Sehari sebelumnya (10/02) Husni berusaha memberikan janji baru pemerintahannya tentang sebuah komitmen perubahan di negeri berpenduduk 81 juta jiwa itu, namun rakyat Mesir nampaknya sudah tidak percaya lagi dengan presidennya yang telah mengendalikan Mesir setelah tewasnya Anwar al-Sadat 30 tahun silam.
Dalam hubungannya dengan dinamisasi sosial, ada beberapa hal menarik yang dapat kita jadikan pelajaran dari peristiwa demokrasi di negerinya Cleopatra dan berdirinya pyramid yang sangat terkenal itu. Antara lain:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boleh dikatakan bahwa masyarakat dunia yang lebih berpengaruh saat ini adalah masyarakat online. Hal itu lebih diperkuat lagi dengan kecepatan pemberitaan media audio visual. Kecenderungan manusia online lebih dinamis dibanding manusia offline. Sedangkan upaya dalam melakukan internalisasi dan ekternalisasi kegiatannyapun, manusia online jauh lebih efektif dibanding manusia offline. Itu pula yang membuat betapa mencengangkannya bagi dunia bahwa begitu banyak kesuksesan gerakan-gerakan dengan memanfaatkan jejaring sosial yang merambat kemana-mana. Hal itu telah dibuktikan Obama sejak menjadi sebagai senator sampai menduduki kursi nomor satu di Amerika Serikat.
Kedua, Rakyat Mesir yang bergerak diwakili oleh penduduk Cairo (tidak lebih dari 10 % dari penduduk Mesir) berhasil mengangkat issue penting dunia yang disebut dengan reformasi hak azasi dan demokrasi. Para demonstran menuntut mundurnya presiden yang dianggap tidak peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan: Mementingkan kesejahteraan diri sendiri; Tidak menerima perbedaan pendapat dan selalu melemahkan serta berupaya melenyapkan oposisi.
Pergerakan yang dilakukan di alun-alun Tahrir Square di kota Cairo β kota termasyur yang ditemukan tahun 969 ini, selain adanya beberpa kepentingan dunia di mesir, otomatis mendapat perhatian dunia dan menjadi sorotan seluruh media selama 3 pekan. Alhasil banyak pemimpin dunia bahkan presiden AS serta sekjen PBB meminta agar Husni Mubarak memperhatikan keinginan rakyatnya untuk pengunduran dirinya.
Walaupun tidak sama persis dengan latar belakang kejadian demonstrasi mahasiswa di Indonesia yang berhasil menggulingkan presiden Soeharto yang dikenal sebagai bapak pembangunan itu, namun kepemimpinan yang terlalu lama memang cenderung menciptakan status quo pemerintahan yang berimplikasi kepada gersangnya perubahan yang dilakukan kepada rakyat banyak. Dan lebih berbahayanya lagi, sangat dimungkinkan terjadi jaringan kenyamanan pemerintah berkuasa yang terlanjur berakar ke semua lini. Alhasil akan mudahlah terjadi kediktatoran dan kesewenang-wenangan pimpinan tertinggi.
Apapun namanya perjuangan mereka, namun Rakyat Mesir telah berhasil membuka mata dunia bahwa saat ini adalah era kepemimpinan berdasarkan kemauan rakyat. Dan bagi pemimpin yang tidak peka terhadap keinginan rakyatnya tentunya harus siap-siap untuk lengser dari haegomoninya atau jika tidak harus berhadapan dengan kuatnya oposisi yang selalu bergabung dengan mayoritas rakyat yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan dalam sebuah era tertentu.
Selain itu, peminpin yang secara mayoritas dipilih oleh rakyatnya pada awalnya, maka dalam perjalanannya harus membuktikan kapabilitas kepemimpinannya. Sebab rakyat semakin cerdas disebabkan semakin mudah mengakses informasi yang bermanfaat maka dengan mudah pula mengawasi kinerja pemimpin β pemimpin yang telah dipilihnya dan tidak segan-segan pula mengkritisi pemimpin dengan berbagai cara yang semakin terbuka.
Sisi lain yang perlu dijadikan pelajaran adalah bahwa sangat disayangkan segala kenyamanan dan kekuasaan selama 30 tahun akhirnya menjadi sebuah kebanggaan yang tak berarti bagi banyak orang pada akhirnya. Hal itu masih baik dibanding sebuah upaya rakyatnya yang mungkin untuk menuntut hal-hal yang lebih ekstim seperti penarikan kekayaan dari pemimpinnya yang dianggap korup selama masa kepemimpinannya.
Saat ini semakin nyata bahwa kepemimpinan itu adalah ujian. Ketika kepemimpinan itu menyejahterakan rakyat banyak, maka pemimpn akan merasakan kenikmatan di masa-masa purna baktinya, namun ketika kepemimpinan itu dijadikan sebuah kesempatan untuk menarik manfaat pribadi, maka pengadilan rakyat-pun tidak akan terhindarkan olehnya.
Demo Tahrir Square yang menghasilkan pengunduruan diri Husni Mubarak, lebih dari sebuah suksesi pemerintahan, namun sebuah kerinduan akan perubahan.
Orang bijak berkata, "Keberhasilan kepemimpinanmu dilihat bukan dari apa yang engkau dapatkan namun dari warisan terbaik yang engkau tinggalkan."
Lintong Simaremare
Penulis buku Bread for Friends juga Pengamat nilai-nilai sosial kemanusiaan.
Jl Rejosari IV no. 5 Semarang
lintongs@gmail.com
02474088887
(wwn/wwn)











































