Tiran versus Tiran

Tiran versus Tiran

- detikNews
Senin, 21 Mar 2011 17:30 WIB
Tiran versus Tiran
Jakarta - Media massa dalam dan luar negeri hari ini menjadikan berita intervensi Barat terhadap Libya sebagai headline. Pemberitaan umumnya mengupas bahasan tentang aspek humanitarian sebagai alasan pembenar dalam sebuah intervensi militer Barat di Libya.

Intervensi kemanusiaan Barat di Libya adalah tindak lanjut dari Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) nomor 1973, yang isinya menerapkan zona larangan terbang di seluruh Libya. Dalam melakukan intervensi kemanusiaan tersebut, pasukan koalisi Barat yang dipimpin AS, Inggris dan Perancis telah melancarkan serangan melalui udara dan laut kawasan Tripoli, Libya, pada Minggu 20 Maret 2011. Tujuannya jelas, membebaskan rakyat dari kekuasaan tiran Qadafi di Libya.

Tidak kalah dengan Barat, Qadafi pun melakukan perlawanan. Qadafi mencap intervensi Barat ilegal dan bertentangan dengan kehendak seluruh rakyat Libya. Bahkan Qadafi juga menilai intervensi Barat sebagai intervensi para tiran yang menyerupai Hitler (Jerman) dan Mussolini (Italia). Dalam pidatonya, Qadafi mengatakan bahwa rakyatnya sedang mempersiapkan perang berkepanjangan dan akan mengusir Barat dari tanah Libya. Rencananya Qadafi akan membuka gudang senjata bagi rakyatnya. Tidak kurang dari satu juta senjata akan didistribusikan kepada rakyat untuk berperang melawan Barat dan para pemberontak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menariknya adalah kata ”tiran” disini digunakan untuk melabel masing-masing kubu. Barat menggunakan kata "tiran" untuk melabel Qadafi, sementara Qadafi menggunakan kata "tiran" untuk melabel Barat. Ini adalah strategi kedua kubu untuk mengatakan bahwa mereka adalah pelindung bagi rakyat Libya.

Dalam sebuah intervensi militer demi kemanusiaan, biasanya alasan pembenar yang dapat dilakukan oleh pihak yang melakukan intervensi adalah melindungi rakyat dari kekejaman pemerintahannya. Sementara itu, pihak negara yang di intervensi menganggap intervensi sebagai pelanggar kedaulatan atau penjajah sehingga negara berhak untuk memobilisasi rakyat untuk berperang melawan para pelanggar kedaulatan.

Jika mengacu pada term intervensi Barat, maka intervensi dapat diartikan sebagai misi kemanusiaan. Targetnya jelas yaitu para tiran yang kejam terhadap rakyatnya. Barat melalui PBB akan melakukan tindakan apapun baik berupa sanksi ekonomi ataupun militer untuk mencegah terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sekilas misi kemanusiaan Barat tampak terlihat humanis dan moralis. Tapi jika diteliti lebih jauh, intervensi tersebut tidak sepenuhnya humanis. Agendanya tetaplah politis. Dalam sejarah tercatat, bahwa apa yang dinamakan misi kemanusiaan (intervensi) oleh Barat terhadap penguasa tiran itu ternyata lebih terlihat nuansa politisnya ketimbang aspek kemanusiannya.

Sebagai contoh, intervensi militer Barat dalam menyelamatkan Kuwait dari aneksasi Irak lebih bertujuan untuk menyelamatkan minyak Kuwait (sebagai pemasok minyak Barat) ketimbang menyelamatkan rakyat Kuwait. Begitupula dalam perang Irak tahun 2003, meskipun George W. Bush mengklaim perang tersebut sebagai perang untuk memusnahkan senjata pemusnah masal Irak dan membebaskan rakyat Irak dari tiran Saddam Husein, akan tetapi tujuan perang tersebut tetaplah politis, yakni mendapatkan akses minyak seluas-luasnya bagi Amerika Serikat.

Jika memang intervensi tersebut benar sebagai misi kemanusiaan, maka Barat seharusnya tidak melakukan tebang-pilih dalam melakukan intervensi. Masih segar dalam ingatan kita, konflik bernuansa SARA di Burundi, antara suku Hutu dan suku Tutsi, yang mamakan korban lebih dari 50.000 warga, seharusnya tidak perlu terjadi jika Barat bertindak cepat untuk melakukan intervensi militer di nagara kecil Afrika Tengah tersebut. Alasannya tentu sederhana, mengapa Barat tidak melakukan intervensi militer di Burundi adalah karena negara tersebut miskin sumber daya alam dan secara strategis tidak menguntungkan.

Lain lagi dengan kasus Libya. Kasus ini mirip dengan Irak yang kaya akan minyak Ketika Qadafi di Libya bertindak secara brutal terhadap rakyatnya dalam melawan arus revolusi, yang memakan korban tidak kurang dari 2.000 nyawa, Barat langsung bereaksi. Di bawah kepemimpinan Amerika, Barat melakukan intervensi terhadap Libya dengan melakukan serangan udara secara membabi buta. Tercatat 48 orang tewas dan 150 terluka akibat serangan tersebut.

Bandingkan lambannya Barat melakukan intervensi dalam konflik etnis di Burundi (yang miskin sumber daya alam) dan memakan korban lebih dari 50.000 jiwa dengan gejolak politik di Libya yang hanya memakan korban 2.000 jiwa, Barat justru bertindak cepat dengan tindakan intervensi militernya.

Untuk itu dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan Barat dengan intervensinya di Libya bukanlah sebuah misi kemanusiaan, tetapi misi kepentingan politis terhadap akses minyak di Libya. Begitupula dengan Qadafi, tindakannya yang brutal terhadap rakyat Libya juga tidak dapat dibenarkan. Kehendak rakyat Libya yang menginginkannya mundur seharusnya di sikapi secara bijak dengan melepas jabatannya seperti apa yg telah dilakukan Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mubarak di Mesir.

Saya berkesimpulan, bahwa apa yang kita saksikan dalam pemberitaan media massa hari ini adalah sebuah pertikaian antara "Tiran Versus Tiran" (Barat dengan Qadafi). Karena keduanya, baik Barat maupun Qadafi, telah mengorbankan rakyat Libya untuk kepentingan mereka: Barat yang ingin mengambil minyak di Libya dan Qadafi dalam mempertahankan kekuasaannya di Libya.

*Penulis adalah analis media sosial di LSI Network dan penulis buku Global Warming.

Asrudin
Jl. Kerinci Raya No.3, RT.02 RW.26 Depok II Timur Jawa Barat
d_asrudian@yahoo.co.id
08567757574


(wwn/wwn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads