Revolusi Tanpa Alat Komunikasi

Revolusi Tanpa Alat Komunikasi

- detikNews
Minggu, 06 Feb 2011 16:44 WIB
Revolusi Tanpa Alat Komunikasi
Jakarta - Aksi ribuan sampai sejuta rakyat Mesir untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Husni Mubarak berjalan tanpa komunikasi via saluran elektrik. Pasalnya pemerintah Mesir memerintahkan seluruh operator telepon seluler mematikan layanan mereka selama demonstrasi berlangsung.

Kementerian Informasi Mesir mengatakan seluruh jaringan ponsel di Mesir akan dimatikan beberapa jam saat aksi massal sejuta orang di Kairo berlangsung. Komunikasi via eletrik yang dibungkam oleh pemerintah Husni Mubarak tidak hanya telepon seluler, tetapi juga twitter, facebook, dan internet juga diblokir. Noor Group, salah satu penyedia layanan internet terbesar di negara itu, sementara waktu selama demontrasi berlangsung menghentikan layanan.

Akibat dari pemblokiran jasa layanan komunikasi via elektrik tersebut tentu mempengaruhi komunikasi antar rakyat Mesir dalam mengatur aksi massa. Meski demikian, entah menggunakan jasa layanan komunikasi via eletrik yang curi-curi atau menggunakan komunikasi cara 'Tarzan', semua hal itu tidak bisa mencegah sejuta rakyat turun ke jalan untuk menggulingkan Husni Mubarak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukti dari tidak berpengaruhnya pemblokiran komunikasi via eletrik itu adalah pada 1 Februari 2011, menurut sebuah agen berita, puluhan ribu orang berkumpul di lapangan Tahrir. Mereka dikoordinir kelompok β€œGerakan 6 April” ini bertekad menggulingkan Mubarak, yang mereka anggap telah mengabaikan kebutuhan rakyat miskin dan membiarkan korupsi merajalela selama lebih dari 30 tahun kepemimpinannya.

Komunikasi via elektrik merupakan media yang sangat ditakutkan oleh banyak penguasa sebagai media untuk menggalang massa. Apa yang terjadi di Mesir, sebenarnya juga pernah terjadi di Iran. Pemerintah Iran, menjelang Pemilu 2009, melarang penggunaan facebook. Diberitakan pemerintahan Mahmood Ahmadinejad memblokir facebook. Tujuannya pemblokiran ini, menurut lawan-lawan politik, agar Ahmadinejad bisa memenangi kembali pemilu.

Padahal komunikasi via elektrik, baik telpon seluler maupun facebook merupakan taktik untuk memobilisasi kaum muda di Iran. Meski demikian, pemblokiran itu tidak menjadi masalah sebab metode tarzan dan komunikasi dari mulut ke mulut dilakukan dan para demonstran yang menentang Ahmadinejad bisa hadir beramai-ramai di tempat-tempat pertemuan di seluruh Tehran.

Pemerintah negara itu melakukan pemblokiran sebab kaum oposisi dengan cermat menggunakan facebook untuk berkampanye. Tentu saja apa yang dilakukan itu memancing kemarahan dari pihak oposisi. Salah satu mullah terkenal di negeri itu yang sekaligus menjadi tim sukses Mehdi Karroubi, Mohammad Ali Abtahi, menuturkan pemerintah ingin mencegah diskusi bebas soal pemilu.

Sebagai jejaring sosial facebook memang terbukti sebagai media komunikasi yang efektif. Dengan media seperti itu selain facebooker mampu menambah teman dan mengkomunikasikan segalam macam hal, ia juga mampu menemukan temannya kembali yang sudah sekian puluhan tahun tidak pernah berjumpa. Dengan Facebook itulah segala macam pesan dikemas dan disebarkan tanpa batas.

Keefektifan Facebook itulah yang juga digunakan Barack Obama untuk memenangi US Election 08. Bahkan pria yang pernah sekolah di Menteng, Jakarta, Indonesia, itu tidak hanya menggunakan facebook untuk menjaring pendukungnya. Jejaring sosial maya semacam myspace, linkedin, youtube, friendster, dan twitter pun juga digunakan.

Dengan menggunakan jejaring sosial itu, Obama secara tahap pertahap mampu memenangi berbagai putaran pemilu. Pertama, saat konvensi Partai Demokrat, senator dari Illinois itu mengalahkan Hillary Clinton. Kemudian pada saat US Election 08, ia mampu menumbangkan John McCain dari Partai Republik.

Dengan menggunakan jejaring sosial itu, Obama melakukan gerakan sekali merengkuh dayung, satu-dua pulau terlampau, artinya, selain ia mampu mengembangkan jaringan pendukungnya, dirinya juga mampu mengumpulkan dana dari jejaring sosial itu. Meski disumbang 5 dollar perorang, namun jumlah yang menyumbang sampai jutaan orang.

Sementara Hillary masih menggunakan pola-pola lama dalam berkampanye, termasuk dalam mencari dana. Hillary lupa bahwa dirinya hidup di suatu negara di mana tingkat penggunaan teknologi informasi demikian pesatnya. Diibaratkan dalam sebuah situs, Hillary masih menggunakan AOL,Obama sudah memanfaatkan jejaring sosial Facebook. Hillary masih PC, Obama sudah sebuah Mac.

Bagaimana di Indonesia?

Dibanding dengan negara-negara di kawasan Asia, sebenarnya Indonesia dalam menggunakan jejaring sosial masih kalah. Data pada tahun 2002 menyebut pertumbuhan pengguna internet di Singapura tercatat 115%, Malaysia 90%, Cina 1.600%, dan India (4.500%) tahun lalu. Sementara berdasarkan data ITU, pada tahun 2006, pengguna internet negara-negara ASEAN, rata-rata densitasnya, adalah sekitar 10,15 pengguna internet per 100 penduduk.

Dalam grafik terlihat Malaysia dan Singapura memiliki densitas yang jauh di atas negara-negara ASEAN lainnya, dengan densitas 43,77 dan 43,35 pengguna internet per 100 penduduknya. Densitas pengguna internet di Indonesia sendiri masih di bawah rata-rata ASEAN. Dengan angka densitas sebesar 7,18 pengguna internet (data 2005) per 100 penduduk, penetrasi internet di Indonesia berada pada urutan ke enam dari sepuluh negara anggota ASEAN, dan masih jauh berada di bawah Vietnam dengan densitas 17,21 pengguna internet per 100 penduduknya.

Diakhir 2008, dari data di situs, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta pengguna. Tetapi angka itu masih relatif kecil karena baru 13% penduduk Indonesia menikmati fasilitas internet, angka ini masih jauh dari penetrasi netter dunia yang mencapai 23.5% atau 17.2% di Asia. Persentase netter Indonesia (13%) masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga di Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan China. Malaysia 62.8%, Filipina 14.6%, Thailand 20.5%, Vietnam 24.2%, China 22.4%, Korea Selatan 76.1%, dan Jepang 73.1%.

Meski dilihat dari jumlah pengguna internet dan facebook di Indonesia masih belum memasyarakat betul. Namun gerakan demokratisasi Indonesia lebih maju dibanding dengan beberapa negara di Asia lainnya. Jatuhnya Soeharto bisa terjadi meski komunikasi via elektrik masih belum memasyarakat seperti saat ini. Saat itu pemilik telepon seluler masih satu, dua, orang. Sedang facebook dan twitter belum muncul. Komunikasi yang dilakukan bisa dilakukan dengan cara-cara lama, yakni dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

Ardi Winangun
Matraman, Jakarta Timur
ardi_ winangun@yahoo.com
08159052503


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads