai pusat edukasi dan informasi penanganan paket-paket yang mencurigakan. Kedua, media dapat menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan meredam kepanikan warga terhadap kasus-kasus seperti ini. Ketiga, media dapat membentuk mental yang kuat terhadap warga negara dalam menangani kasus terorisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media sebagai pusat edukasi dan informasi penanganan kasus terorisme dinilai penting untuk mencerdaskan warga saat menghadapi kasus serupa. Media di sini dapat bertindak sebagai Contact Person atau menampilkan daftar siapa saja yang dapat dihubungi apabila terdapat kasus teror. Informasi yang diberikan media juga penting untuk dijaga proporsionalitas dan objektivitasnya agar tidak berlebihan. Yang terpenting adalah media memberitahu bagaimana langkah-langkah preventif untuk mencegah tindak teror seperti ini.

Selain itu media juga dapat digunakan untuk meredam kepanikan publik. Ini dapat dilakukan dengan menumbuhkan trust (kepercayaan) terhadap aparat keamanan dalam menghadapi kasus teror bom. Sebagai contoh misalnya media memberitakan prestasi dan tingkat keseriusan aparat dalam membantu warga memberantas kasus terorisme ini. Apabila warga sudah percaya, maka akan terjadi kolaborasi yang strategis antara media, aparat pemerintah, dan juga warga negara.

Terakhir, media sesungguhnya dapat digunakan untuk membentuk kekuatan mental bagi masyarakat. Seperti uraian sebelumnya, apabila asupan berita media memiliki kesan negatif secara terus-menerus maka persepsi dan mental masyarakat pun akan cenderung negatif. Mungkin lebih baik bila media mencoba untuk juga memberikan berita-berita yang positif yang telah dicapai bangsa ini sebagai penyemangat kembali, bahwa sesungguhnya Indonesia adalah bangsa yang resisten dan kuat dalam menghadapi musibah. Indonesia adalah bangsa yang luar biasa.

Terlepas dari bagaimana realita dan kinerja media, harapan besar dan ekspektasi ini tetap terus melekat agar suatu saat nanti media benar-benar objektif dan memiliki orientasi untuk membuat bangsa Indonesia ini lebih baik. Salah satunya adalah bersama masyarakat memerangi dan menyikapi wabah bom di Indonesia.

*Penulis adalah Anggota Badan Pengkajian Isu Strategis Pergerakan Mahasiswa (Brigade04-FTUI), Penerima Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri, Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Arry Rahmawan Destyanto
Komp. LPTI Jl. Vanili no. 19 Ciparigi, Bogor
arry.rahmawan@gmail.com
087887396048

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads