Kritik dan teriakan rakyat Mesir tak mampu menggoyahkan ambisi dan kehausan akan kekuasaan pemimpin bertangan besi itu. Usia yang terbilang sudah renta pun bahkan tak menghalangi niatnya untuk tetap bertahan sampai batas waktu masa pemerintahannya, september mendatang. Lebih dari itu, Ia bersikukuh untuk tetap berada di Mesir, rahim yang membesarkannya meskipun rakyat menginginkan agar ia segera turun takhta dan meninggalkan Mesir.
Siapa sangka, pidato Mubarak yang disiarkan melalui media televisi mampu menyatukan semua warga Mesir yang merasa kepentingannya tidak terwakili dan yang seolah-olah merasa muak karena lamanya Mubarak berkuasa. Kecaman mulai mengalir pacsapidato yang disampaikan oleh Mubarak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok oposisi Mesir tentunya sangat menyadari betul kuatnya peran media dalam mengumpulkan simpati rakyat sehingga sebelum Mubarak melayangkan perintah untuk memutuskan jaringan komunikasi, kelompok oposisi dengan cepat menyebarkan virus perlawanan terhadap Mubarak. Mungkin pula kelompok oposisi telah berkaca dari pengalaman yang pernah terjadi di negara-negara lain terkait dengan sangat berpengaruhnya kekuatan media bakhan dalam hal politik sekalipun.
Kekuatan massa yang tergalang dan bertumpuknya ribuan massa di Tahrir Square menunjukkan betapa antusiasnya warga negara menuntut regenerasi pemerintahan yang diwarnai dengan praktik non-demokrasi. Rakyat seakan merasa membutuhkan pemimpin baru yang mampu memperbaiki sistem yang sudah terlanjur membeku karena pemerintahan di bawah pimpinan rezim Mubarak selama hampir 32 tahun.
Benar-benar menjemukan berada di bawah satu pemimpin yang sama dalam kurun waktu yang tidak singkat itu. Apalagi di tengah krisis pangan dan meningkatnya hanga pangan, pemerintah belum berhasil menemukan solusi yang baik. Inilah yang dikatakan oleh Prof Nouriel Roubini dari Universitas New York menjadi salah satu penyebab kerusuhan yang terjadi di Mesir.
Tekananan-tekanan mungkin saja akan terus mengalir dari rakyat Mesir, kelompok oposisi maupun dunia internasional. Namun, siapa yang tahu sampai kapan Mubarak akan mempertahankan keegoisan dan kebutaan serta kegilaanya terhadap kekuasaan. Tak ada yang tahu apakah ia akan terus bertahan hingga september nanti ataukah memilih untuk mengikuti apa yang beberapa hari belakangan ini diteriakkan secara keras oleh rakyatnya.
Jika ia memilih untuk "melanggengkan" kekuasaannya maka jelaslah bahwa ia mempertaruhkan keamanan negaranya dan semakin membawa diri pada jarak terjauh dengan rakyatnya. Korban dari pihak pro dan kontra tentunya akan semakin bertambah dan gejolak politik negaranya mungkin saja tak akan pernah berkesudahan.
Kamelia W. Krista Jedo, mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta Angkatan 2009
Kamelia W. K. Jedo
Jl. Babarsari TB XI/13, Yogyakarta
memyjedo@yahoo.com
081237996978
(wwn/wwn)











































