Berbagai spekulasi mencuat menyoal paket bom kreatif yang dialamatkan ke penggiat Jaringan Islam Liberal dan ketua DPP Partai Demokrat tersebut. Dari motif politik seperti yang dikatakan Ulil sebagai political assasination, hingga motif agama serta kospirasi untuk pengalihan issue.
Dugaan-dugaan itu, oleh sejumlah pengamat, tokoh dan masyarakat awam sekalipun, membiak liar lewat media. Apatah lagi dihari yang sama (15/3) masih ada dua paket bom kreatif lain yang ditemukan di dua tempat berbeda. Yaitu di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Cawang, Jakarta Timur yang ditujukan kepada Kalakhar BNN yang juga mantan Komandan Densus 88, Gories Mere. Pada malam harinya,bom juga 'tiba' di rumah Ketua Pemuda Pancasila, Japto S. Surjosoemarno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari tanggal pengiriman, bom yang dipaketkan dengan buku "Yahudi Militan" itu, sebenarnya bersamaan dengan βBom Ulilβ, hanya saja urung dibuka karena kesibukan di kantor Republik Cinta Manajemen, tempat dimana Dani berkantor, sekaligus menjadi alamat tujuan paket bom kreatif.
Tak sampai disitu kisah bom kreatif di negeri yang masyarakatnya akrab dengan bom sejak memasuki abad 21 ini. Bahkan cerita yang lebih menegangkan, lucu, sekaligus menggelikan terjadi pada Jumβat (18/3). Dalam sehari, setidaknya ada delapan paket yang dicurigai bom kreatif.
Diantaranya, paket buku dan Compact Disc (CD) di Jalan Kencana Permai VII - Pondok Indah, paket sepatu dan cokelat di Jalan Condet Raya, paket kardus berlapis plastik hitam di Perumahan Kota Wisata Bogor, paket di Jalan Mendawai - Jakarta Selatan, benda mencurigakan di Jalan Lontar β Lenteng Agung, paket di Kantor Radio 68 H βtempat βBom Ulilβ meledak, paket yang ditujukan ke Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di Gedung DPR, dan terakhir paket di rumah aktivis HAM sekaligus Ketua Setara Institute, Hendraradi.
Dari delapan paket yang tersebar disejumlah tempat tersebut, tidak semua terbukti berisi bom. Yang membuat paket-paket tersebut "menjadi bom" ada dua hal, yaitu profesionalisme aparat dan komentar beberapa tokoh termasuk Presiden.
Pertama, aparat. Dengan peralatan "konvensional" tanpa memeriksa secara teliti, misalnya melalui pemindai, aparat dengan tergopoh-gopoh mengatakan bahwa paket tersebut berisi bom, kemudian diledakkan. Setelah hancur, baru ketahuan bahwa ternyata isinya bukan bom. Dengan nama spesial βGegana, anti teror, densus 88 dan lain sebagainya-, seharusnya cara-cara mereka tidak lagi kalsik nan konvensional.
Sepenuhnya kita tidak ingin menyalahkan aparat dengan peralatan sederhananya. Bahwa di sisi lain mungkin keterbatasan alat canggih yang mampu mendeteksi sebuah benda berisi bom tersebut, disebabkan oleh dana yang minim. Bukan sekedar detektor logam yang ketika bertemu logam akan memberi tanda dan serta merta disimpulkan bom. Kerentanan Indoensia dengan ancaman bom, butuh lebih dari itu.
Di negeri yang sudah lebih satu dekade dan sepanjang tahunnya selalu dihiasi cerita bom ini, seyogyanya anggaran aparat βkhususnya yang menangani teror, anggarannya ditambah. Menaikkan anggaran berarti menambah kapasitas dan skill, sehingga aparat kita tidak mudah dengan polosnya mengatakan ini bom, itu bom, di sana bom, di situ bom. Hingga pada akhirnya kecurigaan berlebihan antiteror itulah yang mengebom dan meneror keamanan masyarakat.
Antisipatif tentu kita support, tapi satu hal bahwa antisipatif itu beririsan tipis dengan paranoid. Jika antisipatifnya berlebihan -atau antisipatif lebay dalam istilah kekinian, maka yang terjadi malah paranoid. Dan efeknya disintegritas pada aparat. Masyarakat bisa hilang kepercayaan, aparat dijustifikasi tidak profesional misalnya. Bila masyarakat tidak percaya dan yakin lagi pada ketepatan deteksi aparat, pada akhirnya jika benar-benar ada bom, masyarakat jadi korban. Ini efek jangka panjang.
Kedua, yaitu tentang komentar pemimpin negara dan tokoh nasional kita. Misalnya statement Presiden SBY saat sidang kabinet di Kantor Kepresidenan (17/3) yan lalu, "kalau nggak suka saya, jangan korbankan rakyat". Dari perspektif komunikasi politik, komentar tersebut menyiratkan pesan jika benar-benar ada yang memerangi SBY dengan cara-cara mengorbankan kemanan.
Komentar spekulatif ini akan mengundang riuh ketakutan di masyarakat. Bahwa panglima kemanan tertinggi telah menjustifikasi -akan adanya orang atau kelompok yang ingin mengorbakan rakyat- sebelum fakta di lapangan terungkap. Mungkin saja SBY berkomentar karena tulus untuk menjaga kemanan rakyat. Tapi bisa juga SBY maju pasang badan, memanfaatkan momentum untuk pencitraan, bahasa polosnya "ini lho saya siap menjadi tameng, jangan sakiti rakyat saya".
Pada dasarnya, paket bom kreatif yang bertebaran tersebut tidak menimbulkan gejolak sosial yang masif, kecuali pada simpul-simpul tertentu yang merasa diperangi atau memiliki lawan. Namun liar dan tak terkontrolnya komentar-komentar dari pemimpin dan sejumlah tokoh negeri yang mengisi ruang publik, pada akhirnya kontra produktif dengan upaya menjaga keamanan, ketenangan dan stabilitas sosial yang dilakukan jajaran kepolisian.
Paradigma yang dibangun intelejen adalah senyap dan cepat. Tak banyak bicara namun gesit menelisik fakta. Apa lacur, semua luruh karena dipolitisir. Mengeruk ditengah kemarau. Mengeruhkan air yang telah keruh, belakangan ada yang mengeluh karena tak ada fakta,hanya agin lalu.
Entah benar adanya kelompok yang menebar teror bom kreatif tersebut, atau rekayasa semata seperti diungkap beberapa pengamat. Bahwa sel-sel teroris yang dulu sering menebar ancamana telah musnah setelah Densus dan yang semadzhab, menembak dan menangkap tak kurang dari 400 orang. Dari yang terbukti hingga yang sebatas dicurigai. Karena yang mampu mencipta jaringan bom serapi dan sesistemik itu, hanya kelompok terorganisir. Jangan sampai intel dijustifikasi atau bahkan dilegitimasi menebar teror tersebut. Naudzubillah.
Tapi yang jelas bahwa, kini masyarakat ketakutan dan dijangkiti paranoid para pejabat. Jika dulu pada musim "bom hijau" (baca: gas elpiji) meledak, masyarakat ramai-ramai menolak konversi gas elpiji. Bahkan di Bogor ada warga di satu kampung, melakukan seremoni membuang elpiji mereka ke sungai.
Ketakutan paket bom kreatif terus merebak tanpa penanganan dan respon yang tepat, lama-kelamaan, apa yang dilakukan warga di kampung tersebut, juga diikuti kini. Masyarakat ramai-ramai menolak paket kiriman karena ketakutan. Suspect paranoid.
Menarik apa yang dikatakan oleh Aeschylus. Mengutip dari The Secret For Muslimnya Herry Nurdi, dramawan Yunani kuno tersebut pernah menuliskan "The reward of suffering is experience". Penghargaan terindah yang dianugrahkan oleh musibah (penderitaan) adalah pengalaman. Dalam kata lain, pelajaran.
Aeschylus yang hidup pada 525 sebelum masehi dan terkenal dengan julukan "father of traghedy" itu, tahu arti belajar dari pengalaman. Lantas mengapa kita yang hidup di zaman serba modern ini, tidak mau belajar dari Aeschylus yang hidup di masa "peradaban kuno" itu? Bukankah sejak awal dekade tahun 2000 bangsa ini "dihujani" bom di berbagai sudut negeri. Atau justru Aeschylus lebih beradab dari orang-orang masa kini? Mari menjawab dengan laku yang utama. Sebagai rakyat, apatah lagi sebagai pemimpin (baca : teladan), Wallahu'alam
*Penulis adalah Humas Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar dan Analis Society Research And Humanity Developmnet (SERUM) Institute
Jusman Dalle
Jl. urip Sumoharjo Km. 05 No. 7 d Makassar
jusmandalle@rocketmail.com
085299430323
(wwn/wwn)











































