Memadamkan Api di Rumah Sendiri

Kisruh Internal PKS

Memadamkan Api di Rumah Sendiri

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2011 13:46 WIB
Memadamkan Api di Rumah Sendiri
Jakarta - Selama bulan Maret ini, PKS diterpa dua masalah tak sedap yang menguji honesty (kejujuran) dan soliditas internal.

Pertama, terkait masalah impor daging sapi yang diberitakan oleh Majalah Tempo edisi 14-20 Maret 2011, Tempo Interaktif tertanggal 14 Maret 2011 dan Koran Tempo tertanggal 14 Maret 2011 yang melibatkan tokoh senior PKS yang juga aktif di salah satu lembaga zakat swasta di tingkat nasional.

Kedua, aib internal yang diblow up oleh hamper semua media massa baik cetak maupun elektronik via Yusuf Supendi yang tak lain adalah mantan pendiri Partai Keadilan yang bermetamarfosis menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk kasus pertama sudah disikapi secara lugas dan jelas oleh lembaga zakat bersangkutan dengan mengeluarkan surat bantahan dalam konferensi pers (14/3) di lembaga tersebut. Sedangkan masalah kedua, hingga hari ini masih terus bergulir dan semakin membesar karena sudah memasuki ranah hokum dengan laporan yang diserahkan oleh Yusuf Supendi (21/3).

Tembakan dari Peluru Sendiri

Selama hampir sepuluh tahun, partai anak muda ini bisa dibilang sukses mencitrakan diri sebagai partai bersih. Setidaknya, dari sudut pandang luar pagar rumah besar PKS. Beberapa kalangan yang memang sejak awal anti dengan metamorfosis aktivis kampus era 80-an ini, begitu sulit mencari sasaran tembak.

Semua celah seperti sudah tertutup rapat. Tidak heran jika beberapa media massa yang memang dikenal anti Islam selalu gagal menembak partai ini dari jarak dekat, apalagi jauh.

Begitu pun dengan kesolidan kader, mulai dari tingkat pucuk hingga pongkol. Ketika semua partai di negeri ini mengalami perpecahan dan saling menjatuhkan, PKS-lah yang relatif tidak kena gojang-ganjing itu. Berbagai isu tak sedap yang sempat tercium publik yang berasal dari sepak terjang pejabat yang berasal dari PKS selalu saja hilang karena atmosfir organisasi yang melingkupi partai begitu tertutup rapat.

Siapa sangka, celah-celah yang semula tertutup rapat itu justru kini dibuka lebar-lebar oleh salah seorang tokoh internal PKS sendiri. Dan tidak tanggung-tanggung, tokoh inilah yang begitu banyak menguasai ’borok’ elit PKS yang selalu tabu untuk dibicarakan, apalagi diusut.

Seorang tokoh senior PKS Abu Ridha pun pernah berkomentar, seperti yang diucapkan Yusuf Supendi. Menurut Abu Ridha, Yusuf itu seperti perutnya PKS. Kalau ia muntah, keluarlah semua isi perut PKS.

Dari sini terlihat, penyikapan PKS seperti mengalami kekikukan. Hal itu karena apa yang diungkapkan Yusuf Supendi sangat internal dan juga begitu pribadi. Jangankan publik, internal sendiri pun tidak banyak yang tahu aib yang akhirnya diumbar Yusuf ke publik tentang elit PKS.

Kotak Pandora

Apa yang diungkapkan Yusuf Supendi kepada publik buat sebagian kalangan mungkin sulit dimengerti. Bagaimana mungkin mantan salah seorang petinggi di partai yang identik dengan akhlak Islam itu akhirnya membeberkan kasus yang justru sangat bertentangan dengan nilai akhlak Islam itu sendiri.

Walaupun, secara sekilas Yusuf menyatakan bahwa apa yang ia sampaikan sebagai salah satu bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, atau upaya untuk meluruskan petinggi PKS kepada jalan Islam. Persoalannya, apa yang disampaikan Yusuf sangat menusuk jantung pertahanan PKS. Kalau tuduhan itu hanya di sekitar kader pengurus bawah atau anggota legislatif, mungkin bisa diluruskan dan bisa dianggap sebagai sebuah kekhilafan. Tapi, akan lain soal jika itu tertuju pada pimpinan tertinggi dan sosok yang dipahami kader sebagai ideolog PKS seperti Hilmi Aminuddin, Anis Matta, dan Luthfi Hassan Ishak.

Para kader dan orang-orang yang bersimpati dengan PKS selama ini sudah memahami bahwa orang-orang yang disebut Yusuf di atas adalah sebagai ustadz atau guru. Kalau pun akhirnya pernyataan Yusuf ini salah, dan itu butuh waktu, isu ini tentu sangat berpengaruh di kalangan internal dan orang-orang yang bersimpati dengan PKS.
Dengan kata lain, PKS harus menjawab pernyataan salah seorang tokoh mantan pendirinya sendiri dengan sikap terbuka. Kalau perlu masuk ke meja hijau untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jangan sampai, publik akhirnya mempunyai kesimpulan sendiri-sendiri.

Memadamkan Api

Yang harus dipahami elit PKS dan Yusuf Supendi sendiri bahwa PKS bukan lagi partai kalangan tertentu saja. PKS sudah menjadi milik publik dan semua orang Indonesia. Setidaknya pernah ada harapan yang mereka pikulkan di pundak PKS untuk kemaslahatan bangsa.

Sejatinya, karena ini sudah merebak menjadi konsumsi publik, penyelesaian jalur hukum sebaiknya menjadi pilihan. Terlebih lagi konflik ini berlangsung di halaman sebuah organisasi Islam, penyelesaian yang arif harus segera dilakukan. Tidak pantas lagi saling 'tembak' tuduhan terus dilancarkan. Karena itu akan menjadi blunder buat PKS sendiri.

"Selama ini ikhwah yang marah pada antum dan ingin merespon secara hukum kami tahan. Antum sudah melangkah terlalu jauh! kalau boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah, khawatir ada yang tidak dapat menahan diri, sebelum pendulum yang baik tiba menghindar adalah pilihan antum yang terbaik. Baiknya jangan coba-coba pasang badan menghadang karena antum sendirian, pendulumnya adalah institusi besar dengan ratusan pendukung bermata gelap!"

Isi SMS Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq di atas, bagaimana pun rasanya kurang lah elok. Bagaimana mungkin seorang presiden most educated partai politik memilih menggunakan cara seperti itu dalam berkomunikasi? Juga tensi tinggi yang disuratkan oleh pengurus teras PKS seperti Mahfud Siddik.

Sikap mantan presiden PKS, Tifatul Sembiring, agaknya lebih pas dengan mengatakan "Sebenarnya hal ini kan dapat dibicarakan di internal saja, secara kekeluargaan, tidak perlu dibawa keluar. Istilah saya kalau baju kotor jangan dicuci di rumah tetangga. Ini kan dapat menimbulkan praduga-praduga dan citra negatif terhadap PKS dan dakwah itu sendiri" (detik.com, 18/3).

Penulis menyerankan empat hal agar api yang tengah membara di rumah PKS bisa dipadamkan. Pertama, turunkanlah tensi masing-masing. Tanyakan kepada hati nurani terdalam, apa sesungguhnya yang diinginkan dari kekisruhan ini? Hati nurani itu tidak pernah berbohong dan selalu mendireksi kepada kebajikan. Itulah sebabnya Muhammad SAW menegaskan istafti qalbak (Tanya hati nuranimu) saat mengalami kekisruhan.

Kedua, kembalilah ke rumah PKS yang sejuk dan menyejukkan itu. Lalu berbicaralah dari hati ke hati. Bukankah selama ini semua kader PKS diajarkan untuk samahatu shadr (berlapang dada) dan sifat-sifat mahmudah lainnya saat ada perbedaan? Kini saatnya para pemimpin tertinggi PKS melaksanakan apa yang telah diinternalisasikan baik kepada kader, juga masyarakat Indonesia bahkan dunia. Sebab, jika ujian ini tidak dapat dilalui dengan baik, maka ancaman demoralisasi akan menjadi kenyataan yang berdampak negative untuk masa-masa berikutnya.

Ketiga, jangan lupakan kebajikan sesama. Para pihak yang berseberangan saat ini tentu sudah berinteraksi lebih dari 20an tahun. Dan, tentunya amat sangat banyak kebaikan, kebajikan mau pun kelebihan masing-masing dibandingkan dengan kealfaan atau kesalahan. Jangan sampai kemarahan membuat kita tidak berlaku adil dan melupakan jasa sesame.

Keempat, maafkanlah. Bukahlah sebuah kehinaan saat memaafkan kesalahan orang lain. Tentu para pimpinan PKS dan Yusuf Supendi ingat dengan ungkapan alfadhlu lilmubtadi. Bahwa kemuliaan itu untuk orang yang pertama melakukan sebuah kebajikan. Bukankah tujuan utama pendirian partai ini adalah untuk menggapai anugerahNya tertinggi (surga yang hakiki) disana nanti?

*Penulis adalah peminat kajian SOSEKPOLAG, berdomisili di Banda Aceh sejak hari ketiga pasca tsunami 26/12/2004.

Sumber Tulisan
Eramuslim.com, 15, 18 & 21 Maret 2011
Detik.com, 17-21 Maret 2011

Ahmad Arif
Jl. Keuchik Zam-Zam, Lr. 2, Gampong Lampoh Daya, Jaya Baru, Banda Aceh
banta_lw2@yahoo.com
081360295521


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads