Umpan Pendek Bola Politik

Umpan Pendek Bola Politik

- detikNews
Jumat, 21 Jan 2011 16:22 WIB
Umpan Pendek Bola Politik
Jakarta - Terus terang kalau menonton pertandingan sepak bola saya menyukai permainan umpan-umpan pendek yang disuguhkan oleh para pemain sebuah kesebelasan, selain menyuguhkan tontonan yang enak dilihat kita juga bisa melihat bagaimana satu tim kesebelasan memiliki kekompakan dan berjuang bersama-sama dalam satu visi yang sama pula untuk mencapai kemenangan melalui gol-gol yang tercipta.

Meskipun liga AFF Suzuki Cup 2010 telah berakhir, kini kita masih dapat menyaksikan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) walau tak seheboh pertandingan Liga AFF Suzuki Cup tetapi pertandingan demi pertandingan antar club yang mengikuti kompetisi ini memberi hiburan yang mengasyikan dan saya merasa beruntung Menteri Pemuda dan Olahraga memberi solusi yang sempurna bagi perkembangan persepakbolaan di tanah air sehingga persetruan PSSI dan LPI tidak menjadi politisasi bola di Indonesia.

Di tengah asyiknya mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang digelar awal tahun 2011 kinipun perhatian kita tersita oleh umpan-umpan pendek bola politik di tahun 2011. Tontonan ini telah menyita perhatian kita untuk sejenak melupakan harga kebutuhan pokok yang melonjak khususnya harga cabe yang spektakuler dan menembus angka seratus ribu rupiah perkilogram dan krisis pangan yang terus mengancam Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bola Politik

Memasuki awal tahun 2011 bola politik Indonesia pun bergulir liar dan kebanyakan bukan pada arena pertandingan dan kompetisi yang digelar pada waktunya. Salah satu bola politik yang bergulir liar tidak pada waktunya adalah umpan pendek tentang ibu negara Kristiani Herrawati Yudhoyono yang akan dicalonkan menjadi Presiden pada 2014. Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bahkan menyambut umpan pendek itu dengan pernyataan akan siap berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) pada pemilu presiden 2014.

Partai Golongankarya (PG) juga tak ingin ketinggalan menyatakan bahwa Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP PG akan siap bersaiang pada Pemilu Presiden 2014, lalu sebahagian fungsiuonaris PDIP masih ingin mencalonkan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Kalau Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto bahkan jauh-jauh hari telah menyatakan kesiapannya, begitu juga para pendukung Ibu Sri Mulyani siap mendukung Sri Mulyani pada Pilpres 2014. Hanya Jenderal TNI (Purn) Wiranto, SH yang belum menyatakan kesiapnnya danΒ  tentu masih banyak pula tokoh yang lainnya.

Umpan-umpan pendek bola politik yang tak kalah heboh adalah bergulirnya kembali kasus Gayus Holomoan Tambunan dengan paspor palsunya, lalu disusul dengan Century Gate yang kembali mengemuka, bahkan disusul dengan kesiapan beberapa partai politik melalui fraksinya untuk menggunakan hak menyatakan pendapat.

Keputusan Mahkamah Konstitusi yang dianggap mempermudah proses pemakzulan Presiden RI tampaknya bisa dianggap oleh banyak kalangan menjadi umpan-umpan pendek, umpan lambung atau bola-bola panjang bola politik Indonesia.

Disusul pertemuan para tokoh lintas agama yang menandatangani kesepakatan delapan belas butir kebohongan pemerintahan Presiden Yudhoyono menjadi umpan-umpan pendek bola politik, akan tetapi hemat saya ini akan menjadi eksekusi tendangan pinalti dalam permainan bola politik di tanah air.

Mengapa? Para tokoh lintas agama adalah merupakan penjaga moral permaian bola politik kita. Pernyataan para tokoh lintas agama menjadi suatu hukuman tendangan pinalti yang mendebarkan bagi para penonton dan suporter bila itu terjadi. Netralitas para tokoh lintas angama tengah diuji.

Lalu pertanyaannya adalah, mampukah para tokoh lintas agama itu menjadi wasit yang adil bagi pertandingan bola politik demokrasi di Indonesia? Atau justru menjadi pemain utama yang akan melakukan eksekusi tendangan pinalti sebagai hukuman bagi kesebelasan pemerintahan presiden Yudhoyono.

Tapi jujur saja secara pribadi saya menjadi kurang sreg dengan permainan bola politik di awal tahun 2011 ini, selain umpan pendek, bola lambung, bola-bola panjang dan tendangan pinalti yang tampaknya akan terjadi belum memiliki arena permainan yang akan menyuguhkan tontonan yang fairplay, juga lantaran para penonton yang akan menjadi suporter permainan bola politik ini belum siap mendapatkan suguhan tontonan gratis akibat masih disibukkan oleh urusan domestik masing-masing.

Meng-KO di Permainan Sepak Bola

Bila permainan bola politik terpaksa harus digelar tampaknya Presiden Yudhoyono pun masih memiliki satu kesempatan yang berharga untuk melakukan eksekusi tendangan pinalti dengan hak prerogatifnya untuk melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II.

Penonton dan suporter kesebelasan Presiden Yudhoyono pasti berharap agar presiden sebagai kapten kesebelasan dan sekaligus sebagai pelatih kesebelasan segera mengganti para pemain kesebelasannya yang cidera dan yang tidak lagi memiliki semangat yang sama untuk menjaga soliditas dan kekompakan tim dalam memenangkan pertandingan

Tampaknya tidak ada pilihan selain harus melakukan pergantian pemain atau reshuffle para pemainnya ketimbang tim kesebelasannya akan menyebabkan pertikaian diantara para pemainnya sendiri, apalagi pihak lawan tengah menunggu untuk dapat meng-KO kapten kesebelasan bukan pada pertandingan tinju tetapi dalam pertandingan bola politik Indonesia.

Tak lazim memang meng-KO kapten kesebelasan pada pertandingan sepak bola. Sepakbola memiliki waktu permainan yang telah ditentukan, sama halnya dengan kompetisi bola politik, memiliki waktu lima tahun. Tetapi mungkinkah meng-KO atau melakukan pemakzulan atau menghentikan kapten kesebelasan padahal waktu pertandingan masih berlangsung?

Tentu saja itu mungkin terjadi bila kapten kesebelasan tak mampu lagi melanjutkan pertandingan akibat berbagai hal, apalagi bila kekisruhan di arena permainan bola politik merubah permainan sepakbola menjadi arena yang lebih kecil menjadi ring tinju yang saling bernafsu untuk meng-KO lawan tanding.

Kita sebagai rakyat, penonton dan suporter pertandingan bola politik Indonesia yang sekali lagi belum siap menyaksikan pertandingan gratisan yang bukan pada arena permainan sesungguhnya jangan dipancing dan disulut untuk ikut bermain, lantaran umpan-umpan pendek bola politik yang tengah disuguhkan hanya akan menciptakan ring-ring masal bukan lagi pertandingan sepakbola tetapi bisa menjadi arena pertikaian dan perkelahian. Sungguh tontonan yang membosankan umpan pendek bola politik Indonesia.

Wahyu Triono KS
Bhayangkara No. 9A PGS Cimanggis Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com
081219921609


Penulis adalah Direktur CINTA Indonesia (Central Informasi Networking Transformasi dan Aspirasi Indonesia).

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads