Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hadir mewakili Indonesia dan menyampaikan pidato khusus (special address) di forum tersebut. Ini merupakan kali pertama presiden Indonesia diundang hadir di Forum Ekonomi Dunia. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, kehadiran Indonesia di Forum Ekonomi Dunia kali ini tidak terlepas dari status Indonesia sebagai ketua Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) tahun 2011 dan tuan rumah Pertemuan Asia Timur 2011.
Secara tidak langsung khadiran Indonesia di Forum Ekonomi Dunia merupakan wujud dari pengakuan dunia terhadap kedudukan dan peran strategis Indonesia di dalam tatanan perekonomian global. Karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi Indonesia untuk dapat memaksimalkan posisi tersebut sebagai pintu masuk untuk secara lebih aktif mengutarakan pandangan-pandangan alternatif di luar dominasi negara-negara besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta dari sensus penduduk tahun 2000. Dari perspektif ekonomi fakta ini tentu menggambarkan bahwa Indonesia merupakan pasar besar dan potensial bagi negara-negara lain.
Kedua, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang cenderung lengkap ketimbang negara-negara ASEAN lain. Sejumlah komoditas utama di sektor pertanian dan pertambangan yang dikonsumsi negara-negara ASEAN berasal dari Indonesia.
Ketiga, Indonesia memiliki pengalaman penting dan berharga dalam menghadapi berbagai tantangan dan kendala, terutama saat diterpa krisis moneter pada kurun waktu 1997-1998. Pengalaman pahit ini telah menjadikan Indonesia jauh lebih matang dan siap dalam mengarungi lautan ekonomi global.
Keempat, keanggotaan Indonesia di berbagai forum kerjasama ekonomi global, terutama G20. G20 adalah forum resmi kerja sama ekonomi global pengganti Kelompok 8 (G8). Forum ini dibentuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dunia dengan memperkokoh fondasi keuangan internasional. G20 merupakan reperesentasi produk domestik bruto (PDB) dua per tiga penduduk dunia. Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang tergabung di dalam G20.
Kelima, pertumbumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu positif dalam beberapa tahun terakhir sebagai buah keberhasilan mengelola ekonomi makro. Komite Ekonomi Nasional meyakini laju ekonomi Indonesia tahun 2011 akan jauh lebih cepat. Dengan kebijakan ekonomi yang tepat, perekonomian Indonesia tahun 2011 diyakini akan mampu tumbuh mencapai 6,4 persen. Tingkat konsumsi, investasi, dan ekspor akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara serentak.
Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini cukup diperhitungkan dunia internasional. Bersama China dan India, Indonesia merupakan negara yang memiliki pertumbuhan positif di saat krisis melanda ekonomi global selama rentang waktu 2008-2009.
Sulit dimungkiri bahwa selama ini kepentingan negara-negara berkembang, tidak terkecuali di kawasan Asia Tenggara, seringkali tersingkirkan akibat ketiadaan sosok negara pemimpinan yang kuat. Posisi Indonesia sebagai pemimpin ASEAN tahun 2011 sudah seharusnya harus dapat difungsikan secara maksimal untuk mengatasi masalah itu. Indonesia harus lebih berani menyuarkan kepentingan negara-negara ASEAN di setiap pertemuan ekonomi global, tidak terkecuali Forum Ekonomi Dunia.
Sebagai pemimpin ASEAN, Indonesia harus mampu menjalin relasi secara intens dengan para pemimpin tinggi negara-negara maju dan para pemimpin lembaga-lembaga keuangan internasional. Kemampuan dalam menjalin relasi inilah yang akan menguatkan posisi strategis Indonesia sebagai pemimpin ASEAN yang mumpuni dan legitimate.
Hal lain yang tidak kalah penting untuk diwujudkan adalah melakukan kapitalisasi terhadap kedudukan dan peran strategis di dalam tatanan perekonomian global bagi perbaikan taraf hidup bangsa Indonesia, terutama untuk mengarahkan sumber daya global bagi kepentingan ekonomi masyarakat luas secara lebih optimal.
Jika hal itu dapat diwujudkan, maka bukan tidak mungkin kelak Indonesia akan mampu menjadi negara besar dengan pertumbuhan ekonomi mencapai dua digit sehingga mimpi untuk masuk ke dalam kelompok negara berkembang dan berpengaruh dalam perekonomian global (Brazil, Rusia, India, dan China/BRIC) dapat tercapai.
Wacana memasukkan Indonesia dalam BRIC pertama kali diungkapkan Goldman Sachs pada tahun 2008. Goldman Sachs membuat daftar sejumlah negara seperti Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Turki, dan Vietnam dalam rangka mencari anggota BRIC baru. Kriteria yang digunakan adalah negara dengan stabilitas ekonomi makro, kematangan politik, keterbukaan perdagangan dan kebijakan investasi, dan kualitas pendidikan.
Di samping itu, kelayakan Indonesia masuk ke dalam kelompok BRIC juga didasarkan pada penilaian bahwa Indonesia memiliki sejumlah karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan Brazil, Rusia, India, dan China. Karakteristik-karalteristik itu antara lain negara berkembang dengan luas wilayah lebih dari tiga juta kilometer persegi dan populasi penduduk di atas 100 juta orang serta memiliki potensi ekonomi tinggi, terutama dari segi sumber daya alam.
Penulis adalah Peneliti The Habibie Center
Bawono Kumoro
Jalan Raden Saleh I Nomor 59, Sukmajaya, Depok
bowo_kumoro@yahoo.com
085217427707
(wwn/wwn)











































