Ketika Tokoh berkata "Bunuh"

Ketika Tokoh berkata "Bunuh"

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2011 10:43 WIB
Ketika Tokoh berkata Bunuh
Jakarta - Beberapa waktu lalu (Senin/21/03/11), salah satu tokoh nasional bangsa ini, Permadi mantan politisi PDI Perjuangan yang sekarang bergabung di Gerindra ikut dalam aksi mimbar bebas disalah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Berdasarkan informasi media Permadi mengajak mahasiswa dan rakyat negeri ini untuk melakukan revolusi dan menggulingkan pemerintahan SBY-Budiono. Dan parahnya lagi adalah Permadi mengajak rakyat negeri ini untuk membunuh orang-orang yang mengsengsarakan rakyat Indonesia.

Inilah yang menjadi menarik, tokoh nasional sekaliber Permadi menganjurkan melakukan tindak pidana pembunuhan bagi setiap orang yang terindikasi melakukan tindakan "memiskinkan rakyat". Permadi mungkin punya maksud lain menggunakan kata "Bunuh" dalam orasinya. Namun apa pun maksud yang terselip disitu kalimat itu tetaplah tak elok untuk di ucapkan di mimbar sebebas apa pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayang, penulis bukan ahli hukum sehingga tidak tahu persis apakah ucapan ini bisa dijerat kasus pidana oleh karena menganjurkan pembunuhan atau bagaimana entahlah. Penulis hanya coba menelaah dari sisi lain, tentang bagaimana mungkin seorang tokoh nasional menyarankan β€œmembunuh” orang lain ditengah-tengah kedangkalan berpikir masyarakat dewasa ini.

Ingat kasus Ahmadiyah? Usut-punya usut konflik Ahmadiyah yang terjadi selama ini salah satunya di picu oleh kepatuhan terhadap pimpinannya. Ketika golongan tertentu telah mencap golongan lain salah dan menginjak-injak harkat dan martabat komunitas lain maka tak jarang pengikutnya gelap mata yang muaranya adalah penganiayaan yang berujung kematian. Bila himbauan melakukan kekerasan disebarkan oleh orang-orang yang notabene pendidikannya minim mungkin masih dibisa dimaklumi.

Karena keterbatasan itu telah membatasi pula kemampuannya untuk memahami sesuatu. Namun akan lain ceritanya bila seruan melakukan kekerasan disampaikan oleh sosok tokoh, wakil rakyat, pimpinan organisasi, alim ulama dan lain sebagainya. Ketokohan itu akan menjadi alasan pembenaran bahwa seruan melakukan kekerasan itu legal adanya.

Kesal adalah hal yang lumrah dialami oleh siapa saja pun di dunia ini. Dan cara menyalurkan kekesalan itu menjadikan individu berbeda dengan individu lainnya. Mengamuk, marah, mencaci maki, mengumpat, memfitnah akan menjadi wajar bila hal tersebut diutarakan oleh orang yang (maaf) minim pendidikannya.

Namun, bila individu dimaksud menyandang gelar tokoh, panutan, ucapannya dianggap benar, maka setinggi apa pun pendidikannya dan sepanjang apa pun gelarnya, cara-cara tak elok seperti tersebut diatas akan mencederai keintelektualan dan ketokohannya. Maka jika ditanya apa beda orang yang tidak berpendidikan dengan para tokoh dalam menyalurkan kekesalannya dalam konteks cerita kita diatas? Penulis akan menjawab "sama saja" bahkan para tokoh itu jauh lebih terhina.
Di negara ini, kebebasan yang kebablasan itu telah menjadi duri bagi sebahagian orang dan menjadi senyum bagi sebahagian yang lain.

Yang lucu adalah sekelompok orang mengatakan orang lain tak elok padahal untuk mengungkapkan itu kelompok dimaksud melakukan cara-cara yang tak elok pula. Lalu apa beda yang dikritik dengan yang mengkritik? Bila keduanya berlagak seperti Robin Hood yang selalu berbuat kebajikan tapi dengan cara yang tak bijak maka ibarat membersihkan baju kotor dengan air kotor maka yang ada adalah kekotoran yang berkepanjangan.

Ada satu kisah, sekelompok masyarakat berdemo menuntut rajanya turun dari tahtanya karena dinilai djolim terhadap rakyat. Ditengah jalan mereka bertemu dengan ulama kharismatik dan menyampaikan niat mereka. Sang ulama berkata, pulanglah, bersihkan diri kalian dulu, sempurnakan ibadah dan dekatkan diri pada tuhan, dengan begitu tuhan sendiri yang akan menjaga kalian dari penguasa-penguasa yang djolim. Nasehat itu rupanya berkenan dihati rakyat yang hadir saat itu. Dan tak lama setelah itu raja djolim itu pun tumbang dengan sendirinya oleh kemelut dikeluarganya sendiri dan berganti dengan rezin yang lebih baik lagi.

Kenapa penulis menyampaikan kisah ini? Maksudnya tiada lain adalah setiap orang yang menyandang predikat tokoh, ulama, pemimpin, tauladan, sesepuh atau apa pun itu namanya sejatinya harus menjadi penyejuk bagi siapa pun. Setiap kata yang mereka (baca: tokoh) ucapkan harus menjadi obat bagi yang mendengarnya.

Setiap perintah yang mereka anjurkan harus menjadi belaian kepatuhan bagi yang menjalankannya dan setiap nasehat yang ia sampaikan harus menjadi obat kesabaran bagi mereka yang mengalaminya. Fir’aun sekali pun yang menjadikan dirinya sebagai tuhan tidak turun oleh kekuatan rakyatnya, namun turun oleh keyakinan rakyatnya terhadap tuhan bahwa sampai kapan pun kebenaran akan selalu menang.

Perlu dicatat, bangsa ini tidak butuh tokoh, pemimpin dan agamawan yang mau mendengar setiap celotehan orang perorang. Namun bangsa ini butuh orang-orang yang bijaksana dalam mendengar dan bijaksana dalam berucap. Semoga*

*penulis adalah presiden Mahasiswa Ikopin-Bandung dan ketua umum PB Gerakan Mahasiswa Sibolga-Indonesia (Germasi)

Samsul Pasaribu
Jl. Raya Jatinangor Km.20,5 Gg. Plamboyan No. 13 Kab. Sumedang
syamsulpasaribu@yahoo.co.id
081370677022


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads