Kedua masalah ini indikator pengelolaan air yang kurang baik. Pembangunan yang berlangsung kurang memperhatikan pelestarian air. Sungai tidak terawat, situ dan danau ditimbun, pohon ditebang, area terbuka berkurang bahkan kontur permukaan tanah dirubah.
Oleh karena itu, di musim panas kita kekurangan air. Sedangkan di musim hujan kita kebanjiran air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Today.co.id tanggal 17 Maret 2011 melaporkan bahwa "DKI Siapkan Kebutuhan Air Minum Hingga 2022". Namun pengadaan air bersih yang dimaksud masih mengandalkan sumber air Jatiluhur. Bahkan Pemprov DKI berencana menyelesaikan pembangunan pabrik air bersih Jatiluhur sekitar tahun 2014 atau 2015.
Untuk saat ini, mungkin pastas Jakarta mengandalkan air Jatiluhur karena urgent. Namun untuk beberapa puluh tahun ke depan perlu dipertimbangkan saat ini pula. Apakah pengambilan air Jatiluhur tidak menjadi masalah kota-kota di sekitar Jatiluhur seperti Purwakarta, Cikampek hingga Bekasi?
Bila kota-kota tersebut sudah berkembang maka kebutuhan airnya pun akan meningkat. Apakah akan mencukupi bila nantinya Jatiluhur diandalkan beberapa kota termasuk Jakarta? Saat ini saja, kapasitas Jatiluhur sudah bermasalah.
Satu hal yang harus diluruskan, Jatiluhur bukanlah fenomena air banyak atau berlimpah. Tapi sebenarnya hanya air berkumpul. Banyaknya air ditentukan oleh curah hujan. Sedangkan curah hujan di Jatiluhur dengan Bogor-Jakarta relatif sama.
Jika kita terlalu mengandalkan jati luhur saat ini, kita akan lalai ketika Jatiluhur sudah tidak memadai lagi. Sedangkan pembangunan di Jakarta sudah terlampau jauh.
Warga Jakarta harus berbesar hati menerima bahwa Jatiluhur untuk Bekasi dan Purwakarta masa depan. Ini pantas kita lakukan, sebagai balasan kepada warga Purwakarta yang selama ini sudah berbesar hati memberikan kita air dan listrik.
Saran
Penyelesaian masalah air ini perlu dilihat mulai dari suplai hingga pemakaian.
Pertama adalah tata ruang. Sumber air suatu daerah adalah hulu atau punggungnya. Bogor berada pada punggung pulau Jawa dan menjadi hulu bagi Jakarta. Oleh karena itu, sumber air Jakarta adalah Bogor bukan Jatiluhur. Jika bukan untuk keperluan Jakarta maka Bogor tetap akan mengirimnya namun dalam bentuk lain, yaitu banjir.
Penataan wilayah dari hulu ke hilir seharusnya saling melengkapi baik secara potensi geografis maupun ekonomi. Bogor dan sekitarnya seharusnya jadi pelengkap Jakarta bukan menjadi "saingan" ekonomi maupun air.
Ketika musim panas berebut air. Ketika musim hujan, banyaknya perkerasan di Bogor hingga Jakarta menyebabkan banjir. Area pengembangan Jakarta sebaiknya diutamakan secara horizontal, yaitu ke tangerang dan bekasi. Bukan vertikal ke arah Depok hingga Bogor.
Kedua adalah mengurangi tingkat kehilangan air. Air jika sudah sampai laut sulit untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu optimalkan air sebelum sampai laut. Memang, upaya pemanfaatan sungai dan danau akan sulit jika kualitasnya buruk. Upaya penyadaran masyarakat menjaga kualitas sumber-sumber air tidak bisa dibebankan oleh pemerintah saja, tapi kita semua.
Upaya lain mengurangi kehilangan air adalah mencegah selama mungkin air sampai ke laut. Caranya dengan diresapkan ke dalam tanah atau ditampung. Oleh karena itu, kita harus segera mengembalikan fungsi lahan terbuka, penghijauan, danau-danau, situ-situ dan daerah aliran sungai. Termasuk pula persawahan dan rawa-rawa yang sangat efektif menahan dan menyerap air.
Ketiga adalah mengurangi pemakaian air. Kepadatan penduduk harus disesuaikan dengan ketersediaan suplai air. Jumlah penduduk Jakarta-Bogor, perlu bersinergi dengan regenerasi air (curah hujan) rata-rata tahunan dan tingkat kehilangan air. Apabila tingkat kehilangan air bisa ditekan, maka Jakarta-Bogor dapat menampung lebih banyak penduduk.
Selain jumlah penduduk, kesadaran masyarakat dan teknologi dapat menunjang penghematan. Begitupun dengan upaya-upaya pengelolaan air bekas ( recycle) perlu digiatkan.
Saya yakin, Pemprov DKI sudah mengetahui saran-saran saya diatas, bahkan lebih. Sekarang tinggal bagaimana DKI lebih berani berbuat termasuk "menuntut bantuan" ke Bogor. Jika Jatiluhur yang jauh dari Jakarta saja telah banyak membantu, masa "tetangga dekat" tidak bersedia. Terlebih tetangga yang harus "membuang air" melalui tanahnya.
*) Penulis adalah staf Analisis dan Optimasi Energi BPPT, mantan konsultan mekanikal & elektrikal bangunan
Yasmin
Puri Husada Agung Blok C9/37
Gunung Sindur Bogor
yasmin8080@yahoo.com
085215498047
(wwn/wwn)











































