RTRW dan Kemacetan

RTRW dan Kemacetan

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2011 16:50 WIB
RTRW dan Kemacetan
Jakarta - Perpanjangan waktu pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta tahun 2010-2030 adalah langkah bijak. Sebagaimana diberitakan detikNews hari Senin tanggal 21 Maret 2011 yang berjudul "Sibuk Urusi Flyover Casablanca, Pengesahan Raperda RTRW Terancam Batal".

Beberap alasan perpanjangan ini adalah perlunya masukan lebih dari masyarakat yang memang kurang sosialisasi. Terlebih adanya masalah pembangunan flyover Casablanka yang berdampak langsung kepada masyarakat menjadi penarik perhatian tentang Raperda RTRW ini.

Tata ruang dan transportasi memang menjadi masalah urgent bagi Jakarta. Berbagai masalah seperti macet, banjir, permukiman, energi, lingkungan hingga dampak sosial dan kecelakaan terkait dengan tata ruang dan transportasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi perekonomian, tata ruang merupakan anatominya sedangkan transportasi adalah darahnya. Tata ruang yang tidak teratur dan transportasi yang sakit menyebabkan ekonomi sakit pula.

Jakarta tidaklah untuk 10-20 tahun saja namun ratusan bahkan ribuan tahun atau lebih. Jika hari ini saja kota kita seperti ini, maka bagaimana yang akan dialami anak cucu kita nanti.

Masalah

Masalah langsung yang dirasakan masyarakat sehari-hari adalah tempat tinggal yang jauh dari lokasi kerja, kualitas transportasi umum yang buruk dan kemacetan. Masalah ini menimbulkan masalah-masalah lanjutan lainnya.

Semua masalah ini akhirnya menganggu perekonomian baik produktivitas yang menurun, kebutuhan yang meningkat, kerugian bencana hingga pemerataan pembangunan. Masalah ini menurunkan pula kualitas kehidupan sosial karena menyita waktu dan perhatian untuk keluarga dan sekitarnya.

Akibat kemacetan dan perjalanan jauh badan lelah, pikiran stress, waktu terlambat bahkan absen kerja apabila sakit. Inilah yang menurunkan produktivitas. Di sisi lain kebutuhan malah meningkat. Seperti kebutuhan BBM, kendaraan pribadi dan perawatannya, permukiman yang sulit dan mahal hingga biaya kesehatan dan penghilang stress.

Sebenarnya pemerintah pusat maupun daerah sudah berusaha banyak. Melalui kebijakan dan peraturan, pemerintah menekankan pada dua hal, meningkatkan volume jalan dan membatasi jumlah kendaraan.

Namun peningkatan volume jalan pasti ada batasnya. Terlebih dengan sistem sentralistik, kesenjangan beban jalan terhadap kapasitasnya makin besar, terutama di pusat.

Walaupun telah dilakukan upaya pembatasan jumlah kendaraan melalui penambahan transportasi massal, kenaikan pajak kendaraan, pengurangan subsidi BBM dan lainnya. Tetap tidak dapat berbuat banyak.

Analisis

Transportasi umum yang ditawarkan belum bisa diandalkan. Dari sisi kenyamanan, mayoritas masyarakat masih bisa mentolerir. Namun dari sisi waktu adalah harga mati.

Sedangkan transportasi umum sulit diprediksi. Sering angkot/bis 'ngetem' mencari penumpang atau jalannya sangat lambat. Terutama diluar jam sibuk ibarat punguk merindukan rembulan. Pada jam sibuk masyarakat dihadapkan masalah lain, berjubel seperti sarden dalam kaleng.

Terlepas dari baik buruknya transportasi, akses ke jalan raya jadi masalah tersendiri. Banyak permukiman yang jauh ke dalam dari jalan raya.

Tidak efektifnya upaya yang telah dilakukan karena masih bersifat spontanitas dan parsial. Penanganan lebih berdasarkan masalah yang muncul dan tidak melihat sumber masalah dan aspek-aspek lain.

Ibarat penyakit, pengobatan hanya pada gejalanya saja bukan sumber penyakitnya. Sehingga transportasi dan tata ruang malah diarahkan pembangunan bukan mengarahkan pembangunan. Inilah yang menyebabkan kesenjangan pembangunan bukan pemerataan.

Sudah saatnya transportasi dan RTRW sebagai darah dan anatomi perekonomian direncanakan secara integral terhadap aspek lain. Selain itu kita harus merubah cara pandang bahwa transportasi dan RTRW ini adalah investasi bukan bisnis.

Perekonomian yang sehat itulah hasil investasinya. Saat ini transportasi dan tata ruang lebih ditentukan oleh kepentingan bisnis. Salah satunya seperti dijelaskan pada tulisan Bapak Agus Pambagio pada detikNews senin tanggal 21 Maret 2011 yang berjudul "Atasi Kemacetan Bukan Berburu Proyek Jalan".

Solusi

Solusi utama dan sumber permasalahan transportasi dan lainnya justru pada tata ruang. Tata ruang yang baik adalah sistem grid dan blok. Masing-masing blok adalah blok terpadu/campuran yang terdiri dari permukiman, bisnis dan fasilitas umum.

Sehingga mayoritas aktivitas rutin harian masyarakat hanya berada dalam blok tersebut. Hanya sebagian kecil terutama pekerja transportasi yang aktivitasnya diluar bloknya. Bila sulit dilaksanakan, paling tidak aktivitas berkisar di blok-blok tetangganya.

Dengan sistem grid dan blok terpadu, mayoritas masalah transportasi hilang dengan sendirinya. Kebutuhan dan beban transportasi serta jarak tempuh akan berkurang banyak. Akses transportasi menjadi lebih dekat. Perekonomian tidak bersifat sentralistik sehingga mendukung pemerataan ekonomi secar pasif namun sangat efektif.

Dengan sistem grid pula pemerataan jalur dan sarana transportasi beserta pengaturannya jadi lebih mudah. Sisanya adalah menyediaan sistem transportasi yang terencana, merata dan dipandang sebagai investasi perekonomian kota. Namun bukan untuk aktivitas rutin harian mayoritas masyarakat.

Penutup

Memang, perubahan yang harus dilakukan akan drastis. Namun itulah yang kita perlukan. Seperti yang saya sebutkan diawal, Jakarta tidaklah untuk 10-20 tahun saja namun ratusan bahkan ribuan tahun atau lebih.

Jika hari ini saja kota kita seperti ini, maka bagaimana yang akan dialami anak cucu kita nanti. Semakin terlambat, justru semakin sulit kita memperbaikinya. Namun drastis bukan berarti sporadis dan tiba-tiba.

Perbaikan ini dapat dilakukan bertahap sehingga tidak terasa berat bagi banyak pihak. Setiap bangunan memiliki umur sendiri. Itulah yang bisa kita manfaatkan.

Serta tidak kalah penting, perbaikan jakarta tidak bisa lepas dari daerah sekitarnya. Jangan demi kepentingan politis, mengejar prestasi atau rapor kemajuan ekonomi harus mengorbankan kota ini dan penduduknya.

Jika sementara harus dihentikan, maka hentikanlah. Jika harus digeser keluar dahulu, maka geserlah. Mundur selangkah untuk maju beberapa langkah itulah yang harus dilakukan Jakarta.

Jika Bapak Hery Winarno mengatakan "Atasi Macet DKI Butuh Pemimpin Keras, Nekat dan 'Sedikit Gila'” pada detikNews hari Rabu tanggal 16 Maret 2011, maka saya tambahkan kriteria lainnya, tahu arah.

*) Yasmin adalah staf Analisis dan Optimasi Energi BPPT, mantan konsultan mekanikal & elektrikal bangunan

Yasmin
Puri Husada Agung Blok C9/37 Gunung Sindur Bogor
yasmin8080@yahoo.com
085215498047


(wwn/wwn)


Berita Terkait