Ketika Mubarak Bak Patung Besi

Ketika Mubarak Bak Patung Besi

- detikNews
Jumat, 04 Feb 2011 07:41 WIB
Ketika Mubarak Bak Patung Besi
Yogyakarta - Mesir masih terombang-ambing. Situasi politik dan gejolak yang semakin hari semakin memanas sama sekali tak menampakkan adanya titik terang yang sekiranya bisa menenangkan. Bagaimana tidak, Mubarak bak patung besi yang sulit dipindahkan bahkan digeser sekalipun.

Kritik dan teriakan rakyat Mesir tak mampu menggoyahkan ambisi dan kehausan akan kekuasaan pemimpin bertangan besi itu. Usia yang terbilang sudah renta pun bahkan tak menghalangi niatnya untuk tetap bertahan sampai batas waktu masa pemerintahannya, september mendatang. Lebih dari itu, Ia bersikukuh untuk tetap berada di Mesir, rahim yang membesarkannya meskipun rakyat menginginkan agar ia segera turun takhta dan meninggalkan Mesir.

Siapa sangka, pidato Mubarak yang disiarkan melalui media televisi mampu menyatukan semua warga Mesir yang merasa kepentingannya tidak terwakili dan yang seolah-olah merasa muak karena lamanya Mubarak berkuasa. Kecaman mulai mengalir pacsapidato yang disampaikan oleh Mubarak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelompok oposisi jelas tidak hanya akan menanggapinya dengan sekadar meneriakkan turunnya Mubarak. Mereka justru berhasil menggalang ribuan rakyat Mesir melalui media internet sebelum Mubarak memerintahkan untuk memutuskan jaringan komunikasi. Suatu strategi yang tak bisa dipandang sebelah mata karena melalui tindakan itulah kelompok oposisi mendapatkan dukungan dari ribuan rakyat untuk bersama-sama "menggulingkan" rezim yang sejak lama berkuasa. Tahrir Square menjadi saksi perjalanan panjang sejarah pemerintahan Mubarak yang diharapkan akan segera berakhir.

Kelompok oposisi Mesir tentunya sangat menyadari betul kuatnya peran media dalam mengumpulkan simpati rakyat sehingga sebelum Mubarak melayangkan perintah untuk memutuskan jaringan komunikasi, kelompok oposisi dengan cepat menyebarkan virus perlawanan terhadap Mubarak. Mungkin pula kelompok oposisi telah berkaca dari pengalaman yang pernah terjadi di negara-negara lain terkait dengan sangat berpengaruhnya kekuatan media bakhan dalam hal politik sekalipun.

Kekuatan massa yang tergalang dan bertumpuknya ribuan massa di Tahrir Square menunjukkan betapa antusiasnya warga negara menuntut regenerasi pemerintahan yang diwarnai dengan praktik non-demokrasi. Rakyat seakan merasa membutuhkan pemimpin baru yang mampu memperbaiki sistem yang sudah terlanjur membeku karena pemerintahan di bawah pimpinan rezim Mubarak selama hampir 32 tahun.

Benar-benar menjemukan berada di bawah satu pemimpin yang sama dalam kurun waktu yang tidak singkat itu. Apalagi di tengah krisis pangan dan meningkatnya hanga pangan, pemerintah belum berhasil menemukan solusi yang baik. Inilah yang dikatakan oleh Prof Nouriel Roubini dari Universitas New York menjadi salah satu penyebab kerusuhan yang terjadi di Mesir.

Tekananan-tekanan mungkin saja akan terus mengalir dari rakyat Mesir, kelompok oposisi maupun dunia internasional. Namun, siapa yang tahu sampai kapan Mubarak akan mempertahankan keegoisan dan kebutaan serta kegilaanya terhadap kekuasaan. Tak ada yang tahu apakah ia akan terus bertahan hingga september nanti ataukah memilih untuk mengikuti apa yang beberapa hari belakangan ini diteriakkan secara keras oleh rakyatnya.

Jika ia memilih untuk "melanggengkan" kekuasaannya maka jelaslah bahwa ia mempertaruhkan keamanan negaranya dan semakin membawa diri pada jarak terjauh dengan rakyatnya. Korban dari pihak pro dan kontra tentunya akan semakin bertambah dan gejolak politik negaranya mungkin saja tak akan pernah berkesudahan.

Kamelia W. Krista Jedo, mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta Angkatan 2009


Kamelia W. K. Jedo
Jl. Babarsari TB XI/13, Yogyakarta
memyjedo@yahoo.com
081237996978


(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads